Jisoo, gadis manis penuh dengan keceriaan dan semangat untuk meraih cita-citanya menjadi seorang artis. Dibuktikan dengan studinya di School of Performing Arts Seoul atau dikenal dengan SOPA. Dibesarkan di keluarga yang harmonis menjadikan ia tumbuh...
Haein baru saja selesai menidurkan Hyunsu, dan kini berdiri diam di ambang pintu kamar Jisoo. Ia ragu beberapa detik sebelum akhirnya mengetuk pelan.
Jisoo membuka pintu dengan kaos longgar dan rambut yang masih basah. "Kau belum tidur?"
"Aku... hanya ingin memastikan kau baik-baik saja." Suaranya lembut, hampir seperti bisikan.
Jisoo mengangguk. "Masuklah. Aku juga tidak bisa tidur."
Haein masuk, menutup pintu perlahan. Lampu kamar hanya menyala redup, memberikan semburat cahaya hangat. Jisoo duduk di tepi ranjang, diikuti Haein yang menyandarkan punggungnya ke sisi ranjang yang sama.
Hening menyelimuti mereka.
Haein memejamkan mata. "Aku mencintaimu, Jisoo. Dalam diam, dalam luka, dalam ketakutan. Dan aku tidak akan pergi."
Perlahan, Jisoo menyandarkan kepalanya ke dada Haein. Ia bisa mendengar degup jantung pria itu, keras dan jujur. Jari-jari Haein bergerak menyentuh rambut Jisoo, membelainya lembut.
Haein memeluk erat Jisoo, menjaga diam-diam perempuan yang telah ia sakiti, tapi kini ia ingin lindungi dengan seluruh jiwanya.
"Kim Jisoo, bersediakah kau menikah denganku"
Jisoo spontan mendongakkan kepala melihat wajah Haein dengan serius.
"Aku menemukan kembali semangatku untuk hidup berkat kehadiran kalian, aku ingin selalu menjagamu, menjaga hyunsu kita. Namun, jika ini terlalu cepat, tidak apa, aku bisa menunggu selama apapun itu."
Jisoo hanyut dalam pikirannya, diam tidak merespon apapun.
Keesokan harinya, hujan turun pelan, Haein dan Hyunsu duduk di lantai ruang tengah, bermain puzzle. Jisoo mengamati dari dapur, senyumnya kecil tapi nyata.
"Appa, kenapa potongan ini nggak cocok?" tanya Hyunsu kesal.
Haein tertawa. "Coba lihat baik-baik. Kadang yang kita pikir cocok... ternyata bukan bagian yang pas. Tapi kalau kita sabar, akhirnya ketemu juga."
Jisoo mendengar itu, dan dadanya menghangat. Ia tahu kalimat itu bukan hanya untuk puzzle. Tapi untuk mereka.
Dan hari itu, meski tanpa perayaan, tanpa ucapan yang besar, mereka tahu, ini adalah keluarga. Retak, tapi tetap bisa dibentuk kembali. Bukan sempurna, tapi penuh upaya. Jisoo menemukan keyakinan dalam diri untuk bisa membangun keluarga bahagia bersama mereka.
"Benarkah" Haein segera menghampiri Jisoo dan memeluk erat tubuh kecil itu "Gumawo Jisoo, aku akan menjaga keluaga ini sampai kapanpun".
Jisoo menyambut hangat pelukan Haein dna menyandarkan kepalanya di dada bidang calon suaminya itu.
***
Keesokan harinya, mereka berdua keluar dari gereja sederhana setelah selesai berikrar setia satu sama lain, disaksikan putra kecil mereka, Mingkyu dan Sehun. Meskipun berat, Sehun berusaha melepas Jisoo untuk kakak tirinya. Cinta pertamanya itu harus dikubur dalam-dalam untuk selamanya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jung Jisoo kini menjadi nama baru Jisoo, begitupun dengan Hyun Su yang telah berganti marga mengikuti ayah kandungnya.
Malamnya, bertepatan dengan perayaan hari jadi perusahaan, Haein dengan bangga menggandeng istrinya dan memperkenalkan keluarga kecilnya didepan seluruh tamu perusahaan. Mereka terlihat harmonis dan saling menyayangi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Malam itu, sorot lampu kristal di ballroom megah memantulkan kilauan gaun sederhana berwarna hitam yang dikenakan Jisoo. Tangannya digenggam erat oleh Haein, dan di sisi lain, Hyunsu menggenggam tangan ibunya, mengenakan setelan kecil dengan dasi kupu-kupu yang membuatnya terlihat menggemaskan.
"Ini istri saya, Jung Jisoo... dan putra kami, Jung Hyunsu," ucap Haein dengan suara mantap, memancarkan kebanggaan yang tak bisa disembunyikan.
Para hadirin memberi tepuk tangan, beberapa tersenyum hangat. Kamera wartawan perusahaan menyorot mereka, mengabadikan momen langka seorang CEO CJ memperkenalkan keluarganya secara langsung.
Di antara kerumunan, Sehun berdiri diam, bibirnya tersenyum tipis meski matanya tak bisa menyembunyikan luka. Di sampingnya, Mingkyu menepuk bahunya pelan. "Kau bisa melewati ini, Sehun."
Sehun hanya mengangguk pelan.
Setelah acara selesai, Haein dan Jisoo duduk berdua di balkon kamar mereka di hotel tempat perayaan berlangsung. Angin malam berhembus lembut, dan suara musik pelan dari lantai bawah terdengar samar.
"Kau lelah?" tanya Haein, menyodorkan segelas teh hangat.
Jisoo menerimanya, mengangguk pelan. "Sedikit. Tapi bahagia." Ia menoleh, memandang Haein dengan mata yang jernih. "Terima kasih... karena sudah memperjuangkan kami."
Haein mencium pelipis Jisoo. "Ini baru awal. Aku tahu jalan di depan tidak mudah, tapi aku akan berjalan bersamamu. Setiap langkah."
Tidak peduli dengan keramaian pesta di lantai bawah, desahan tiada henti keluar sebagai tanda besarnya gairah dua pasangan suami istri baru ini. Dinginnya AC dalam kamar itu, tidak mampu menahan keluarnya keringat akibat pergulatan panjang mereka. Meskipun ini bukan pertama kalinya bagi mereka, tapi rasanya sungguh luar biasa membuat tak ingin berhenti.
"Haein-ah, aku lelah" seloroh Jisoo dengan mata memelas
"Sekali lagi sayang" pinta Haein dengan nada seductive
"Tadi juga bilangnya sekali lagi" protes Jisoo
"Aku janji, ini benar-benar yang terakhir untuk malam ini" Haein segera menyatukan tubuh mereka kembali dengan tenaga penuh.
Keesokan paginya, tubuh Jisoo terasa remuk dengan nyeri yang tiada tara di kemaluannya. Berjalan terasa sangat menyakitkan bagi Jisoo. Namun, putra kecilnya sudah menunggu untuk sarapan bersama di restaurant hotel itu. Jisoo terpaksa harus menemui Hyunsu nya.
"Sebaiknya kamu makan di kamar saja sayang" pinta Haein.
"Tadi malam kita sudah mengabaikan Hyunsu, aku tidak mau dia sarapan sendirian pagi ini" jelas Jisoo
Haein diam menerima penjelasan Jisoo dan membiarkannya keluar kamar. Haein mengiringi langkah pelan Jisoo menghampiri kursi dimana putranya menunggu.