- kumpulan cerita yang ku buat karna waktu yang kosong.
- jangan terlalu berharap ceritanya akan sering update.
- kumpulan tokoh dari krakter favorit ku.
- semua tokoh milik sang penulis asli
- doa kan agar cepet dapet ide
- di vote tolong...
Di sudut kota yang ramai, berdiri sebuah kafe bernama Café Poirot. Tempat ini terkenal dengan kopi nikmatnya serta barista yang ramah dan profesional. Salah satu barista terbaiknya adalah Amuro Tooru—seorang pria yang tampak karismatik dengan rambut pirangnya dan gerakan yang selalu cekatan dalam menyajikan pesanan pelanggan.
Di kafe yang sama, bekerja seorang gadis bernama (Name). Ia adalah seorang pegawai baru yang masih belajar memahami ritme kerja yang cepat di kafe ini. Awalnya, ia merasa terbebani karena standar kerja yang tinggi, tetapi Amuro selalu dengan sabar membimbingnya. Meski terkesan serius dan tegas, diam-diam Amuro memiliki sisi perhatian yang jarang ditunjukkan secara langsung.
Suatu hari, saat (Name) sedang membawa sekotak besar bahan baku untuk dapur, tangannya yang berkeringat membuat kardus itu tergelincir dari genggamannya. Ia terkejut, dan sebelum sempat bereaksi, Amuro dengan sigap meraih kotak itu, melindunginya dari kejatuhan barang-barang berat. Tangan mereka bersentuhan, dan untuk sesaat, (Name) bisa merasakan kehangatan serta kekuatan yang ada dalam genggaman pria itu.
“Berhati-hatilah,” kata Amuro dengan nada khawatir. "Jika kesulitan, jangan ragu untuk meminta bantuan."
Wajah (Name) sedikit memerah, merasa malu karena keteledorannya. “Maaf, aku tidak ingin merepotkanmu,” gumamnya.
Amuro menghela napas dan tersenyum tipis. “Tak perlu merasa seperti itu. Di sini kita bekerja sebagai tim.”
Kejadian itu meninggalkan kesan mendalam di hati (Name). Ia menyadari bahwa di balik sikap profesional Amuro, ada seseorang yang sangat peduli dengan orang di sekitarnya. Namun, ada sesuatu yang masih membuatnya penasaran. Ia sering melihat Amuro mengusap pergelangan tangannya seolah ada sesuatu yang mengganggunya.
Beberapa hari kemudian, saat mereka sedang istirahat, (Name) melihat Amuro sedang mengusap tangannya dengan ekspresi sedikit kesakitan. Tanpa berpikir panjang, ia mengambil lip balm dari sakunya dan mengulurkannya kepada Amuro.
"Gunakan ini," katanya dengan nada lembut.
Amuro menatapnya dengan sedikit terkejut. “Ini… lip balm?”
(Name) mengangguk. “Bukan hanya untuk bibir. Bisa juga untuk kulit yang kering atau luka kecil. Aku sering menggunakannya untuk tanganku saat terkena sabun dan air terus-menerus.”
Amuro mengambil lip balm itu dan melihatnya sejenak. Lalu, dengan ekspresi yang jarang terlihat dari dirinya, ia tersenyum lembut. "Terima kasih."
Saat Amuro mengoleskan lip balm ke tangannya, (Name) melihatnya dalam diam. Ia merasa ada sesuatu yang berubah dalam dinamika mereka—sebuah kehangatan yang sebelumnya tersembunyi di balik kesibukan pekerjaan mereka.
Di dunia yang penuh dengan hiruk-pikuk dan kesibukan, perhatian kecil bisa berarti banyak. Dan bagi (Name), momen-momen sederhana seperti ini yang membuatnya semakin menghargai setiap detik yang ia habiskan di Café Poirot bersama Amuro.
Dan mungkin, di antara aroma kopi yang harum dan tumpukan cangkir yang berderet, ada sesuatu yang mulai tumbuh—sesuatu yang lebih hangat dari sekadar secangkir kopi di pagi hari.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.