16. Secret Key

24 4 4
                                        

Please baca dulu
Jadi aku mau tutup cerita ini dipart 18😭🙏🏻 (nggak tau kenapa wp aku kayanya error masak jadi 16 ...)

Karena satu dan lain hal aku mau hapus cerita ini ... Jadi sebelum aku bener² hapus cerita ini aku minta maaf ya kalau aku up selalu lama dan kurang enak dibaca ...

Kalian bisa baca dulu sebelum aku hapus😭

Oke nggak usah lama lama lagi kita lanjut ke ceritanya....

Yeri terduduk di kursi kerjanya. Lampu neon putih pucat memantul di wajah lelahnya, kantung mata hitam tampak jelas setelah berjam-jam berada di ruang operasi. Jarum jam dinding menunjuk pukul tiga dini hari, rumah sakit masih saja ramai dengan riuh langkah kaki perawat dan suara mesin monitor pasien yang berdengung tak henti.

Pintu ruangannya berderit pelan, menyingkap sosok yang sudah lama ia nantikan. Shin Hye Ra berdiri di sana, tubuhnya ramping dibalut jas panjang berwarna krem, wajahnya seperti biasa tenang—atau lebih tepatnya dingin.

Senyum tipis muncul di bibir Yeri. “Sudah lama?” suaranya singkat, namun mengandung tekad kuat yang tersembunyi.

“Seperti permintaanmu,” jawab Hye Ra, melempar sebuah flashdisk kecil ke meja. Suaranya dingin, tapi ada jejak emosional yang sulit disembunyikan. “Anggap saja hadiah… karena kau sudah menyelamatkan anakku.”

Yeri menatap benda kecil itu, tangannya gemetar ringan saat meraihnya. “Akhirnya kau tahu caranya berterima kasih,” ujarnya, menahan napas. “Sebagai manajer… oh maaf, mantan manajer Irene, kau cukup menakutkan, Shin Hye Ra.”

Senyum sinis tersungging di wajah Hye Ra, mata tajamnya menyapu ruangan sejenak. “Aku tahu lukamu, Yeri. Semoga berhasil di sidang berikutnya.”

“Percayalah,” Yeri menghela napas panjang, “aku akan menang kali ini.”

                                             --

Sementara itu, di tempat lain, Taehyung duduk di ruang kerjanya bersama pengacaranya. Meja kayu mahoni dipenuhi berkas-berkas sidang, secangkir kopi hitam di depannya sudah dingin tak tersentuh. Tatapan matanya tajam, penuh dendam yang tak padam meski malam semakin larut.

“Yeri meninggalkan rumah saat Yeonjun masih kecil,” ucap Taehyung dengan suara rendah namun penuh tekanan. “Itu termasuk menelantarkan anak, bukan?”

Pengacaranya mengangguk pelan sambil membuka catatan. “Iya, saya pikir itu bisa digolongkan sebagai penelantaran. Fakta bahwa dia pergi bertahun-tahun akan memperkuat posisi kita.”

Taehyung mengetukkan jarinya di meja, suaranya seperti dentuman kecil yang sarat emosi. “Dia bahkan tidak pernah menjenguk Yeonjun. Tidak sekalipun. Lalu sekarang, tiba-tiba kembali seolah dia ibu yang paling peduli.”

Pengacara itu menghela napas, mencoba menenangkan situasi. “Kita bisa jadikan itu poin utama dalam sidang. Tapi…” Ia menatap Taehyung ragu. “Kita juga harus siap kalau Yeri membawa bukti baru. Dia bukan orang yang mudah ditaklukkan.”

Mata Taehyung menyipit. Bayangan wajah Yeri memenuhi kepalanya, bersama semua kenangan lama yang ia coba kubur dalam-dalam.

“Aku tidak peduli berapa banyak bukti yang dia bawa,” gumam Taehyung, suaranya serupa racun. “Yeonjun tetap akan bersamaku. Tidak ada yang bisa mengubah itu.”

Namun, jauh di dasar hatinya, ketakutan yang ia coba sembunyikan semakin nyata—takut pada kenyataan bahwa Yeonjun mungkin benar-benar menginginkan Yeri.

__________________________________________________

Keesokan harinya, sekitar pukul sembilan pagi, Yeri kembali ke rumahnya. Rumah itu terasa begitu hening, hanya terdengar bunyi detik jam yang berdetak pelan. Begitu pintu kamar Yeonjun dibuka, ia mendapati anak itu masih tertidur pulas. Wajahnya pucat, tubuhnya tampak kelelahan setelah terapi kemarin. Selimut menutupi tubuh kecilnya, seolah sedang berusaha melindunginya dari dunia luar yang terlalu kejam.

Yeri menatap putranya lama sekali. Ada rasa bersalah yang begitu dalam, bercampur dengan tekad yang keras. Ia ingin semua penderitaan Yeonjun berakhir, tidak lagi hidup dalam ketakutan dan sakit.

“Ada apa?”

Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakang. Yeri hampir terlonjak, buru-buru menoleh.

“Soobin?!” ia menghela napas lega, menepuk dadanya yang berdegup kencang. “Soobin astaga nak.”

Soobin berdiri bersandar di kusen pintu dengan wajah serius. “Eomma terlihat gelisah. Apa yang terjadi?”

Yeri menggenggam erat sebuah benda kecil di tangannya, lalu menyodorkannya pada Soobin. Sebuah flashdisk berwarna hitam. “Ini… di dalamnya ada sesuatu yang penting. Kita harus segera memanggil pengacara. Dengan bukti ini, posisi kita akan aman.”

Soobin menerima flashdisk itu, menatapnya lama seolah benda mungil itu adalah kunci dari semua pertempuran yang sedang mereka jalani. Tanpa banyak bicara, ia mengangguk. “Aku akan memanggilnya sekarang.”

Beberapa menit kemudian, pengacara mereka datang. Wajahnya tampak tegang, langkahnya cepat, seolah sudah merasakan sesuatu yang besar akan terjadi. Ia langsung duduk di ruang tamu, meletakkan tas kerjanya di meja.

“Apa? Bagaimana, berhasil?” tanyanya dengan nada tak sabar, matanya langsung menatap Yeri.

“Iya…” Yeri mengangguk pelan, suaranya bergetar tapi penuh keyakinan. Ia menyerahkan flashdisk itu. “Semuanya sudah ada di dalam sini.”

Sang pengacara segera menyalakan laptopnya. Klik. Klik. Suara tuts keyboard terdengar jelas, memecah kesunyian ruangan. Yeri dan Soobin duduk bersebelahan, keduanya menahan napas.

Satu per satu file terbuka di layar. Rekaman suara percakapan yang selama ini tersembunyi. Catatan keuangan yang penuh manipulasi. Foto-foto yang membuktikan perlakuan kasar Irene terhadap Yeonjun. Dan video—yang membuat Yeri menutup mulutnya sendiri, nyaris menangis—video yang memperlihatkan Irene mendorong Yeonjun dengan kasar, lalu berpura-pura tak bersalah di depan orang lain.

“Ya Tuhan…” suara pengacara itu nyaris berbisik. “Bukti ini… bukan hanya cukup. Ini bisa menghancurkan semuanya.”

Soobin menatap layar dengan rahang mengeras. “Dengan ini, kita bisa menjatuhkan Irene. Dan Taehyung…” ia menoleh ke arah Yeri, ragu, “dia juga bisa ikut terseret.”

Yeri mengatupkan kedua tangannya, berusaha menahan air mata. “Aku tidak peduli dengan karier mereka. Aku hanya ingin Yeonjun selamat. Tidak ada lagi luka, tidak ada lagi ketakutan. Itu saja.”

Pengacara mengangguk mantap. “Kalau bukti ini kita keluarkan di sidang, hasilnya akan berpihak pada kita. Hak asuh bisa berbalik. Tapi ingat, jangan biarkan mereka tahu kita sudah memegang semua ini. Irene licik. Jika dia sadar, dia bisa balik menyerang dengan cara lain.”

Soobin menambahkan dengan nada tajam, “Kita harus main bersih, tapi juga cerdas. Kita simpan ini rapat-rapat. Saat waktunya tiba, kita hancurkan topeng mereka perlahan.”

Yeri menoleh ke arah kamar Yeonjun. Dari pintu yang terbuka sedikit, ia bisa melihat anak itu masih terbaring lemah. Napasnya tenang, seakan tak tahu badai besar yang sedang berkecamuk di luar sana.

“Sebentar lagi, Jun…” bisiknya dengan suara parau. “Semua ini sebentar lagi akan berakhir. Eomma janji.”

TBC...

Not AloneTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang