Semua berjalan dengan baik. Setidaknya itulah yang Jiang Cheng rasakan selama beberapa bulan ini bahkan di saat ia mendekati hari melahirkannya, Jiang Cheng terlihat lebih putih bersinar seakan benar-benar tidak ada yang ia takutkan lagi.
Saat ini ia benar-benar tidak mengetahui dunia luar karena dirinya tengah sibuk dimanja oleh penduduk desa yang menyayangi dan menunggu kelahiran anaknya itu.
Namun siapa yang menyangka jika di suatu hari yang cerah, desa yang selama bertahun-tahun tinggal dengan damai tiba-tiba di serbu oleh puluhan mayat hidup yang entah dari mana asalnya, mereka menerobos masuk seolah tengah mencari seseorang.
Warga desa yang baru pertama kali melihat gerombolan mayat hidup langsung berlarian sambil membawa barang berharga dan memanggil anak mereka untuk bersembunyi di dalam rumah. Warga desa yang tidak memiliki basis kultivasi sama sekali menjadi sangat ketakutan ketika mendengar raungan dari para monster itu sedangkan para kepala keluarga sedang berusaha menghalau para mayat hidup itu dengan alat seadanya seperti pisau, golok, bahkan kayu agar para monster tersebut tidak mendekati para wanita dan anak-anak yang ada di dalam rumah.
Suara teriakan manusia dan raungan monster membuat Jiang Cheng tertegun. Sudah sangat lama ia tidak merasakan ketegangan menghadapi serangan tersebut.
Kini ia ragu. Haruskah ia melawan para monster untuk menyelamatkan warga desa yang disayanginya, atau tetap menyembunyikan kultivasi dengan resiko banyaknya warga desa yang berjatuhan. Sejenak ia mengharapkan akan ada orang dari dunia kultivasi yang menolong warga desa dari serangan tersebut namun ia tau itu tidak mungkin karena sudah lebih dari delapan bulan ia tinggal di desa tersebut, ia tidak pernah melihat seseorang yang memiliki kultivasi melintasi desa tersebut.
Selain karena takut identitasnya terbongkar, Jiang Cheng sebenarnya takut terjadi sesuatu dengan anaknya. Tapi sekali lagi ia memikirkan mengenai warga desa yang sudah memberi perlindungan dan kasih sayang padanya, ia tidak bisa tinggal diam.
Ia mengambil belati yang ada, meskipun tidak bersama pedangnya, ia yakin masih bisa mengalahkan beberapa mayat hidup itu dengan senjata tersebut. Jangan lupa, selama ini ia berlatih dengan keras bukan hanya untuk pamer. Mengalahkan beberapa musuh masih mudah baginya.
"Hua Yin. Apa yang kau lakukan, Nak? Ayo kita cepat bersembunyi. Di luar sedang kacau," ujar Nenek Hua sambil menahan tangan Hua Yin saat melihatnya berjalan keluar sambil membawa belati.
"Nenek, aku tidak bisa hanya bersembunyi. Aku juga harus ikut membantu mereka," jawab Jiang Cheng tegas.
"Tidak, nak. Kau tidak bisa keluar? Keadaan di luar tidak sesederhana itu. Lagipula kau tengah mengandung. Jarak kelahirannya sudah dekat kau bisa membahayakan nyawamu dan anakmu," tegas Nenek Hua.
"Nek, percaya padaku. Aku tahu batasanku. Aku akan mundur jika aku sudah tidak kuat. Tapi saat ini aku harus menolong mereka. Cara melawan warga desa bukan cara yang tepat untuk menghabisi mayat hidup itu," jelas Jiang Cheng.
Setelah berusaha menyakinkan nenek Hua. Jiang Cheng akhirnya keluar untuk membasmi mayat hidup itu.
Kondisinya yang tengah hamil besar ditambah ia tidak berlatih selama beberapa bulan membuat gerakannya kaku dan tidak seluwes dulu, namun tetap bagi warga desa yang tidak pernah bertemu dengan kultivator melihat Jiang Cheng yang melawan para monster itu seperti seorang dewa.
Jiang Cheng yang sudah berhasil mengalahkan beberapa dari mereka merasa sedikit bingung karena ia merasa bahwa monster itu telah menargetkan dirinya. Entah karena ia adalah seorang omega yang tengah mengandung atau para mayat hidup itu diperintahkan oleh seseorang.
Saat ia berpikir akan menang, tiba-tiba saja seorang mayat ganas berlari kearahnya dengan mengincar perutnya. Jiang Cheng yang melihat itu berusaha untuk menghindar, namun karena beban di perutnya yang sudah besar, Jiang Cheng salah langkah dan malah membuatnya terjatuh tertelungkup dengan kondisi perut yang lebih dahulu menghantam tanah.
Jiang Cheng langsung berteriak saat merasakan rasa sakit di perutnya. Apalagi ia merasa ada yang mengalir dari bagian bawahnya. Mendengar jeritan tersebut, warga desa merasa bimbang. Haruskah ia menolong pemuda itu atau melawan sisa-sisa mayat hidup itu.
Saat ia merasa bimbang, tiba-tiba dari jauh terlihat sekelompok orang yang memakai pakaian berwarna putih datang dan langsung membantu warga desa membasmi para makhluk hidup tersebut.
Ya, mereka adalah para kultivator atau lebih tepatnya para murid dalam dari sekte Lan Gusu yang langsung dipimpin oleh tuan muda pertama Lan Xichen.
Tanpa Jiang Cheng ketahui, meski desa tersebut terpisah dari dunia kultivasi, sebenarnya menurut pembagian wilayah. Desa tersebut masih masuk ke wilayah Gusu meskipun berada di paling ujung, tak heran mereka memiliki kebiasaan khas Gusu Lan yang selalu berbicara lembut dan senang menolong.
Jiang Cheng yang sekilas mengenali siapa pria di balik pakaian berwarna putih itu sontak langsung ingin bersembunyi, namun rasa sakit di perutnya menjadi semakin tidak tertahankan yang membuat Jiang Cheng mengabaikan keberadaan Lan Xichen.
Sedangkan para pemuda Lan yang berhasil mengalahkan mereka semua langsung bergerak menuju teriakan seseorang yang terluka tadi yang kini tengah di kerumuni warga desa.
Saat sudah sampai di tengah warga desa, Lan Xichen terkejut karena menjumpai wajah yang telah lama tak di lihatnya. "Tuan muda, tolong Hua Yin. Dia sedang mengandung dan sepertinya akan segera melahirkan," ujar salah satu warga desa.
"Apa melahirkan?!' Lan Xichen terkejut saat mengetahui Jiang Cheng yang selama ini menghilang ternyata sedang mengandung dan bersembunyi di wilayahnya. Tanpa banyak bicara lagi, Lan Xichen menyuruh salah satu murid yang kebetulan mengetahui mengenai dunia medis untuk menolong proses melahirkan Jiang Cheng di rumah salah satu warga yang diketahui merawat Jiang Cheng selama ini.
Lan Xichen yang mengetahui hal ini tentu saja terkejut, dalam pikirannya banyak pertanyaan yang terbesit. Salah satunya adalah anak siapa dalam kandungan dari pemuda yang bisa disebut sebagai cinta pertamanya itu.
Beruntung saat ia menemukan Jiang Cheng ia hanya bersama beberapa murid dari Gusu Lan. Setidaknya mereka tidak akan sembarangan bergosip mengenai Jiang Cheng yang hamil padahal ia mengatakan jika ia berstatus alpha.
Setelah beberapa jam menunggu, murid yang di tugaskan untuk membantu kelahiran Jiang Cheng akhirnya keluar dan menghampirinya.
"Jewu-jun. Tuan muda Jiang telah berhasil melahirkan putranya. Namun kondisi putranya sedang tidak baik, ia membutuhkan pasokan energi dari orang lain. Dan secara kebetulan saya mengetahui jika anak ini memiliki jenis energi seperti anda dan Hanguang-jun," ujar murid tersebut ragu-ragu.
Keterkejutan untuk kedua kalinya terlihat dari mata Lan Xichen. Namun dengan watak Lan Xichen yang tenang, ia berhasil mengendalikan dirinya sendiri dan dengan pelan berucap kepada murid tersebut, "Baiklah. Tapi jangan beritahu siapapun mengenai ini."
Setelah mengatakan itu, ia memasuki rumah tersebut seorang diri.
*****
Hai kangen nggak nih sama cerita ini? Pasti kangen dong. Lah aku aja di teror terus buat next. Tapi nggak papa aku suka kok. Berarti ada yang masih baca ini cerita. Maaf yah penulisnya emang suka ngilang tiba-tiba gitu. Maklum sibuk nyari kesibukan padahal mageran.
Pokoknya jangan lupa vote dan comment yah. See you.
𝓣𝓱𝓪𝓪
KAMU SEDANG MEMBACA
Omega Yunmeng
FanfictionMenjadikan seorang omega yang memimpin sebuah sekte memang tidak mudah. Oleh sebab itu, Jiang Wanyin atau lebih dikenal Jiang Cheng terpaksa untuk menutupi status omeganya dan memberitahu dunia bahwa ia adalah seorang alpha. Beruntung Jiang Cheng ad...
