16. Hawks

26 2 0
                                        

.
.
.
.
.

Langit senja memerah di atas gedung-gedung tinggi kota Musutafu, ketika suara sayap terdengar samar di antara hembusan angin. Ia selalu datang saat senja, duduk di balkon sebelah dengan mata yang seolah menyimpan langit itu sendiri.

Namanya Keigo—setidaknya, itu yang ia katakan saat pertama kali kami bertemu. Pria dengan rambut berantakan, kacamata bulat kecil, dan senyum santai yang seperti tak pernah lepas dari wajahnya. Ia pindah ke apartemen sebelahku tiga bulan lalu, mengaku bekerja serabutan, dan sering kali menghilang tanpa kabar.

Tapi aku tak pernah peduli. Tidak sampai dia mulai berbagi roti panggang hangus miliknya dan menggoda selera makanku yang menyedihkan setiap pagi.

“Aku tidak tahu kamu bisa masak seburuk itu,” komentarnya sambil menyerahkan secangkir kopi di balkon.

“Kau juga bukan barista profesional,” balasku malas, meski dalam hati aku selalu menantikan kopi pahit racikannya.

Hari demi hari, ia mulai hadir tanpa diminta. Seperti senja yang datang dan pergi. Aku tahu sangat sedikit tentangnya, tapi kehadirannya mengisi celah-celah hampa yang tak pernah kuakui ada dalam hidupku. Hingga pada suatu malam, aku melihatnya dari balik jendela—berdarah, jaketnya robek, dan ekspresi yang tak pernah ia tunjukkan padaku sebelumnya: lelah, dingin, dan tatapan yang kosong.

“Keigo?”

Ia terkejut, lalu tersenyum seperti biasa. “Cuma jatuh dari tangga.”

Aku tahu dia berbohong. Tak mungkin seseorang jatuh dari tangga dan terluka seperti habis diserang tanpa ampun. Tapi aku memilih diam seperti langit yang menyimpan petirnya sendiri.

“Apa kau percaya takdir?” tanyaku suatu sore, saat kami menonton burung-burung terbang dari balkon.

Keigo menoleh, menatapku dengan mata coklat keemasan yang anehnya terasa terlalu dalam untuk pria seenaknya dia. “Aku percaya tak semua orang bisa bebas seperti burung, mereka selalu terikat oleh takdir tak kasat mata.”

“Tapi kamu terlihat seperti seseorang yang bisa terbang ke mana saja tanpa memikirkan apapun.”

Ia tertawa pelan. “Masalahnya, terbang bukan berarti bebas.”

Hari itu, aku ingin bertanya lebih jauh. Tapi sesuatu dalam dirinya memintaku untuk tidak melangkah terlalu dekat. Seolah ada batas yang tak bisa kuseberangi, bahkan ketika kami berdiri hanya beberapa inci terpisah.

Suatu malam, ia tidak pulang. Tidak ada kopi hangat keesokan paginya, tidak ada senyum santai di balkon, tidak ada suara ketukan ringan di pintu apartemenku. Aku menunggu, satu hari... dua hari... seminggu.

Lalu aku melihatnya di layar TV.

"Hero No.2, Hawks, dilaporkan mengalami luka serius dalam misi penyamaran..."

Hawks. Sayap merah. Mata coklat emas. Senyum santai. Keigo.

Jantungku seperti diremas. Aku mengulang cuplikan berita itu berulang kali, menatap gambar pahlawan yang selalu aku kagumi dari kejauhan. Yang ternyata duduk di sebelahku selama ini. Yang memberiku kopi pahit dan roti gosong. Yang menyembunyikan luka dan beban dunia di balik candaan ringan.

Aku menangis dalam diam, menekan ponselku, mencoba mencari nama kontak yang tak pernah ada. Tak ada Keigo. Tak ada Hawks. Tak ada siapa pun.

Hanya aku dan langit senja yang tampak jauh lebih sunyi dari biasanya.

Satu bulan berlalu sejak itu.

Aku duduk di balkon seperti biasa, kini hanya ditemani secangkir kopi yang tidak pernah terasa seenak buatan Keigo. Burung-burung masih terbang, senja masih menyala. Tapi tidak ada lagi suara sayap yang kukenal.

Tepat ketika aku hendak masuk, sesuatu mendarat di bawah kursiku.

Satu helai bulu merah.

Aku menatapnya lama, air mataku jatuh tanpa suara. Aku tahu, dia tidak akan pernah kembali. Tapi dia pernah ada. Pernah duduk di sini. Pernah tertawa bersamaku.

Keigo, atau Hawks, atau siapa pun dia sebenarnya—adalah seseorang yang tak bisa kupeluk, tak bisa kugenggam, tak bisa kumiliki. Tapi ia pernah singgah.

Dan itu cukup.

Meski sesakit ini, aku bersyukur pernah mengenalnya.

Akhirnya, aku menulis surat, yang tak pernah kukirimkan:

“Kepada pria bersayap merah, aku harap langitmu damai. Jika kau pernah rindu pada kopi dan balkon kecil ini, ketahuilah—aku masih duduk di sini, dengan secangkir rasa yang tak lagi sama.”

Dan angin senja membawanya pergi, seperti ia pernah datang.

Dengan tenang. Tanpa pamit.


 Tanpa pamit

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


▼△▼△▼△▼△

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 12, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

A Star In ProgressCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang