Omega Yunmeng 20

732 99 18
                                        

Yun Shen Buchi Zhu

Udara yang sejuk, kicauan burung yang saling bersaut, dan aliran tenang dari air. Suasana sehari-hari Gusu terlihat seperti hari biasa kecuali pemandangan Lan Qiren yang sedang duduk santai sambil meminum teh bersama Lan Xichen. Biasanya Guru besar itu saat ini tengah berada di dalam kelas untuk mempersiapkan pembelajaran pagi hari.

Namun pagi ini berbeda karena Lan Qiren memiliki tujuan lain, dia ingin menanyakan mengenai keadaan Jiang Cheng dan juga (mungkin) penerus selanjutnya sekte Gusu. Selain Lan Xichen, menurutnya tidak ada orang yang lebih baik untuk menanyai kabar tuan muda yang (hilang) tersebut.

"Xichen, bagaimana dengan keadaan tuan muda Jiang dan juga putranya?" tanya Lan Qiren memulai pembicaraan.

"Semuanya baik-baik saja. Tuan muda Jiang dan putranya dalam keadaan sehat dan warga desa juga menjaga mereka dengan baik," jawab Lan Xichen tenang sambil tersenyum lembut.

"Apakah dia masih tidak ingin memberitahukan keberadaannya kepada keluarga Jiang? Bagaimana pun mereka masih mencari putra mereka," tanya Lan Qiren.

"Sepertinya tuan muda Jiang masih tidak ingin kembali. Aku melihat selama Jiang Wanyin berada di desa tersebut, Wanyin terlihat lebih ceria seakan semua beban dipundaknya terangkat. Setidaknya biarkan wajah ceria itu lebih lama sebelum aku bisa mulai menyinggung tentang keluarga Jiang padanya," jawab Lan Xichen sambil tersenyum membayangkan wajah dari pemuda yang mencuri hatinya.

Lan Qiren tentu saja menyadari jika Lan Xichen seperti memiliki perasaan pada Jiang Cheng. Karena selama Lan Xichen membicarakan pemuda itu, matanya berbinar dan bicaranya lebih melembut daripada biasanya.

"Lan Xichen. Bukannya aku melarang perasaanmu. Bagaimanapun kau tahu 'kan jika Jiang Cheng bisa dikatakan sebagai omega dari Lan Wangji? Bahkan ia memiliki putra dengan adikmu. Meskipun itu merupakan ketidaksengajaan, namun itu juga merupakan fakta yang tidak bisa dibantah. Dan itu hanya masalah waktu," ujar Lan Qiren dengan tenang sambil mengamati sikap Lan Xichen.

Lan Xichen tersentak sesaat setelah kembali diingatkan fakta yang ingin dilupakannya. "Aku tahu paman, dan aku paham apa yang paman maksud," ujar Lan Xichen sambil tersenyum tipis.

Setelah beberapa saat obrolan ringan itu berlanjut, akhirnya Lan Qiren pergi dari Hanshi.

Lan Xichen yang saat ini sendirian bergumam pada dirinya sendiri, "Aku yang mencintainya tapi kenapa Wangji yang harus menjadi pasangan takdirnya? Wangji bahkan sedang mempersiapkan pernikahannya dengan Adik Wei. Apakah tidak boleh jika aku berdiri di sisi tuan muda Jiang, meskipun aku tau dia yang seharusnya menjadi adik iparku?"

****

Saat ini keadaan di Jingshi sedikit menegangkan. Wei Wuxian yang melihat Lan Wangji terluka parah karena hukuman yang menurutnya tidak jelas dengan keras kepala memaksa tunangannya memberi penjelasan mengenai semuanya, namun sayangnya Lan Wangji hanya terdiam seribu bahasa enggan untuk menjawab pertanyaan Wei Wuxian saat ini.

"Lan Zhan. Kau harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi? Kau tidak bisa hanya diam saja," ujar Wei Wuxian yang kesal.

Melihat Lan Wangji yang masih teguh untuk diam membuat Wei Wuxian berdiri dan berkata dengan suara keras, "Jika kau terus diam saja aku akan bertanya pada Jewuzun dan guru Lan, mengapa mereka menghukummu? Aku ingin penjelasan yang lengkap atau aku tidak akan menikah dan masuk kembali ke Gusu Lan di masa depan," ujar Wei Wuxian yang lebih tepatnya terdengar seperti ancaman.

Lan Wangji yang mendengar itu langsung mencegah Wei Wuxian keluar dengan memegang tangannya dan berkata. "Tidak Wei Ying. Kau tidak perlu mendatangi paman ataupun Xiongzhang. Ini bukan salah mereka. Aku yang melakukan kesalahan di masa lalu. Setidaknya ini caraku untuk menebus kesalahan itu."

"Lalu jelaskan padaku, apa kesalahan itu Lan Zhan? Kenapa? Aku hanya ingin tau alasannya. Kita sudah bertunangan apa kau masih ingin menyembunyikan sesuatu dariku?' desak Wei Wuxian.

Melihat Lan Wangji tetap bungkam, membuat Wei Wuxian mengangguk dengan raut wajah yang kentara sangat kecewa.

"Baik. Jika kau ingin terus diam, maka kau bisa diam untuk selamanya. Kau selalu mengatakan jika kau mencintaiku dan tidak ada rahasia diantara kita. Tapi sekarang aku tahu, kau tidak sepenuhnya percaya pada hubungan ini."

Setelah mengatakan itu, Wei Wuxian langsung meninggalkan Jingshi sambil menutup pintu dengan kencang.

*****

Setelah keluar dari Jingshi, Wei Wuxian tidak langsung pulang ke Lotus pier, ia malah mampir ke salah satu pintu kamar asrama murid luar Gusu. Atau lebih tepatnya kamar yang dipakai oleh Jiang Cheng. Entah kenapa ia memilih tempat itu, mungkin karena tempat itu adalah tempat yang sering ditempati oleh saudaranya yang hilang saat mereka masih di Gusu dulu.

"Aceng kau sekarang ada dimana? Seharusnya saat ini kau bersamaku dan memarahi Lan Zhan, atau kau bisa mengobrak-ngabrik aula hukuman karena menghukum calon kakak iparmu itu. Tapi sepertinya daripada melakukan itu, kau mungkin akan berada di samping pak tua itu dan memberiku ceramah. Apalagi kau adalah murid kesayangan pak tua itu," ujarnya lirih sambil terisak pelan.

Di saat ia rapuh dan bingung seperti ini, biasanya ia akan ditemani oleh Jiang Cheng. Pemuda keras kepala dan sombong itu akan menghiburnya meski dengan cara yang bodoh dan terlihat angkuh sekaligus. Tapi setidaknya, dengan keberadaan Jiang Cheng, Wei Wuxian tidak akan merasa sesepi ini. Apalagi jujur, saat ini ia tengah kecewa karena Lan Wangji masih belum mempercayai dirinya dan memilih menyembunyikan sesuatu darinya.

Setelah puas menceritakan segala keluh kesahnya dikamar tersebut, bahkan tanpa ada orang lain di sekitarnya untuk mendengarkannya, ia bersiap untuk keluar. Tapi saat ia bersiap berbalik keluar dari kamar tersebut, ia melihat Lan Xichen tentang membawa kantong qiankun berukuran besar memasuki kamar yang sama dengan dirinya.


"Xichen Ge. Kenapa kau berada di sini? Dan kenapa kau membawa kantong sebesar itu. Selama beberapa hari ini aku seringkali melihatmu naik turun gunung sambil menbawa banyak barang?" tanya Wei Wuxian.

"Adik Wei. Begini, kebetulan aku sedang mencari beberapa barang yang tidak terpakai dan ditinggalkan pemiliknya lalu membagi barang yang sekiranya masih bagus untuk dibagikan kepada warga desa," ujar Lan Xichen sambil tersenyum meskipun ia telah melanggar salah satu peraturan di sektenya yaitu berbohong.

Setelah beberapa kali berbohong hanya untuk melindungi Jiang Cheng bersembunyi membuat keterampilan yang tidak diinginkan alias berbohong Lan Xichen semakin fasih, bahkan ia bisa berbohong tanpa merubah raut wajahnya dan tetap tersenyum ramah.

"Ah, jadi begitu. Kalau begitu aku pamit pergi dulu. Sebelumnya aku hanya mampir untuk mengingat tentang saudaraku," ujar Wei Wuxian menjelaskan walau tidak ditanya. Kemudian memberi salam perpisahan.

Namun sebelum benar-benar berpisah, Wei Wuxian terdiam saat tiba-tiba Lan Xichen menanyakan sesuatu secara tiba-tiba.

"Bagaimana hubunganmu dengan Wangji akhir-akhir ini adik Wei?" Dengan kaku, dan senyum palsunya ia menjawab.

"Tentu saja semuanya baik tidak ada masalah apa-apa," ujarnya atau mungkin upaya dia menyakinkan dirinya sendirinya hubungan mereka berdua tidak ada yang berubah meskipun hari ini Wangji bersikap berbeda dari biasanya.

*****

Hai. Ada yang masih bangun jam segini? Maaf yah lama nggak ada kabar, karena aku ngerasa nggak enak terlalu lama gantung kalian malah jadi update malem-malem gini. GN semuanya, nggak mau bayak omong, soalnya udah ngantuk juga. Mata tinggal 10 watt.

Kalau misalnya ada typo minta tolong ditandai yah supaya aku bisa lebih perbaiki kedepannya.

See you

𝓣𝓱𝓪𝓪

Omega Yunmeng Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang