12. Battlefield

57 7 3
                                        

Tiga puluh menit telah berlalu sejak Yeri duduk di meja kafe itu.
Ia menunggu dengan sabar, membungkus semua kekesalan dan kecewa dalam kesunyian. Kali ini, ia datang bukan sebagai mantan kekasih. Ia datang sebagai seorang ibu.

Beberapa menit kemudian, Yeri melihat sosok yang ia kenal dengan sangat baik—Taehyung.
Pria itu datang dengan buket bunga besar di tangannya, senyumnya merekah saat matanya menemukan Yeri yang duduk tenang, seperti dulu saat mereka masih saling mencintai.

Langkah Taehyung penuh semangat, seolah tidak ada luka di antara mereka. Parfum Yeri yang familiar menusuk hidungnya, dan wajah cantik wanita itu kembali terlihat begitu nyata di hadapannya.

“Maaf aku membuatmu menunggu,” ucapnya lembut.

Yeri mengangguk pelan. “Duduklah.”
Suaranya datar, namun cukup untuk membuat Taehyung merasa sedikit nyaman.

Taehyung menarik kursi dan duduk, menatap Yeri dengan sorot mata yang belum hilang rasa.
“Jadi... bagaimana kabar Yeonjun? Dia belum menghubungiku. Pesanku pun belum dibalas.”

Yeri menatap lurus ke depan, matanya dingin.
“Dia sudah membaik. Sekarang aku sedang mencarikan donor hati yang cocok untuknya. Kondisi organ hatinya sudah parah. Dokter bilang itu karena dia jarang melakukan pemeriksaan rutin selama tinggal bersamamu.”

Wajah Taehyung berubah.
“Aku—”

“Dokter juga bilang, kondisi ini bisa dicegah kalau ditangani sejak awal. Tuan Kim, sudah kukatakan: jaga Yeonjun baik-baik.”

Taehyung terdiam. Hatinya menegang. Selama ini, ia mempercayakan semuanya pada Irene—berharap kedekatan itu akan menumbuhkan hubungan yang hangat antara ibu tiri dan anak. Namun nyatanya... itu justru menghancurkan segalanya.

“Aku... aku sudah berusaha melakukan yang terbaik,” ucapnya lirih.

Yeri menghela napas berat. “Ini yang kamu sebut terbaik? Kondisi Yeonjun yang seperti itu? Astaga, Kim... kamu benar-benar bodoh.”
Ia memijit pelipisnya, menahan amarah yang hendak meledak.

“Maaf...”

“Bukan padaku. Minta maaflah pada Yeonjun. Pukulan itu, Taehyung. Pukulanmu masih membekas—bukan hanya di tubuhnya, tapi di hatinya.”

Taehyung hanya menunduk, tak bisa membantah. Kenyataan itu terlalu menyakitkan bahkan untuk dirinya sendiri.

Keheningan menyelimuti mereka.
Yeri menatap wajah lelaki yang dulu pernah ia cintai. Luka di hatinya masih terasa. Dan kenangan itu... tetap membayang meski ia berusaha melupakan.

Perlahan Yeri menarik napas dalam-dalam. Kini saatnya.

“Aku akan mengajukan gugatan hak asuh anak.”
Suaranya tegas, mengiris diam di antara mereka.
“Yeonjun sudah menyetujuinya. Surat gugatan mungkin akan segera sampai di rumahmu.”

Taehyung terdiam. Tangannya refleks melemah, buket bunga mawar merah yang dibawanya terjatuh. Kelopaknya berhamburan di lantai seperti sisa harapan yang hancur.

Yeri menatapnya dingin. “Aku tidak peduli dengan apa yang akan kamu lakukan. Tapi kali ini aku akan berjuang. Dan aku bersungguh-sungguh untuk putraku.”

Taehyung mengepalkan tangan, lalu menatap Yeri.
“Yeri... aku tahu kamu marah. Tapi sama sepertimu, aku juga tidak akan kalah.”

Tidak ada nada arogan. Tidak juga ancaman. Itu peringatan yang tenang, namun kuat.

Taehyung tertawa hambar. “Kamu meninggalkannya. Yeonjun tumbuh bersamaku, menangis di pelukanku setiap malam karena merindukanmu. Aku yang ada di sisinya, bukan kamu.”

Taehyung menghela napas berat. Ia tidak ingin mengungkit masa lalu, tapi Yeri juga lupa—dia pernah pergi.

“Aku tahu kamu akan mengungkit itu,” balas Yeri. “Tapi selama ini, aku selalu mengirim orang untuk mengawasi Yeonjun. Dan aku tahu setiap perlakuan buruk Irene padanya. Berkali-kali aku datang, tapi wanita itu—”
Yeri berdiri. Matanya berkaca-kaca. Nafasnya terengah oleh kemarahan.

“Wanita itu, Irene—sial! Menyebut namanya saja membuatku muak! Bajingan itu menghalangi aku bertemu anakku!”
Dengan gerakan cepat, ia mencengkeram kerah kemeja putih Taehyung. Emosinya meledak.

Taehyung hanya diam. Matanya menyiratkan penyesalan yang mendalam.
Yeonjun adalah satu-satunya yang tersisa dari hubungan mereka. Dan Taehyung masih berharap, setidaknya... ia bisa menyelamatkan satu hal itu.

Perlahan, ia mengangkat tangannya, menyentuh lembut tangan Yeri yang mencengkeram bajunya.

“Apa kamu marah? Aku mengerti. Tapi Yeonjun adalah anak kita. Sama sepertimu, aku juga menginginkannya. Tak bisakah kamu memberiku satu kesempatan lagi... hanya satu?”

Yeri menarik tangannya. “Tidak. Kesempatan itu hilang sejak kamu memukul Yeonjun-ku.”

Tanpa menunggu reaksi, Yeri mengambil tasnya. Tak ada salam. Tak ada sisa simpati.

“Jangan terlambat datang ke persidangan,” katanya dingin, lalu pergi meninggalkan Taehyung yang masih duduk terpaku di tempatnya.

TBC ... Aku udah up nggak ada nih yang mau nyapa aku gitu

Not AloneTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang