Semua berjalan dengan lancar, meskipun pada akhirnya, semua harus berpisah untuk mengejar mimpi mereka masing-masing.
Hari itu, Sindria menjadi kota paling ramai. Stan makanan dan minuman berjejer di setiap sudut, alunan musik mengalun merdu, dan wanita-wanita menari dengan anggun di bawah cahaya lentera. Di antara mereka, Morgiana menari dengan penuh semangat, membuat kedua sahabatnya, Alibaba dan Aladdin, terpana oleh keindahannya.
Di atas balkon istana, seorang raja berdiri memperhatikan rakyatnya dengan senyum tipis. Sinbad, sang Raja Sindria, mengamati pemandangan yang seharusnya membuatnya merasa bangga. Perjuangan panjangnya telah membuahkan hasil. Namun, meskipun ia telah meraih kejayaan, ada sesuatu yang masih terasa kosong di dalam hatinya.
"Ternyata kau di sini, Sin."
Sebuah suara familiar membuyarkan lamunannya. Jafar menghampirinya dengan raut wajah yang sulit ditebak.
"Ada apa?" Sinbad bertanya tanpa menoleh.
Jafar menghela napas pelan. "Kau masih tidak bisa menerima kepergiannya, bukan?"
Sinbad terdiam. Ia tak perlu menjawab, karena Jafar sudah mengenalnya terlalu baik.
"Dia sangat sedih karena kau tidak mengantarnya pergi."
Sinbad menghela napas panjang, akhirnya menatap Jafar dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Kau berharap apa dariku?" tanyanya, suaranya terdengar datar, tetapi ada sesuatu di dalamnya-sesuatu yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Jafar tidak menjawab. Ia hanya menatap Sinbad dengan penuh pengertian sebelum akhirnya meninggalkannya sendiri.
---
Malam itu, Sinbad berdiri di balkon kamarnya, menatap langit malam yang dipenuhi bintang. Bulan bersinar lembut, menerangi malam dengan cahaya yang menenangkan.
Namun, pikirannya tidak tenang.
Ada satu nama yang langsung muncul dalam benaknya-seorang gadis yang pernah dijuluki sebagai penyihir pribadi raja.
Ia menghela napas berat.
Tiba-tiba, hembusan angin membawa kehadiran seseorang di belakangnya. Ia merasakan keberadaannya sebelum sempat berbalik. Saat ia menoleh, matanya bertemu dengan sepasang mata yang lebih indah dari bintang-bintang di langit malam.
"Kenapa kau masih di sini, (Name)?"
Bohong jika Sinbad mengatakan bahwa ia tidak senang melihat gadis itu. Tapi, seperti biasa, ia menutupi perasaannya dengan ekspresi yang sulit ditebak.
"Aku merasa tak enak jika pergi tanpa berpamitan denganmu, Rajaku." Senyum manis terpatri di bibir gadis itu, membuat dada Sinbad terasa semakin sesak.
Sinbad mengalihkan pandangannya, menatap hamparan laut yang berkilau di bawah sinar bulan. "Pergilah," katanya pelan. "Sekarang kau sudah berpamitan denganku."
(Name) menatapnya sejenak, membaca semua emosi yang tak ia ucapkan. Senyum kecil tersungging di wajahnya, meskipun ada kesedihan yang tak bisa ia sembunyikan.
"Aku akan kembali, Sinbad," katanya lembut. "Setelah urusanku selesai."
Suaranya begitu yakin, seolah ia benar-benar percaya bahwa mereka akan bertemu lagi.
Untuk terakhir kalinya, ia membungkuk hormat. Kemudian, tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan melangkah pergi, membiarkan angin malam membawa kepergiannya menjauh.
Sinbad tidak menghentikannya. Ia hanya berdiri di tempatnya, merasakan kekosongan yang semakin jelas di dalam hatinya.
Saat bayangan gadis itu menghilang dari pandangan, ia menyadari satu hal.
Ia telah kehilangan banyak hal dalam hidupnya.
Tapi kehilangan dirinya... adalah yang paling menyakitkan.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Sinbad berharap-sungguh berharap-bahwa takdir akan membawanya kembali.
Sampai saat itu tiba, ia hanya bisa menatap langit malam... dan menunggu.
-end-
KAMU SEDANG MEMBACA
A Star In Progress
Conto- kumpulan cerita yang ku buat karna waktu yang kosong. - jangan terlalu berharap ceritanya akan sering update. - kumpulan tokoh dari krakter favorit ku. - semua tokoh milik sang penulis asli - doa kan agar cepet dapet ide - di vote tolong...
