Taehyung kembali dengan wajah pucat. Pekerjaan kantornya berantakan, dan pernikahan yang selama ini coba ia pertahankan mulai runtuh di hadapannya. Irene bahkan mengabaikannya sejak pertemuannya dengan Yeri dua hari lalu—sebuah pertemuan yang berubah menjadi medan perang kata-kata dan emosi.
Pertemuan itu meninggalkan luka. Yeri datang dengan amarah yang membara, dan Taehyung tahu, ia tak akan melepaskan Yeonjun begitu saja.
Begitu tiba di rumah, Taehyung merobek dasi dari lehernya—seolah ingin melepaskan jerat yang sejak pagi menahan napasnya. Tanpa pikir panjang, ia meraih ponsel dan menekan nomor yang sudah dihafalnya, naman pengacaranya muncul dilayar ponsel Taehyung.
“Hallo… Katakan, apakah ini bisa berhasil?” Suaranya terdengar tergesa, nyaris memohon, tanpa memberi waktu bagi lawan bicaranya untuk menyapa.
“Maaf, Tuan. Seperti yang saya katakan, Tuan Muda menolak untuk kembali. Nyonya Yeri… memiliki kendali penuh atasnya.”
Taehyung memejamkan mata. Urat di pelipisnya berdenyut. “Aku tidak ingin melakukan ini… tapi jika keadaan mendesak, kita gunakan cara terakhir.”
“Baik.”
Klik. Sambungan terputus, meninggalkan keheningan yang terasa menekan dada. Taehyung menatap kosong ke arah dinding, teringat pada wajah Yeri yang dipenuhi amarah—tatapan yang membuatnya takut. Wanita itu… seperti orang asing sekarang.
Taehyung berdiri di ruang tamu yang remang, hanya ditemani dengung pendingin ruangan dan detak jam dinding yang terdengar terlalu keras malam itu. Ia menatap gelas kosong di meja, tangannya gatal ingin menuang minuman keras, tapi ia tahu kepalanya harus tetap jernih.
Yeonjun.
Nama itu terus berputar di kepalanya. Bukan sekadar nama, tapi darah dagingnya. Anak yang ia besarkan, ia jaga, tapi kini berada di tangan orang yang meninggalkannya.
Ia berjalan menuju rak buku di sudut ruangan, membuka laci rahasia. Di dalamnya, sebuah map cokelat tersimpan rapi. Di dalamnya, ada dokumen-dokumen, foto, dan… satu surat lama. Surat dari Yeri, bertahun-tahun lalu, sebelum semua ini hancur.
Tangannya gemetar saat menyentuh kertas itu. Ia ingat betul tulisan tangan itu—hangat, penuh cinta. Sekarang? Semua yang tersisa hanyalah kebencian.
Suara pintu depan terbuka memutus lamunannya. Irene berdiri di ambang pintu, wajahnya dingin, tatapannya penuh penilaian.
“Kamu kelihatan payah,” ucapnya datar.
Taehyung mengabaikannya, menutup laci, menyembunyikan map itu kembali. “Kamu dari mana?”
“Bukan urusan kamu,” jawab Irene sambil melangkah melewatinya. Aroma parfum asing menempel di udara.
Taehyung mengepalkan tangan. Malam itu, ia merasa terkepung—oleh pekerjaan, oleh pernikahan yang retak, oleh Yeri, oleh Irene… dan oleh ketakutan kehilangan Yeonjun untuk selamanya.
Ia tahu, satu-satunya jalan keluar adalah langkah yang bahkan ia sendiri benci untuk ambil.
____
Di meja makan yang penuh tumpukan berkas, Yeri duduk dengan kepala tertunduk. Lampu gantung di atasnya menyinari wajah yang pucat karena kurang tidur. Dua malam ini, matanya nyaris tak terpejam—setiap kali mencoba, bayangan Yeonjun yang tersenyum selalu datang, lalu disusul wajah Taehyung yang dingin.
“Ini semua demi kamu, Jjunie,” bisiknya lirih, jemarinya mengusap foto kecil Yeonjun yang terselip di antara berkas.
Di depannya, seorang wanita paruh baya—pengacaranya—membolak-balik dokumen. “Kita punya peluang besar, Nyonya. Riwayat kesehatan Yeonjun, catatan medisnya, juga pernyataan dari dokter yang menyarankan ia tetap bersama Anda. Semua ini menguatkan posisi kita.”
Yeri mengangguk pelan, tapi hatinya terasa sesak. Ia benci menyebut ini perjuangan hukum. Baginya, ini adalah perang mempertahankan anaknya.
“Saya juga minta satu hal lagi,” lanjut pengacara itu. “Anda harus siap menjawab pertanyaan tentang… perpisahan Anda dengan Tuan Taehyung. Pengadilan akan menekan soal itu.”
Yeri menegakkan tubuh, matanya tajam. “Saya siap. Saya tidak akan membiarkan mereka membelokkan cerita.”
Malam itu, setelah pengacaranya pulang, Yeri berjalan ke kamar Yeonjun. Tempat tidur itu rapi, selimutnya terlipat seperti menunggu seseorang kembali. Ia duduk di tepi ranjang, menunduk, lalu berbisik, “eomma nggak akan biarin kamu diambil, Jjunie… apa pun yang terjadi.”
Angin malam masuk lewat jendela yang terbuka sedikit, membawa aroma hujan yang baru reda. Yeri menggenggam foto Yeonjun erat-erat, seolah itu adalah pegangan terakhirnya di dunia yang kini terasa rapuh.
Tbc...
Oiii aku upp , makasih yaa yang udah mau nunggu ini cerita end ... Kayaknya 2 episode lagi ini cerita end, akhirnya setelah tiga tahun eh dua apa berapa sih...
Aku sebenarnya insecure parah sama cerita ini, karena udah aku ketik dari 2020(kalo nggak salah) terus sempet aku up aku drop lagi dan gitu terus sampe akhirnya aku Hiatus panjang ... Tapi waktu aku tanya masih ada yang nunggu enggak , ternyata oh ternyata masih ada yang nunggu dan akhirat aku mutusin buat lanjut biarpun otak aku hampir meledak ... Makasih yaa udah sabar nunggu
(っ˘̩╭╮˘̩)っ...
kalian sadar nggak sih gaya penulisan aku kaya banyak berubah , kalian suka yang baru² ini apa yang lama sih...
Aku mau baca ulang ceritanya tapi takut enek sendiri, kaya alay banget ketikan aku dichapter awall...
Gimana menurut kalian ༎ຶ‿༎ຶ ayooo komen siapa tau aku bisa lanjut bikin cerita lain. Karena sebenernya aku ada satu cerita lagi dari member txt yang belum aku up tapi udah end sihh. Sebelum itu aku mau tau pendapat kalian soal gaya cerita aku ....
Okee sampai jumpa lagi di chapter berikutnya (◍•ᴗ•◍)
KAMU SEDANG MEMBACA
Not Alone
Teen FictionTak semudah yang di bayangkan untuk yeonjun kehilangan keluarga utuhnya, tak mudah yang di bayangkan bagi jang yeri harus mengetahui suaminya berselingkuh, kebodohan yang di lakukan taehyung cukup parah namun semua keberuntungan selalu menyertainy...
