Gurun Timur tampak sunyi di bawah sinar bulan. Hanya suara angin yang menggulung butiran pasir, membawa bisikan dari masa lalu. Karnan Barreton berdiri di atas bukit pasir, mata keemasannya menelusuri kegelapan.
"Ada sesuatu yang bergerak di sana," gumamnya.
Dibungkus dalam jubah gelap, seorang pria bersembunyi di balik bayang-bayang. Karnan mempersempit tatapannya. Ia telah mendengar tentang keberadaan makhluk-makhluk asing yang mengganggu perbatasan, tetapi tidak pernah membayangkan akan bertemu dengan seseorang yang begitu misterius.
Dengan langkah cepat, ia mendekati sosok tersebut. "Siapa kau?"
Orang itu tak menjawab. Namun, dalam sekejap, ia berbalik dan menghunus belati perak. Karnan menangkisnya dengan mudah menggunakan pedang pendek di pinggangnya. Kilatan cahaya dari logam bertemu di bawah sinar bulan, membuat percikan api kecil di udara.
"Kau bukan orang Timur." Suara Karnan penuh ketajaman.
Akhirnya, sosok berjubah itu berbicara, suaranya lembut namun penuh ketegasan. "Dan kau bukan orang yang kucari."
Karnan terdiam sesaat. Itu adalah suara perempuan.
Sosok itu menarik kembali belatinya dan melepas penutup wajahnya. Rambut panjangnya tergerai ke bahunya, mata cokelatnya berkilauan di bawah langit malam.
"Aku adalah (Name) Omerta," katanya pelan, "Putri yang tak dikenal dari Kerajaan Barat."
Mata Karnan membelalak. Nama itu seharusnya hanya ada dalam bisikan legenda. Bagaimana mungkin dia ada di sini?
Senyuman tipis muncul di bibir gadis itu. "Kau mencari entitas asing yang mengganggu rakyatmu, bukan? Aku juga."
Angin malam membawa keheningan di antara mereka, sementara bulan menjadi saksi pertemuan dua pewaris kerajaan yang takdirnya saling terkait lebih dari yang mereka sadari.
---
Malam Itu, Perjalanan Dimulai
Di balik bebatuan besar di pinggir oasis, mereka duduk berhadapan. Api unggun kecil menerangi wajah mereka, menari-nari dalam bayangan malam yang pekat.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Karnan.
"Ada sesuatu yang bergerak di dunia ini," jawab (Name), suaranya serius. "Entitas yang kau cari bukan hanya mengganggu rakyatmu, tapi juga mulai menyusup ke wilayah-wilayah lain. Aku mengikutinya sejak lama, dan jejaknya membawaku ke gurun ini."
Karnan mengerutkan kening. Itu bukan hal yang ingin ia dengar. Jika ancaman ini lebih besar dari yang ia duga, maka situasinya semakin rumit.
"Entitas ini... Kau tahu siapa mereka?"
(Name) mengangguk. "Mereka bukan sekadar makhluk asing. Mereka bayangan dari masa lalu, yang seharusnya sudah terkubur bersama sejarah."
Karnan menyadari sesuatu.
"Kau berbicara tentang... pengkhianatan lama?"
Mata (Name) berkedip pelan. "Kau mengetahuinya juga?"
Karnan menghela napas. Sejak kecil, ia mendengar bisikan tentang perang yang melibatkan kerajaan Timur dan Barat, perang yang bukan sekadar perebutan wilayah, tetapi juga rahasia kelam yang ingin dikubur oleh para penguasa. Ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar perseteruan dua kerajaan-sebuah dosa yang ingin dilupakan oleh sejarah.
"Apa yang kau cari dari semua ini, (Name)?"
Gadis itu menatapnya dalam-dalam. "Kebenaran."
Keheningan menyelimuti mereka. Karnan menatap langit berbintang, mencoba menimbang keputusan yang harus ia buat. Jika ia bekerja sama dengan putri dari kerajaan yang telah lama hilang, maka ia juga ikut melangkah ke dalam misteri yang mungkin lebih berbahaya dari yang ia kira.
Karnan terdiam, matanya menelisik wajah (Name) yang diterangi oleh cahaya api unggun. Ada keteguhan di sana-sesuatu yang mengingatkannya pada dirinya sendiri.
Tapi yang mengganggunya bukan hanya kata-kata gadis itu.
Melainkan kehadirannya.
Dari semua tempat di dunia, kenapa ia harus bertemu dengan seorang gadis seperti ini-yang kehadirannya terasa seperti badai dalam hidupnya yang sunyi?
Angin malam berhembus, membawa aroma pasir dan petualangan yang belum mereka ketahui akhirnya.
"Kita harus mencari mereka sebelum mereka menemukan kita." Karnan berkata dengan perasaan yakin dalam dirinya.
(Name) tersenyum samar. "Akhirnya, kita sepemikiran."
Mereka saling bertukar pandang. Dalam keheningan malam, di tengah gurun yang menyimpan rahasia kelam, keduanya menyadari bahwa takdir telah membawa mereka ke jalan yang sama.
Bukan kebetulan mereka bertemu di sini.
Bukan kebetulan mereka adalah keturunan dua kerajaan yang saling bertolak belakang.
saat Karnan hendak berdiri, (Name) menahan pergelangan tangannya, membuatnya terhenti.
Karnan menatapnya, sedikit terkejut.
"Apa?"
(Name) tidak langsung menjawab. Matanya menatap ke dalam matanya, seakan berusaha membaca sesuatu yang tersembunyi di dalam diri Karnan.
Kemudian, dengan suara yang lebih pelan, ia berkata, "Aku merasa... ini bukan pertama kalinya kita bertemu."
Karnan mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
(Name) tersenyum kecil, matanya redup seolah sedang menggali kenangan yang tak bisa dijangkau.
"Aku tidak tahu... hanya saja, ada sesuatu tentangmu yang terasa familiar. Seperti... aku pernah mengenalmu di kehidupan lain."
Hening.
Angin berdesir pelan di antara mereka.
Karnan tak langsung menjawab, tetapi jari-jarinya sedikit mengendur di genggaman (Name). Seakan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa ingin mempercayai seseorang tanpa alasan yang jelas.
"Mungkin kau salah," katanya akhirnya, mencoba tetap rasional.
Namun, tanpa ia sadari, tangannya masih dalam genggaman (Name). Dan untuk pertama kalinya, Karnan tidak ingin melepaskannya.
Malam itu, di tengah gurun yang sunyi, dua pewaris kerajaan yang seharusnya tak pernah bertemu menemukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari rahasia dunia-
Perasaan yang tak seharusnya tumbuh di antara mereka.
Tapi entah mengapa, Karnan tidak bisa menolaknya.
Dan (Name) juga merasakannya.
-end-
KAMU SEDANG MEMBACA
A Star In Progress
Short Story- kumpulan cerita yang ku buat karna waktu yang kosong. - jangan terlalu berharap ceritanya akan sering update. - kumpulan tokoh dari krakter favorit ku. - semua tokoh milik sang penulis asli - doa kan agar cepet dapet ide - di vote tolong...
