8.Aomine daiki

27 0 0
                                        

Pict:pinterest

※Janji yang Tertunda※

(Name) sudah lama menyimpan perasaan pada tetangganya, Aomine, seorang polisi yang dulunya mantan pemain basket terkenal di sekolahnya. Sejak kecil, (Name) sering melihat Aomine bermain di lapangan dekat rumahnya. Ia kagum pada caranya menggiring bola, lompatan tingginya, dan tentu saja senyumnya yang jarang terlihat tetapi selalu mampu menghangatkan hati.

Sekarang, ia sudah duduk di bangku SMA, dan perasaan itu tidak pernah berubah. Setiap pagi, ia selalu mencari sosok Aomine di jalanan kompleks rumah mereka, berharap bisa menyapanya sebelum lelaki itu berangkat bekerja. Kadang-kadang, ia bertemu dengannya saat pulang sekolah, dan jantungnya selalu berdebar lebih cepat setiap kali melihat seragam polisi yang membalut tubuh tegap pria itu.

Suatu sore, setelah lama mengumpulkan keberanian, (Name) memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya.

"Aomine-san!" panggilnya sambil berlari kecil mendekati lelaki yang sedang bersandar di motornya.

Aomine menoleh dan tersenyum tipis. "Hm? Ada apa, (Name)?"

Wajahnya memerah. Tangannya mengepal erat di depan dada, mencoba menenangkan detak jantungnya yang semakin liar. "Aku... Aku suka padamu! Tolong menikah denganku!"

Aomine terdiam. Sejenak, angin sore berhembus pelan, menggoyangkan dedaunan di sekitar mereka. Ia mengangkat alisnya, tampak sedikit terkejut, lalu tertawa kecil.

"Apa aku baru saja dilamar oleh seorang anak SMA?" tanyanya, mencoba memastikan.

(Name) mengangguk cepat. "Aku serius! Aku sudah menyukaimu sejak lama!"

Aomine menatap gadis itu dengan lembut. Ia menghela napas, lalu berjongkok agar tingginya sejajar dengan (Name).

"Kau masih terlalu muda untuk berpikir tentang pernikahan, (Name)," katanya, suaranya terdengar lembut tapi tegas. "Tapi kalau kau masih merasa seperti ini ketika sudah dewasa, kita bisa membicarakannya lagi."

(Name) menggigit bibir bawahnya. Ia ingin memprotes, tapi melihat tatapan Aomine yang penuh pengertian, ia akhirnya mengangguk pelan.

"Baiklah... Tapi janji ya!" katanya, mengulurkan jari kelingkingnya.

Aomine tersenyum kecil dan mengaitkan jari kelingkingnya dengan milik (Name). "Janji."

---

Lima tahun kemudian...

Hujan turun pelan di sore itu. (Name), yang kini sudah menjadi seorang mahasiswa tingkat akhir, berdiri di halte dekat rumahnya. Sudah lama ia tak bertemu Aomine, yang sekarang semakin sibuk dengan pekerjaannya sebagai polisi.

Saat sedang melamun, tiba-tiba suara motor berhenti di depannya. Ia menoleh, dan jantungnya hampir berhenti berdetak saat melihat Aomine turun dari motornya dengan senyum yang tak banyak berubah sejak dulu.

"Hai," sapanya santai. "Sudah lama tidak bertemu."

(Name) tersenyum gugup. "Iya... Kau kelihatan lebih sibuk akhir-akhir ini."

Aomine mengangguk. "Ya, pekerjaanku memang cukup menyita waktu. Tapi hari ini, aku sengaja pulang lebih cepat."

"Hm? Kenapa?" tanya (Name) bingung.

Aomine menyandarkan tangannya di atas kepala (Name), menatapnya dalam-dalam. "Karena ada seseorang yang membuatku menunggu selama lima tahun."

Mata (Name) membulat. "Apa maksudmu...?"

Aomine tertawa kecil. "Dulu, ada seorang gadis SMA yang melamarku di pinggir jalan. Aku bilang padanya untuk datang lagi ketika sudah dewasa. Sekarang, aku ingin tahu... Apakah perasaannya masih sama?"

Wajah (Name) langsung memerah. "A-aku..."

Aomine tersenyum, lalu mengambil sesuatu dari sakunya-sebuah cincin perak sederhana.

"Aku tidak suka membuat seseorang menunggu terlalu lama," katanya pelan. "Jadi... Bagaimana? Mau mencoba bersamaku?"

Mata (Name) mulai berkaca-kaca. Ia mengangguk cepat, tanpa ragu. "Tentu saja!"

Aomine tersenyum lega, lalu dengan hati-hati menyematkan cincin itu di jari manisnya. Hujan masih turun, tapi di hati mereka berdua, ada kehangatan yang tak tergantikan.

Janji yang dulu tertunda, akhirnya terpenuhi.

-end-

A Star In ProgressCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang