9.Gallahan Lombardy

23 2 0
                                        

Hujan turun pelan di halaman keluarga Lombardy, membasahi taman megah yang penuh dengan bunga-bunga yang selalu dijaga dengan telaten oleh para pelayan. Aroma tanah basah bercampur dengan wewangian mawar putih yang bermekaran, menciptakan suasana yang menenangkan. (Name) berdiri di teras istana, tangannya menggenggam erat baki perak berisi teh hangat untuk Tya, anak dari Duke gallahan Lombardy.

Sudah bertahun-tahun (Name) menjadi pelayan pribadi Tya. Ia menyaksikan sendiri bagaimana Gallahan membesarkan putrinya dengan penuh cinta dan perhatian. Pria itu mungkin terkenal sebagai Duke yang keras dan berwibawa di hadapan banyak orang, tetapi di depan Tya, ia adalah seorang ayah yang lembut, sosok yang (Name) kagumi dalam diam.

Namun, kekaguman itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Ia sadar betul betapa mustahil nya perasaan yang mulai tumbuh di hatinya. Ia hanyalah seorang pelayan, sedangkan Gallahan adalah seorang Duke dengan tanggung jawab besar. Kasta mereka terlalu jauh, dan (Name) tak ingin menjadi orang yang menodai kehormatan keluarga Lombardy.

Namun, takdir sering kali mempermainkan manusia.

Suatu hari, Gallahan jatuh sakit karena kelelahan. Ia terus bekerja tanpa istirahat, mengurus urusan politik dan perdagangan keluarga Lombardy. Para dokter istana telah berulang kali meminta Duke itu untuk beristirahat, tetapi ia mengabaikan semua peringatan. Hingga akhirnya, tubuhnya menyerah.

Saat itu, (Name) yang paling cemas.

Tanpa ragu, ia merawat Gallahan dengan tangannya sendiri, menggantikan peran para pelayan lain yang terlalu takut untuk mendekati sang Duke saat ia dalam keadaan lemah. Setiap malam, ia memastikan bahwa pria itu meminum obatnya, mengganti lap basah di dahinya, dan membacakan buku untuknya, meski ia tahu bahwa Gallahan mungkin tidak benar-benar mendengarnya.

Namun, saat ia hendak beranjak pergi di suatu malam, tangan besar Gallahan menggenggam pergelangan tangannya.

"(Name)..." suaranya serak.

Jantung (Name) berdegup kencang. "Ya, Yang Mulia?"

Pria itu membuka matanya perlahan. Tatapan tajamnya yang biasanya dingin kini tampak lebih lembut. "Kenapa kau selalu ada di sini?"

(Name) terdiam. Ia ingin menjawab bahwa itu adalah tugasnya sebagai pelayan, tetapi hatinya tahu bahwa ada alasan lain. Alasan yang lebih dalam dan lebih berbahaya.

"Karena... Saya peduli pada anda yang mulia," jawabnya lirih, hampir seperti bisikan yang tertelan oleh angin malam.

Gallahan terdiam lama. Jemarinya masih menggenggam pergelangan tangan (Name), seolah tak ingin melepasnya. Ia tahu bahwa perasaan di antara mereka bukan lagi sekadar antara pelayan dan majikan. Ada sesuatu yang lebih besar.

Tetapi dinding yang memisahkan mereka terlalu tinggi.

---

Perlahan tapi pasti, hubungan mereka berubah.

Gallahan mulai mencari (Name) bukan hanya sebagai pelayan, tetapi sebagai seseorang yang bisa ia percaya. Mereka berbicara lebih sering, saling memahami satu sama lain tanpa kata-kata berlebihan. Gallahan, yang selama ini hanya memikirkan keluarganya dan tanggung jawabnya, mulai merasakan kehangatan yang berbeda setiap kali melihat (Name).

Namun, tak semua orang merestui kedekatan mereka.

Keluarga besar Lombardy mulai memperhatikan perubahan dalam sikap sang Duke. Mereka memperingatkan Gallahan bahwa ia tak boleh menjalin hubungan dengan seorang pelayan, bahwa kehormatan keluarga lebih penting daripada perasaan pribadinya.

"Kau adalah Duke Lombardy. Kau harus menikahi seseorang yang setara denganmu," kata salah satu anggota keluarga besar dalam sebuah pertemuan.

Gallahan hanya menatap tajam. "Aku tidak akan membiarkan orang lain mengatur hidupku."

A Star In ProgressCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang