Jiang Cheng atau yang sekarang di kenal Hua Yin kini merasa lebih hidup selama berada di desa tersebut. Tidak ada yang memaksanya untuk menjadi lebih unggul daripada yang lain. Tidak ada juga yang membuat ia membenci gendernya sendiri. Ia bisa menjadi dirinya sendiri.
Ia bahagia karena bisa bersinar tanpa menjadi bayangan sinar orang lain. Menjadi diri sendiri tanpa takut tersaingi adalah hal yang membuat ia tersenyum di saat mungkin ini adalah titik tersulit baginya.
"Hua Yin. Apa yang kau pikirkan? Kenapa melamun sendirian di teras? Itu tidak baik untuk bayi yang kau kandung, Nak."
Saat melamun, ia dikejutkan oleh suara hangat dari seorang nenek yang selama beberapa bulan ini tinggal dan juga merawatnya. Nenek Hua.
Meskipun tidak memiliki hubungan darah ataupun kerabat, nenek Hua rela merawatnya dan bayinya seperti anak dan cucu kandungnya sendiri. Ia bisa merasakan semua kasih sayang yang ia impikan dari nenek itu.
"Tidak, Nek. Aku hanya sedang berpikir jika aku kembali mendapatkan ingatanku, apa aku harus meninggalkan tempat ini?" ujar Jiang Cheng dalam.
"Kenapa kau berkata seperti itu? Bagaimanapun ini adalah tempat tinggalmu. Kau bisa pergi ataupun kembali sesukamu. Bahkan jika kau selamanya tinggal di sini, tidak ada yang akan mengusirmu dari desa ini. Tanpa kau sadari kau sudah menjadi permata bagi desa ini," jawab Nenek Hua panjang lebar.
Jiang Cheng yang mendengar itu pun tersenyum senang. Akhirnya ia bisa menemukan tempat yang ia bisa sebut sebagai rumah.
"Sudahlah kenapa kita jadi berbicara hal itu, lebih baik kita masuk udara dingin tidak baik untuk kesehatanmu dan bayimu," ujar nenek Hua.
*****
Berbeda dengan keadaan Jiang Cheng yang sangat bahagia. Kekacauan masih terasa di Lotus Pier setelah kepergian Jiang Cheng lima bulan yang lalu. Terlebih keadaan pasangan pemimpin Jiang.
Nyonya Yu yang selalu mendesak pemimpin Jiang untuk cepat menemukan Jiang Cheng. Setelah Jiang Fengmian merasa pusing karena masalah ini hampir saja menyebabkan pertunangan Wei Wuxian dan Lan Wangji batal namun untungnya akhirnya mereka resmi bertunangan sebulan yang lalu, kini ia yang terus di desak oleh istrinya. Rasanya permasalahannya terus datang silih berganti.
"Aku tidak ingin mendengar janjimu lagi Fengmian. Ini sudah lima bulan. Selama lima bulan aku sudah berusaha menahan. Aku hanya ingin kau segera menemukan putraku. Aku bahkan tidak tau keberadaannya, bagaimana dia makan. Bahkan aku tidak tau dia masih hidup atau tidak," ujar Yu Ziyuan dengan nada keras di kamar mereka.
"Aku tau istriku. Saat ini juga aku tengah berusaha untuk menemukan Jiang Cheng. Aku berjanji, Jiang Cheng pasti akan bersama kita kembali," jawab Jiang Fengmian sambil berusaha merengkuh istrinya ketika melihat mata istrinya kosong.
Berada dalam rengkuhan hangat suaminya, Yu Ziyuan yang bahkan dikenal sebagai sosok istri pemimpin yang keras dan angkuh akhirnya meluapkan emosinya dengan menangis sambil memeluk erat pinggang suaminya.
Sejak lima bulan yang lalu, kondisi Yu Ziyuan memang kurang stabil karena memikirkan keadaan Jiang Cheng yang tiba-tiba saja menghilang keesokan harinya. Ia mengerti, bukan tanpa sebab Yu Ziyuan menjadi seperti ini karena kehilangan putranya.
Yu Ziyuan yang terkenal keras dan angkuh itu bisa dibilang ia paling menyayangi putranya. Jiang Cheng.
Bisa dibilang alasan Yu Ziyuan menjadi sekuat ini adalah karena Jiang Cheng. Bahkan saat kelahiran Jiang Yanli, Yu Ziyuan masih bersikap biasa saja bahkan terkesan mengacuhkan Jiang Yanli dan menyerahkan pengasuhan Jiang Yanli kepada suaminya. Itulah sebabnya sifat Jiang Yanli lebih mirip dengan ayahnya.
Berbeda dengan Jiang Cheng yang sedari kecil memang diasuh oleh Nyonya Yu hal ini dikarenakan pada saat itu dunia kultivasi sedang mengalami masalah sehingga Jiang Fengmian harus disibukkan dengan masalah di luar sekte jadi, Yu Ziyuan yang mengurus semua hal dalam sekte termasuk mengasuh putra kecilnya.
Bahkan setelah urusan Jiang Fengmian sudah selesai, Yu Ziyuan merasa enggan untuk melepaskan Jiang Cheng ke pengasuhan ayahnya. Ia lebih memilih mengurus semua keperluan putranya sendiri, hal yang tak pernah ia lakukan kepada Jiang Yanli. Karena itu juga ikatan Yu Ziyuan dengan Jiang Cheng lebih kuat dibandingkan Jiang Yanli, dan sikap keras kepala Yu Ziyuan juga menurun kepada putranya itu.
Tentu saja itu bukan tanpa alasan, Nyonya Yu merasa jika ia menyerahkan pengasuhan Jiang Cheng kepada Jiang Fengmian, ia takut jika besar nanti, putranya menjadi sosok pemimpin yang penurut dan lemah seperti pandangan Yu Ziyuan kepada suaminya.
Tanpa mereka sadari, pembicaraan mereka terdengar oleh Wei Wuxian yang kebetulan melewati kamar pasangan tersebut. Ia berhenti sejenak dan melanjutkan ke arah kamar sepupunya yang sudah menghilang selama lima bulan.
"Jiang Cheng, kau sedang berada di mana sekarang? Apakah kau tidak melihat, Seorang Nyonya Yu yang galak dan keras bahkan ia menangis saat kau menghilang. Cepatlah kembali kami semua merindukanmu, aku harap kau kembali sebelum hari pernikahanku" ucap Wei Wuxian sambil menerawang ke depan.
****
Yun shen buchi zu
Sementara di relung awan, terlihat Lan Wangji yang sedang membaca buku di perpustakaan bersama dengan Lan Xichen di sampingnya. Bukan tanpa sebab Lan Xichen yang biasanya sibuk mengurus dokumen kini duduk bersama Lan Wangji saat ini.
Lan Xichen hanya merasa selama beberapa bulan belakangan ini atau lebih tepatnya saat tersiar kabar putra kedua dari pemimpin sekte Jiang menghilang secara tiba-tiba, Lan Wangji terlihat gelisah seolah ia menyembunyikan rahasia meskipun sejujurnya dari raut wajah Lan Wangji tidak ada yang berubah, namun sekali lagi ikatan batin antara saudara tidak pernah salah.
"Wangji, sebenarnya ada apa? Kenapa selama beberapa bulan belakangan ini, kau keliatannya sangat gelisah?" tanya Lan Xichen lembut.
"Aku tidak apa-apa, Xiongzhang. Aku hanya berpikir jika mungkin saja kepergian dari tuan muda Jiang mungkin karena ada kaitannya denganku," ujar Lan Wangji jujur.
"Bagaimana mungkin kepergian dari Tuan muda Jiang ada hubungannya denganmu Wangji. Selama ini kalian bahkan tidak saling berbicara selama ia belajar di sini. Mungkin bisa dibilang kalian hanya berpapasan saat kau menolongnya saat melawan para bandit waktu itu. Dan itu bahkan bukan kesalahanmu sama sekali. Jadi berhenti berpikir yang tidak masuk akal," jelas Lan Xichen dengan sabar tanpa tahu kenyataan yang sebenarnya.
Lan Wangji hanya mengangguk tidak ingin mengatakan yang sejujurnya karena mungkin saja jika ia mengatakan yang sebenarnya, pernikahannya dan Wei Wuxian di depan mata bisa menjadi hancur. Ia bahkan tidak ingin memikirkan jika ia mungkin saja telah menghancurkan hidup seseorang di saat ia hanya memikirkan pernikahannya.
Lan Xichen yang melihat adiknya tidak membantah dan hanya mengangguk namun masih terlihat gelisah tidak memaksa adiknya untuk berkata jujur. Ia hanya akan menunggu Lan Wangji mengatakan yang sejujurnya tanpa ada paksaan.
Setelah itu, mereka berdua larut dalam pikiran masing-masing.
*****
Selamat hari raya idul fitri bagi yang merayakannya yah. Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir batin yah.
Gimana chapter hari ini? Gaje kah atau gimana? Atau malah banyak typo? Biasa langsung up. Ngejar target 🫠🫠
Oh iya lagi nggak bisa banyak bacot di sini yah. Yang penting happy reading, jangan lupa votment plus see you in the next chapter guys.
𝓣𝓱𝓪𝓪
KAMU SEDANG MEMBACA
Omega Yunmeng
FanfictionMenjadikan seorang omega yang memimpin sebuah sekte memang tidak mudah. Oleh sebab itu, Jiang Wanyin atau lebih dikenal Jiang Cheng terpaksa untuk menutupi status omeganya dan memberitahu dunia bahwa ia adalah seorang alpha. Beruntung Jiang Cheng ad...
