18 - Mimpi

56 5 1
                                        

Dengan lembut, Jisoo menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan degup jantungnya yang tiba-tiba berdegup tak karuan. Tatapan mata Haein yang serius namun penuh kelembutan itu seakan membakar semangat yang sudah lama ia kubur dalam-dalam.

"Aku berhenti mencintai diriku sendiri setelah Ayah pergi..." Jisoo membuka suara dengan lirih, menunduk menatap tangannya yang kini digenggam erat oleh Haein. "Aku mulai hidup hanya untuk bertahan, bukan untuk bermimpi. Rasanya seperti semua warna di hidupku memudar... sampai aku memiliki Hyun Su... dan kemudian kamu."

Suasana ruang kantor itu seketika menjadi sangat hening. Bahkan detak jam dinding terdengar begitu keras. Haein hanya mendengarkan, menunggu tanpa menyela.

"Dulu, aku ingin jadi aktris," lanjut Jisoo. "Bukan karena ingin terkenal, tapi karena aku suka berdiri di atas panggung... jadi karakter yang bukan aku, melepaskan semua beban dan menjadi seseorang yang bebas. Tapi ....."

Ia terisak perlahan. Air matanya mulai mengalir, namun kali ini bukan karena luka yang sama. Melainkan luka lama yang akhirnya berani ia hadapi.

Haein menggeser duduknya, kini berada tepat di hadapan Jisoo. Ia menghapus air mata wanita itu dengan jempolnya, sangat hati-hati seakan takut menyakitinya. "Jisoo... aku tahu aku datang terlambat dalam hidupmu. Tapi izinkan aku untuk menyaksikanmu kembali berdiri di atas panggung itu. Bukan sebagai penonton biasa, tapi sebagai seseorang yang ingin melihatmu bersinar, lebih dari siapa pun."

Jisoo menggigit bibirnya menahan emosi yang meluap. "Kau yakin? Apakah mereka bisa menerima karyaku setelah mengetahui masa lalu kita?."

"Aku lebih yakin daripada apa pun. Aku akan jadi tamengmu. Aku akan melindungi mimpi itu, Jisoo. Dengan hidupku jika perlu."

Tatapan mereka terkunci. Tak ada kata yang bisa menggambarkan bagaimana hati mereka bergetar saat itu. Untuk pertama kalinya, Jisoo merasakan betapa mewahnya dicintai tanpa syarat. Bukan sebagai ibu tunggal, bukan sebagai perempuan yang memiliki masa lalu rumit tapi sebagai dirinya sendiri, sebagai Kim Jisoo yang ingin hidup dan bermimpi kembali.

"Aku akan mencoba... untuk berdiri di atas panggung itu lagi," ucapnya akhirnya, dengan suara yang hampir berbisik.

Haein tersenyum, sebuah senyum yang hangat dan penuh kemenangan. Ia kemudian menarik tubuh Jisoo ke dalam pelukannya, menutup mata sejenak, meresapi detik-detik di mana cinta mereka kini bukan hanya tentang rasa tapi tentang keberanian.

"Bermimpilah setinggi langit, Jisoo... karena aku akan selalu berada di bawah untuk menangkapmu jika kau jatuh." 

***

Pagi itu, rumah mereka terasa berbeda. Haein bangun lebih pagi dari biasanya, memasak sarapan sederhana dengan penuh semangat. Di dapur, aroma toast dan telur dadar menyambut pagi yang penuh harapan. Hari ini, Jisoo akan mengikuti audisi akting pertamanya setelah bertahun-tahun meninggalkan dunia itu.

"Hyunsu-ah, bangun. Hari ini kita harus jadi tim sorak untuk eomma," bisik Haein sambil membelai rambut putranya.

Hyunsu membuka mata dan mengangguk dengan antusias. "Eomma mau jadi artis?"

"Bukan 'mau', tapi 'akan'. Kita harus dukung dia penuh, ya?"

Hyunsu tersenyum lebar. "Ne, appa!"

Setelah sarapan, Jisoo keluar dari kamar dengan pakaian sederhana tapi rapi. Rambutnya dikuncir setengah, wajahnya natural tapi tetap bersinar. Di matanya tampak gugup, tapi juga tekad yang kuat.

 Di matanya tampak gugup, tapi juga tekad yang kuat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jisoo tersenyum kecil. "Aku sudah lupa rasanya berdiri di depan kamera untuk audisi. Tapi aku mau coba... untuk diriku sendiri."

"Dan untuk menebus impianmu yang sempat tertunda," sambung Haein pelan. "Kami di sini mendukungmu."

Hyunsu menghampiri ibunya dan menyodorkan gambar kecil, Jisoo sedang berdiri di atas panggung dengan cahaya menyinarinya.

"Ini untuk eomma. Biar semangat."

Jisoo menahan air mata. Ia menunduk, memeluk putranya dengan lembut. "Gomawo, sayang..."

Di ruang audisi, Jisoo berdiri tegak. Di luar ruangan, Haein dan Hyunsu menunggu sambil sesekali melihat jam. Waktu seolah berjalan lambat.

Tak lama kemudian, pintu terbuka. Jisoo keluar dengan napas terengah, matanya berkaca-kaca. Haein langsung berdiri.

"Bagaimana?"

Jisoo menggigit bibir. Lalu tertawa kecil, setengah menangis. "Aku lupa satu baris dialog... tapi aku improvisasi. Mereka... tersenyum."

"Artinya kau menaklukkan mereka," kata Haein bangga.

Hyunsu melompat memeluknya. "Eomma pasti lolos!"

Jisoo memeluk mereka berdua. Di tengah kesederhanaan momen itu, dia merasa utuh. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa tidak sendirian.

Masa lalu mereka tidak bisa dihapus. Tapi hari ini, mereka menulis bab baru. Bab yang dimulai dengan keberanian, pengampunan, dan cinta.

Cruel LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang