- kumpulan cerita yang ku buat karna waktu yang kosong.
- jangan terlalu berharap ceritanya akan sering update.
- kumpulan tokoh dari krakter favorit ku.
- semua tokoh milik sang penulis asli
- doa kan agar cepet dapet ide
- di vote tolong...
Hujan turun perlahan di luar jendela, menciptakan ritme menenangkan yang mengisi ruangan kosong itu. (Name) berdiri diam di depan lemari pakaian, menatap jaket hitam yang tergantung di sana. Itu adalah jaket Kuroo.
Dia tidak tahu mengapa dirinya begitu tertarik pada benda itu. Mungkin karena baunya yang khas, atau mungkin karena beratnya yang terasa nyaman, seolah-olah bisa melindunginya dari dinginnya malam.
Tanpa berpikir panjang, dia mengulurkan tangan dan mengambilnya.
“Ini besar sekali...” gumamnya pelan, tangannya menarik ujung lengan jaket yang menjuntai terlalu panjang untuk tubuhnya.
Saat dia membungkus dirinya dengan jaket itu, kehangatan langsung menyelimutinya. Ada aroma Kuroo di sana—sedikit wangi maskulin bercampur dengan aroma hujan dan sesuatu yang khas dari dirinya. Itu membuat jantungnya berdebar lebih cepat dari seharusnya.
Dia mendekap jaket itu erat-erat, wajahnya memerah.
“Aku tidak bisa menahan diri...”
Tapi kemudian, suara langkah kaki terdengar di belakangnya. Jantungnya mencelos.
“(Name—”
Suara itu.
Matanya membesar saat dia berbalik dan mendapati Kuroo berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan ekspresi campuran antara terkejut dan bingung.
(Name) membeku. Kuroo menatapnya dengan alis terangkat, matanya bergerak dari wajahnya ke jaket yang dia kenakan.
“Uh... aku datang di waktu yang salah?” tanyanya, kepalanya sedikit miring.
Panik merayap di dada (Name).
“Ah, uh... ini, aku...” Dia membuka jaket itu dengan gerakan canggung, berusaha melepasnya dengan cepat, tapi malah tersangkut di tangannya sendiri. “Aku hanya... uh, mencoba?”
Kuroo mendekat. Tatapan matanya tajam tapi penuh dengan godaan.
“Ternyata pacarku suka memakai barang-barangku, ya?” katanya dengan nada menggoda, menyilangkan tangan di dadanya.
Wajah (Name) semakin merah. “B-Bukan begitu! Aku hanya penasaran! Lagipula, aku kedinginan, dan—”
Kuroo mendekat lebih jauh, memotong jarak di antara mereka hingga hanya beberapa sentimeter tersisa.
“Kalau kedinginan, aku bisa memberikan kehangatan lebih dari sekadar jaket,” bisiknya pelan, senyumnya penuh kenakalan.
Jantung (Name) berdebar keras.
“Aku... aku beneran nggak bisa pakai ini, kan?” Dia mencoba mengalihkan pembicaraan, menggenggam erat ujung jaket.
Kuroo menghela napas pelan, lalu dengan gerakan tiba-tiba, dia menarik jaket itu menutupi tubuh (Name) sepenuhnya, membuatnya tenggelam dalam kain tebal itu.
“Pakailah sesukamu,” katanya lembut. “Tapi lain kali, bilang dulu ke aku kalau kamu ingin meminjamnya.”
“Kenapa?”
“Biar aku bisa melihat betapa manisnya kamu saat mengenakannya.”
Dan dengan itu, dia terkekeh pelan, meninggalkan (Name) yang masih berdiri dengan wajah merah padam, hatinya berdebar lebih cepat dari sebelumnya. " dasar kuroo, dia selalu bisa membuat ku malu."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.