17. Liberty Bell

55 5 2
                                        

Jangan lupa vote dan komen
Satu part lagi kita bakal di penghujung cerita...
Seperti yang aku bilang sebelumnya kalau cerita ini bakal dihapus jadi kepada para pembaca yang saya cintai dan hormati untuk mempersiapkan diri.
Bohong ya aku nggak sedih ... nggak tau kenapa cerita ini terlalu membekas buat aku mungkin karena ini satu satunya cerita yang aku garap sampe selesai...

Tapi karena cerita ini juga terlalu aneh apalagi awal aku nulis ini aku masih bokem , makanya vibe nya terlalu alay buat aku ..

Alasan aku hapus juga karena gaya penulisan aku yang dichapter awal terlalu lebay dan terkesan memaksa yang bikin aku pengen hapus ini cerita biar aku aja yang malu kalian jangan ...

Dah jangan basa basi lagi kita lanjut ke cerita

Taehyung menunduk, wajahnya suram. Bohong jika ia mengatakan tidak takut pada Yeri. Kenyataannya, Taehyung sangat takut. Takut jika ia terlalu keras, Yeri akan kembali menghilang. Namun, jika Yeonjun pergi dari hidupnya, maka hilang pula ikatan terakhir yang masih menghubungkannya dengan Yeri.

“Sial… sial… sial!” Taehyung menghantam meja bar dengan keras. Botol dan gelas vodka berhamburan, ruangan remang-remang itu dipenuhi dentuman musik, tapi suara bising itu tak mampu meredam kegaduhan di kepalanya.

Entah bagaimana, beberapa saat kemudian ia sudah berdiri di depan rumah sakit tempat Yeri bekerja. Langkahnya terhuyung, namun tekadnya teguh. Malam semakin larut, udara dingin menusuk.

“Dokter Yeri…,” ucapnya kepada resepsionis dengan suara berat.

“Maaf, Tuan. Apa sebelumnya sudah membuat janji dengan dokter?” tanya suster berjaga, sopan namun hati-hati.

“Sial!” bentak Taehyung, aroma alkohol pekat dari mulutnya. “Katakan saja di mana Yeri! Katakan padanya suaminya datang menjemput!”

Tubuhnya akhirnya ambruk ke lantai, bergumam tak jelas. Keributan itu sontak menggegerkan lobi rumah sakit, terlebih saat beberapa orang mendengar Taehyung menyebut dirinya sebagai suami dari dokter senior mereka.

Yeri, yang kebetulan sedang berjaga, mendengar kegaduhan itu. Langkahnya terhenti ketika melihat sosok yang sangat dikenalnya—mantan suami yang paling ingin ia lupakan. Dengan bantuan beberapa perawat, Yeri menyeret tubuh Taehyung ke ruang rawat.

“Sayang… kamu sudah pulang?” Taehyung meraih tangan Yeri yang sibuk menyiapkan infus.

“Berhenti, bajingan. Aku bukan Irene,” tegas Yeri, melepaskan genggamannya.

“Siapa yang bilang kamu Irene?” gumam Taehyung lirih. “Kamu Yeri… Jang Yeri… istriku… satu-satunya.”

Kata-katanya melantur, namun tatapannya penuh keyakinan. Tangan besar itu meraih Yeri dan menariknya ke dalam pelukan.

Beberapa perawat yang melihat adegan itu menunduk, wajah mereka memerah. Bagaimanapun, Taehyung tetaplah pria yang terlalu tampan untuk dilihat rapuh seperti ini.

Yeri mencoba mendorong tubuhnya, tapi sia-sia. Sampai akhirnya ia terhenti ketika mendengar suara isakan. Tangisan Taehyung pecah, tubuhnya bergetar hebat.

“Aku merindukanmu… sangat merindukanmu. Jangan pergi lagi, aku mohon… Yeonjun—anak kita—seharusnya kita membesarkannya bersama. Tapi kenapa… kenapa kamu pergi?” suaranya pecah, penuh penyesalan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 01, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Not AloneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang