Additional part kemarin aku tarik karena aku merasa aneh, jadi aku ganti dengan extra part ini. Mana nih yang kemarin minta di buatin POV nya Mas Radit??
Radit's POV
Kadang aku masih heran, gimana caranya semesta bisa nemuin aku sama Rana.
Dia jauh lebih muda dariku. Dan bukan cuma beda angka. Tapi beda cara melihat dunia. Rana... dia penuh warna, penuh tanya, dan seringkali ribut sama hal-hal kecil yang aku nggak sadar penting—kayak, kenapa bunga di meja makan tiba-tiba layu, atau kenapa aku lupa naro gelas di rak yang benar.
Dulu aku kira aku butuh pasangan yang dewasa, yang bisa satu frekuensi dalam semua hal. Tapi ternyata, yang aku butuhin bukan itu.
Yang aku butuhin, adalah seseorang yang bisa bikin aku pengen belajar lagi.
Dan Rana... dia orang itu.
Dia nggak sempurna. Kadang keras kepala. Kadang terlalu sensitif sampai-sampai aku harus mikir dua kali sebelum ngomong. Tapi justru dari situ, aku belajar. Aku belajar bahwa jadi laki-laki itu nggak cuma soal kerja keras dan pulang bawa uang. Tapi juga soal ngerti kapan harus dengerin, kapan harus ngalah, kapan harus pelan-pelan.
Aku bukan orang yang pandai bilang "Aku cinta kamu" setiap hari. Aku bahkan sering salah mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya cuma pengen aku sampaikan sebagai "Aku peduli."
Tapi aku tunjukkan lewat hal-hal kecil. Bangun lebih pagi buat bikin kopi dia. Ngumpulin baju-baju yang udah dia lipat dan naro ke lemari. Nyimpen potongan rambut dia yang berserakan di wastafel. Atau ngasih pujian tanpa drama, cuma sesimpel: "Hari ini kamu kelihatan capek, tapi tetap manis."
Dan aku tahu, mungkin buat dia itu nggak cukup kadang-kadang. Tapi aku terus belajar.
Usia kami jauh. Tapi setiap kali aku lihat dia—dengan rambut berantakan dan mata lelah setelah begadang jagain Rhea—aku tahu, aku nggak mau hidup dengan siapa pun selain dia.
Aku bukan lelaki romantis. Aku nggak bisa janji akan selalu jadi yang terbaik. Tapi aku bisa jamin satu hal:
Aku akan selalu berusaha jadi rumah paling tenang buat dia pulang.
Dan di tengah semua ribut kecil, drama rumah tangga, tumpukan cucian, dan suara tangis Rhea yang kadang bikin dunia terasa sempit—aku tahu satu hal:
Rana itu istimewa.
Dia satu dari sedikit orang di dunia ini yang bikin aku percaya bahwa pulang... nggak harus ke tempat. Kadang, pulang itu ke hati seseorang.
Dan hatiku, selalu pulang ke dia.
....
Aku masih ingat jelas hari itu.
Rana berdiri di ambang pintu kamar mandi dengan wajah pucat. Tangannya gemetar waktu nyodorin test pack ke aku. Dua garis. Jelas. Nggak buram. Nggak bisa disalahartikan.
Aku cuma bisa duduk mematung. Rasanya seperti semua suara di sekeliling tiba-tiba lenyap. Yang tertinggal cuma detak jantung Rana yang makin kencang—dan detakku sendiri yang nggak kalah panik.
"Mas..." suaranya kecil, hampir seperti bisikan.
"Ini beneran ya?"
Aku berdiri pelan, mendekatinya. Tatapan matanya campur aduk—antara takut, bingung, dan mungkin... sedikit kecewa.
Aku peluk dia. Pelan, tapi erat. Seerat yang bisa aku lakukan saat aku sendiri sebenarnya belum tahu harus gimana.
"Iya, ini beneran. Tapi nggak apa-apa, Ran... kita akan hadapi bareng-bareng."
Dia nggak langsung menjawab. Tangannya meremas ujung bajuku, tubuhnya bergetar pelan. Aku bisa rasakan napasnya di leherku, pendek dan tidak stabil.
"Aku masih kuliah, Mas," katanya, hampir seperti anak kecil yang takut dimarahi.
Aku mengangguk pelan, walau dia nggak bisa lihat. "Iya, aku tahu. Tapi kamu nggak sendirian. Kita bakal cari jalan. Pelan-pelan."
Tapi di dalam hati... aku hancur.
Bukan karena dia hamil. Tapi karena aku tahu, kehamilan ini... aku yang bawa dia ke sini. Rana masih muda, masa depannya masih panjang. Dia punya mimpi, punya semangat. Dan sekarang, semuanya harus berubah. Bukan karena dia salah langkah, tapi karena aku.
Aku merasa gagal menjaga dia. Harusnya aku lebih bijak. Harusnya aku lebih hati-hati. Dia sudah cukup banyak berkorban buat masuk ke hidupku yang jauh dari sederhana. Sekarang, dia harus mikir soal popok, imunisasi, skripsi yang keteteran, badan yang capek... di usianya yang masih belasan akhir.
Tapi aku nggak bisa biarkan rasa bersalah itu merusak momen ini.
Dia butuh aku kuat. Maka aku harus kuat. Walau hati ini penuh lubang.
Aku usap punggungnya pelan, mencondongkan wajahku ke arah telinganya. "Rana..." bisikku, "kamu luar biasa kuat. Dan kamu nggak sendiri. Mulai dari detik ini, aku janji... aku bakal jagain kamu dan anak kita. Sekuat yang aku bisa."
Dia terisak pelan, dan itu cukup buat ngebuat mataku ikut panas. Tapi aku tahan. Bukan karena aku ingin terlihat kuat... tapi karena dia butuh sandaran sekarang. Bukan sosok yang ikut limbung.
"Kalau kamu mau tetap kuliah, aku bakal bantu semampuku. Aku akan jagain bayi kita waktu kamu kelas. Aku belajar masak deh, belajar mandiin bayi juga. Aku pelan-pelan belajar jadi suami dan Papa yang baik. Buat kamu dan dia."
Kata-kata itu mungkin terdengar sederhana, tapi aku mengatakannya dengan seluruh hati.
Karena dia layak dapat itu. Layak merasa aman. Layak merasa dicintai, meski dunia seolah menyorot dia dengan tatapan penghakiman nanti.
Dan aku akan jadi tameng pertama yang berdiri paling depan.
Meski dalam hati ini, aku terus bergumam pelan,
"Maaf ya, Ran. Aku janji, ini bukan akhir dari hidupmu. Ini cuma awal baru—dan kamu nggak akan jalan sendirian."
....
Aku nggak pernah tahu pasti sejak kapan perasaan ini mulai tumbuh. Mungkin sejak pertama kali dia nyebut namaku dengan nada lembut yang entah kenapa bikin dada sesak. Atau sejak dia dengan polosnya nanya, "Mas udah makan?" dengan wajah cemas yang nggak dibuat-buat.
Rana bukan perempuan yang meledak-ledak. Dia juga nggak terlalu pandai basa-basi. Tapi dari caranya ngelipat baju dengan rapi, dari cara dia nyusun bekal buat aku pagi-pagi, dari caranya nyebut nama aku waktu lagi capek—aku tahu, dia punya cara sendiri buat nunjukin cinta.
Dan aku, yang selama ini ngerasa cinta itu harus besar, harus hebat, harus dramatis... akhirnya sadar, ternyata cinta bisa sesederhana pulang ke rumah dan tahu ada seseorang yang nungguin.
Kami terpaut usia cukup jauh. Awalnya aku pikir itu akan jadi tembok. Tapi justru itu yang bikin aku makin yakin. Rana mungkin jauh lebih muda, tapi hatinya—dewasa. Dia tahu kapan harus bicara, kapan harus diam. Dia tahu kapan harus tegas, dan kapan cukup jadi tempat bersandar.
Aku bukan orang yang jago ngungkapin cinta pakai kata-kata manis. Tapi aku selalu pastikan termos air panas dia penuh. Aku pastiin dia makan, walau kadang dia lagi males ngunyah. Aku selalu dengerin dia cerita, walau topiknya kadang muter-muter di skripsi yang itu-itu aja.
Dan setiap aku lihat dia senyum—senyum yang kecil, sederhana, tapi tulus—aku tahu, tempatku memang di samping dia. Bukan buat jadi sempurna, tapi buat terus belajar jadi versi yang lebih baik. Buat dia.
Buat Rana yang nggak pernah minta banyak, tapi selalu ngasih lebih dari cukup. Rana yang bisa bikin rumah terasa hidup, hanya dengan duduk diam di pojok ruangan sambil melipat baju dan bersenandung kecil.
Kadang aku ngerasa nggak pantas. Tapi kalau cinta itu bukan soal pantas, kalau cinta itu soal pilihan... maka aku akan terus pilih dia.
Hari ini, besok, dan kalau Tuhan izinkan, sampai tua nanti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ramadhan Tale [ Revisi ]
Chick-Lit📢 Extended part / Before Tale #partoframadhantale sudah tersedia di karyakarsa (link on bio). [marriage life series 1] Dulu, Ramadhan buat Rana cuma tentang bangun sahur, puasa, dan ngabuburit nunggu buka. Tapi tahun ini? Rasanya lebih kayak ujian...
![Ramadhan Tale [ Revisi ]](https://img.wattpad.com/cover/337769177-64-k763443.jpg)