10.Minamoto teru

33 3 0
                                        


Langit di atas Akademi Kamome tampak berkilauan dengan cahaya rembulan yang menyinari pekarangan sekolah. Angin malam berhembus lembut, membawa kesunyian yang ganjil.

(Name) berdiri di samping Minamoto Teru, tubuhnya sedikit gemetar—bukan hanya karena udara dingin, tapi juga karena apa yang baru saja terjadi.

Setelah kejadian di dimensi aneh itu, dunia yang ia kenal tak lagi sama. Kini, matanya mampu melihat makhluk-makhluk yang seharusnya tak kasatmata—yokai dari dunia lain. Awalnya, dia mengira ini hanya efek samping dari pengalaman mengerikan itu, tapi semakin hari, semakin jelas bahwa ini bukan sekadar ilusi.

Teru meliriknya, ekspresi lembutnya sedikit berbeda dari biasanya. "Bagaimana perasaanmu sekarang?"

(Name) menghela napas, menatap tanah dengan pandangan kosong. "Aku... baik-baik saja. Tapi... ini belum berakhir, kan?"

Teru terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, "Ya (name) sekarang segala hal mulai berubah . Dunia ini sudah terbuka untukmu ."

Hening.
(Name) menyentuh mata kanannya seolah berusaha ingin memastikan jika dia salah, helaan nafas berat terdengar, menerima takdir dengan kemampuan aneh itu tak mudah.

Hanya suara dedaunan yang berbisik dihembus angin malam.

Teru akhirnya melanjutkan, "Tidak semua yokai berbahaya. Tapi ada beberapa yang harus diwaspadai. Dan yang lebih penting..." dia menatap lurus ke matanya, "Tsukasa mungkin akan kembali."

Mendengar nama itu, darah (Name) terasa membeku. Perasaan takut menjalar pada tumbuh nya. Dan memori menakutkan atas apa yang di lakukan Tsukasa kembali muncul. (Name) meremas rok nya dengan kuat berusaha menahan rasa takut yang berlebihan, padahal hanya nama yang disebut bukan sang makhluk ada didepannya.

Tsukasa—kakak kembar Hanako—adalah sosok yang membawa mereka ke dalam dimensi aneh itu. Keberadaannya penuh dengan kekacauan, dan (Name) masih bisa mengingat jelas senyum menyeramkan anak laki-laki itu sebelum mereka berhasil melarikan diri.

"Nene-chan bilang Hanako-kun juga merasa ada yang aneh sejak insiden itu," bisik (Name). "Apa menurutmu Tsukasa akan mencoba sesuatu lagi?"

Tatapan Teru mengeras. "Bukan hanya mungkin. Tapi pasti."


Malam itu juga, firasat Teru terbukti benar.

Saat mereka berjalan melewati gerbang sekolah, hawa dingin tiba-tiba menyelimuti mereka. Cahaya lampu jalan redup, seolah diserap oleh kegelapan yang merayap dari bayang-bayang.

Seketika, lubang hitam muncul di hadapan mereka—membuka celah ke dunia lain.

"Jangan bergerak!" seru Teru, menarik (Name) ke belakang.

Terlambat.

Gaya gravitasi dari lubang itu terlalu kuat. Dalam sekejap, mereka tersedot masuk ke dalam kegelapan.

Saat kesadaran mereka kembali, dunia di sekitar mereka berubah.

Tempat ini terlihat seperti Akademi Kamome, tapi dalam warna abu-abu. Sunyi. Tanpa tanda kehidupan.

Hanya ada satu sosok yang berdiri di sana.

Tsukasa.

Ia tersenyum lebar, mata merahnya berkilat penuh kegilaan. "Aku tahu kalian akan datang."

Teru menyipitkan matanya. "Apa maumu?"

Tsukasa tertawa kecil, langkahnya ringan, tapi auranya begitu gelap.

"Aku hanya ingin bersenang-senang!" katanya ceria. "Dan kau, (Name)—kau benar-benar menarik. Setelah kejadian waktu itu, kau jadi bisa melihat yokai, kan?"

(Name) mengepalkan tangannya. "Apa yang kau lakukan padaku?"

"Aku hanya membuka mata batin mu." Tsukasa tersenyum miring. "Sekarang kau bisa melihat dunia seperti yang seharusnya! Bukankah itu luar biasa?"

Tidak.

Ini bukan sesuatu yang diinginkannya.

Teru tiba-tiba menarik pedangnya, cahaya spiritualnya menyala terang dari pedangnya.

"Sudah cukup."

Tsukasa menghela napas dramatis. "Wah, wah, senpai selalu serius yaa~"

Tiba-tiba, bayangan di sekitar mereka bergerak.

Makhluk-makhluk yokai bermunculan—dengan wajah mengerikan dan mata lapar.

Pertarungan pun dimulai.

Teru menyerang lebih dulu, gerakannya tajam dan penuh presisi. Namun, jumlah yokai terlalu banyak.

(Name) mundur, menghindari cakaran makhluk-makhluk itu. Saat itulah dia menyadari sesuatu.

Dia bisa melihat jalur energi di sekeliling mereka—pola-pola aneh yang menghubungkan yokai dengan dimensi ini.

Tanpa sadar, tangannya bergerak.

Saat dia menyentuh salah satu jalur itu, cahaya putih meledak di sekelilingnya.

Dalam sekejap, yokai-yokai itu lenyap.

Tsukasa menatapnya dengan ekspresi takjub. "Oh? Itu menarik..."

Teru juga terkejut. "Kau… bagaimana kau melakukannya?"

(Name) menggeleng, nafasnya masih tersengal. "Aku tidak tahu…"

Tapi ini bukan waktunya untuk kebingungan. Mereka harus keluar dari sini.

Dengan serangan terakhir, Teru menebas Tsukasa.

Dimensi aneh itu mulai runtuh.

Dalam hitungan detik, mereka kembali ke dunia nyata.

Saat membuka mata, mereka sudah berdiri di depan gerbang sekolah—seolah tak terjadi apa-apa.

Hening.

Nafas (Name) masih berat. Dia menatap tangannya, merasakan denyut aneh dari kekuatan baru yang mengalir dalam dirinya.

Teru mengamati gadis itu dengan tatapan yang sulit dijelaskan. "Sepertinya… kau lebih dari yang kita duga."

Tsukasa mungkin menghilang untuk sementara, tapi mereka tahu ini belum berakhir.

Namun, malam itu juga, sesuatu berubah di antara mereka.

"(Name), mulai sekarang…" katanya pelan, suaranya lebih hangat dari biasanya.

"Aku akan melindungimu."

Jantung (Name) berdegup.
Bukan karna ketakutan.
Bukan karna kelelahan.
Tapi karna sesuatu yang lebih dalam dari semua itu.

Teru bukan hanya berbicara sebagai seorang pemimpin, atau sebagai seseorang yang bertanggung jawab.

Ada sesuatu yang lain dalam nada suaranya.

Sesuatu yang membuat hati (Name) terasa hangat.

Mungkin, ini bukan hanya tentang pertarungan melawan yokai.

Mungkin, ini juga tentang dua hati yang perlahan saling menemukan. dua hati yang sudah terikat dengan benang merah sejak awal tanpa mereka sadari.

 dua hati yang sudah terikat dengan benang merah sejak awal tanpa mereka sadari

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


▼△▼△▼△▼△

A Star In ProgressCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang