2. umemiya Hajime

77 6 0
                                        

Awalnya, aku tidak percaya dengan yang namanya kehidupan kedua, atau yang biasa disebut dengan reinkarnasi. Tapi keyakinan itu terpatahkan oleh apa yang kualami sekarang.

Aku terlahir kembali-dengan sosok yang sangat berbeda dari diriku di kehidupan pertama. Hanya namaku saja yang tetap sama.

Andai aku tahu akan diberi kesempatan hidup lagi, aku pasti akan meminta agar semua ingatanku tentang kehidupan sebelumnya dihapus. Bukankah seharusnya begitu? Dilahirkan kembali dengan ingatan yang baru, tanpa bayang-bayang masa lalu. Tapi tidak, aku masih mengingat semuanya. Teman-teman, orang tua, sekolah, pekerjaan, kekasih-bahkan detik-detik kematianku pun masih terpatri jelas di dalam kepalaku.

---

"Kau ingin omurice atau sandwich?"

Suara Kotoha, gadis manis sekaligus pemilik kafe ini, membuyarkan lamunanku.

Ya, di sinilah aku menjalani kehidupanku yang kedua-sebagai seorang gadis berusia enam belas tahun. Tidak jauh berbeda dari kehidupan pertamaku, hanya saja kali ini aku tidak memiliki kekuatan yang dulu kudapat dari energi kutukan. Aku tidak bisa lagi melindungi diriku sendiri... atau orang lain.

Aku tersenyum. "Tentu saja omurice. Hidangan kebanggaan kafe ini, dengan cita rasa khas yang tak tertandingi."

Kotoha mendesah. "Bisakah kau menjawab tanpa pujian berlebihan? Kau terlalu sering memujiku seperti itu, sampai-sampai aku mati rasa."

Aku terkekeh. "Membanggakan seorang teman adalah tugas seorang teman, bukan?"

Kotoha hanya memutar matanya sebelum menatapku dengan malas. Aku tertawa kecil. Dia benar-benar tidak berubah-selalu seperti ini.

Setiap kali melihat Kotoha, aku teringat seseorang dari kehidupan pertamaku. Mereka memiliki postur dan model rambut yang mirip, tetapi sifat mereka sangatlah berbeda. Aku pernah menanyakan kabarnya pada Megumi, orang terakhir yang mengetahui keberadaannya, tapi tidak ada kepastian yang jelas tentang nasibnya. Mengingat masa lalu itu sungguh menyakitkan.

---

Tiba-tiba, gantungan di dekat pintu berbunyi-tanda seseorang masuk.

"Kotoha-chaan! Selamat pagiii!"

Aku tidak perlu melihat siapa orangnya. Dari suaranya saja, aku sudah bisa menebak.

"Selamat pagi. Tumben kau mampir pagi-pagi begini, Umemiya?" Kotoha bertanya santai.

Umemiya-pemilik suara ceria itu-tersenyum lebar. "Kebetulan aku ada urusan yang membuatku melewati tempat ini. Jadi kupikir, sekalian saja aku sarapan di sini."

Kotoha mengangguk paham. "Mau omurice? Biar sekalian kubuatkan dengan pesanan miliknya." Dia melirik ke arahku, yang kebetulan duduk di meja dekat pintu.

Umemiya baru menyadari keberadaanku. "Kupikir tidak ada orang selain Kotoha-chan. Selamat pagi, (Name)-chan!" Dia langsung duduk di kursi di depanku. "Sama seperti (name)-chan saja."

Aku hanya menjawab singkat, "Pagi."

Aku tidak menyukai kehadiran Umemiya, tapi bukan berarti aku membencinya. Alasannya sederhana: dia terlalu mirip dengan seseorang dari masa laluku. Terlalu banyak kesamaan yang membuatku takut.

---

"Bagaimana hari pertamamu sebagai anak SMA yang baru?" tanyanya tiba-tiba.

Aku menatapnya datar. 'Dia bodoh, atau hanya sekadar basa-basi?'

"Aku tidak tahu," jawabku seadanya.

"Kenapa? Apa ada yang membully-mu di sekolah? Atau pelajarannya sulit? Atau ada guru ya-"

Aku langsung mengangkat tangan, membentuk tanda silang di depan wajahnya. "Aku belum tahu karena aku belum berangkat! Hari ini adalah hari pertamanya, bukan kemarin!!" suaraku sedikit meninggi.

"Oh, sokka~" Umemiya terkekeh kecil. "Aku tidak menyadarinya karena lupa hari, hehehe." Dia menggaruk belakang lehernya-yang jelas tidak gatal.

Aku menghela napas.

Sekali lagi, aku tidak membenci Umemiya. Tapi setiap kali dia berbicara, tertawa, atau bahkan marah... yang kulihat bukan dia. Yang kulihat adalah mantan kekasihku-Gojo Satoru.

---

"Jangan membuat keributan! Ini masih pagi, loh," Kotoha menegur sambil menghidangkan makanan kami, lalu ikut duduk di sampingku.

Aku mendengus. "Maaf~ Aku tak bermaksud. Dia yang memulainya." Aku menatap Umemiya sinis, tapi dia sama sekali tidak terlihat bersalah.

Aku mulai melahap omurice dengan lahap, sementara di seberangku, Umemiya dan Kotoha berbincang tentang hal-hal yang tidak terlalu kuperhatikan.

Hari ini mungkin akan berjalan seperti biasanya.

Aku tahu, aku tidak akan pernah terbiasa dengan kehadiran Umemiya yang mengingatkanku pada Satoru. Tapi aku akan berusaha... untuk melihat Umemiya sebagai Umemiya, dan mengenang Satoru sebagai Satoru. Dengan begitu, aku bisa menghargai mereka dengan baik.

Dan mungkin, suatu hari nanti...

Aku bisa benar-benar merelakan masa laluku, dan menerima kehidupanku yang sekarang.

Aku mengambil sesendok omurice lagi dan tersenyum kecil.

Hidangan ini masih terasa sama. Hangat, seperti kenangan yang ingin tetap kujaga-tapi juga seperti kenyataan yang harus kuterima.

Dan mungkin, itu sudah cukup.

-end-

A Star In ProgressCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang