Pict:@mangaxword
Hujan turun pelan di malam kota yang sepi. Di depan sebuah toko roti kecil yang masih terang, seorang pria berjas panjang berdiri diam, memandang ke dalam dengan tatapan tajam. Dia adalah Nagumo, seorang pembunuh bayaran yang hidup dalam bayang-bayang. Tapi malam ini,kedatangannya bukan tentang pekerjaan.
Di dalam, seorang wanita dengan celemek terikat rapi di punggungnya sedang merapikan rak roti. (Name) selalu bekerja hingga larut, memastikan semuanya siap untuk esok pagi. Dia adalah orang yang hangat, bertolak belakang dengan Nagumo yang terbiasa hidup dalam dinginnya dunia kriminal.
Saat (Name) menoleh ke luar, matanya bertemu dengan milik Nagumo. Dia tersenyum, tanpa tahu bahwa pria yang selama ini rutin membeli roti darinya bukanlah pelanggan biasa.
"Kau datang terlambat hari ini," katanya ramah saat Nagumo masuk. "Aku hampir menutup toko."
Nagumo mendekat, menarik napas pelan, mencoba mengabaikan perasaan aneh yang semakin lama semakin kuat dalam dirinya. "Maaf, pekerjaanku sedikit menyita waktu," jawabnya, suaranya lebih rendah dari biasanya.
Dia mengambil roti favoritnya, lalu dengan satu gerakan cepat, menarik (Name) ke dekatnya.
"Nagumo-"
Dia mendekat, suaranya nyaris berbisik di telinganya. "Kau harus lebih berhati-hati. Dunia ini bukan tempat yang aman untuk orang sebaik dirimu."
Jantung (Name) berdetak lebih cepat. Dia tahu ada sesuatu yang tersembunyi di balik sorot mata Nagumo, sesuatu yang gelap dan penuh bahaya. Tapi anehnya, dia tidak bisa menjauh.
"Lalu kenapa kau tetap datang ke sini?" tanyanya, berani menatap mata Nagumo.
Nagumo terdiam sesaat sebelum menunduk, wajahnya hanya beberapa senti dari wajahnya. "Mungkin karena kau satu-satunya hal yang membuatku merasa... hidup."
Dan sebelum (Name) bisa berkata apa-apa, Nagumo mengecup keningnya dengan lembut. Hangat. Sebuah sentuhan yang bertolak belakang dengan sosoknya yang dingin dan berbahaya.
Lalu, tanpa banyak kata, dia berbalik pergi. Suara langkahnya berbaur dengan rintik hujan, meninggalkan jejak basah di lantai akibat hujan yang menetes dari mantelnya.
Di luar, dia menarik napas panjang.
Mungkin, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa takut.
Bukan pada musuh.
Bukan pada kematian.
Tapi pada perasaan yang tumbuh tanpa bisa dia kendalikan.
---
Di dalam toko, (Name) masih berdiri di tempatnya, jari-jarinya tanpa sadar menyentuh keningnya yang baru saja merasakan kehangatan yang begitu asing namun manis.
'Kenapa wajahku malah panas...?' (Name) berucap dalam hati sembari mengipas-ngipasi wajahnya dengan tangan. Pipinya memerah sempurna.
Dia menggigit bibirnya, mencoba menenangkan hatinya yang berdebar. Tapi semakin dia mencoba, semakin ia merasa terhanyut dalam momen yang baru saja terjadi.
Menggelengkan kepala, ia berusaha menghapus bayangan pria itu dari pikirannya. "Ada yang aneh denganku..." gumamnya pelan, suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya.
Tapi kemudian, senyum kecil muncul di wajahnya.
Mungkin, sesuatu yang baru sedang tumbuh dalam dirinya. Sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan, sama seperti yang terjadi pada Nagumo.
Di luar sana, di bawah hujan yang masih turun, Nagumo berhenti sejenak. Seakan merasakan sesuatu, dia menyentuh bibirnya dengan ibu jari, lalu tersenyum tipis.
Tanpa mereka sadari, di antara bahaya dan ketidakpastian, sebuah rasa yang berbahaya mulai berkembang.
Dan kali ini, tidak ada yang bisa menghentikannya.
-end-
KAMU SEDANG MEMBACA
A Star In Progress
Conto- kumpulan cerita yang ku buat karna waktu yang kosong. - jangan terlalu berharap ceritanya akan sering update. - kumpulan tokoh dari krakter favorit ku. - semua tokoh milik sang penulis asli - doa kan agar cepet dapet ide - di vote tolong...
