Tidak ada perubahan berarti pada kondisi Yeonjun. Ruangan VIP yang luas dan bersih tidak serta-merta mempercepat kesembuhannya. Namun, satu hal yang membuat hatinya sedikit lebih tenang—kehadiran ibunya, Yeri, yang setia menemaninya nyaris sepanjang waktu.
Meski begitu, ada satu hal yang masih mengusik pikirannya.
Soobin.
Teman yang kini terasa seperti pengganggu pribadi 24 jam. Kadang mengoceh tanpa henti, kadang hanya duduk memandanginya dengan pandangan kasihan. Semua itu membuat Yeonjun jengah. Seolah-olah dirinya sudah diperlakukan seperti pasien terminal, seperti orang yang tinggal menunggu hari.
"Bahkan kalau aku mati, apa kalian akan berhenti menatapku seperti itu?" pikirnya masam.
“Bagaimana? Kamu suka di ruangan ini?” tanya Yeri lembut, tangannya mengusap rambut anaknya dengan penuh kasih sayang.
Yeonjun mengangguk kecil. “Ya, aku suka.”
Yeri tersenyum, senyum tulus yang hanya bisa dimiliki seorang ibu. Ia meraih apel dari meja, lalu mulai mengupasnya perlahan. Hari ini, dokter memperbolehkan Yeonjun makan makanan lunak, dan itu cukup membuat hati Yeri sedikit lega.
Hening sesaat, sebelum suara Yeonjun yang pelan memecah keheningan.
“Eomma... bolehkah aku ikut eomma nanti?” tanyanya nyaris berbisik.
Yeri terdiam. Ia tahu, pertanyaan itu lebih dari sekadar keinginan untuk ikut pulang. Itu adalah jeritan hati. Yeonjun tidak pernah benar-benar membenci dirinya, Yeri tahu itu. Tapi rasa bersalah yang menyelimuti anak itu… sungguh membuatnya miris.
“Eomma sedang mengurus semuanya,” jawab Yeri tenang, namun matanya menatap tajam wajah anaknya. “Tapi... apa kamu bersedia memberikan kesaksian untuk appa? Aku tahu kamu marah, kecewa, mungkin bahkan membencinya... tapi dia tetap ayahmu, Yeonjun.”
Yeonjun menarik napas panjang. Ia menatap langit-langit, seolah di sana tersimpan jawabannya.
“Aku tidak peduli lagi,” katanya datar. “Dia akan punya anak lain. Kalau aku pergi, dia nggak akan merasa kehilangan apa pun. Mungkin... lebih baik aku hidup bersama eomma.”
Pisau kupas di tangan Yeri berhenti bergerak. Napasnya tertahan. Sekilas, wajahnya menegang. Ada kecewa yang tak bisa ia sembunyikan, meskipun ia sudah bersiap dengan segala kemungkinan.
Yeri benar-benar berharap Taehyung, ayah Yeonjun, akan memperjuangkan anak mereka. Tapi ternyata tidak. Sikap laki-laki itu berlebihan, seolah Yeonjun hanya bagian dari masa lalunya yang bisa dilepaskan begitu saja.
Jika Yeonjun membencinya—kalaupun begitu—Yeri tak akan menghalangi. Ia tak akan membela Taehyung. Karena ia tahu, luka yang dirasakan anaknya bukan luka biasa.
Dan Yeri, hanya bisa menatap buah apel yang belum sempat dikupas sepenuhnya... karena rasanya, hatinya sendiri sudah teriris lebih dulu.
Sementara itu…
Suasana pagi di kediaman keluarga Kim sunyi. Hanya ada denting sumpit yang bergesekan dengan mangkuk. Irene memasang wajah galak, tatapannya menusuk pada Taehyung yang sudah rapi berdiri di depan pintu, bersiap pergi.
“Kamu terlihat bahagia,” ujar Irene dengan suara tajam. “Apakah pertemuanmu dengan Yeri kemarin menyenangkan?”
Taehyung menahan napas. Ia tahu, pertanyaan itu bukan sekadar basa-basi. Itu sindiran. Teguran. Bahkan mungkin—ancaman.
“Irene, ini bukan soal senang atau tidak. Aku harus bertanggung jawab sebagai ayah Yeonjun.”
“Lucu,” Irene menyilangkan tangan. “Kamu baru ingat sekarang? Setelah membuat anak itu trauma? Setelah hampir membuatku kehilangan bayi ini?”
“Aku tidak bermaksud melukainya!” bentak Taehyung. “Aku hanya... aku panik, oke? Aku tidak tahu harus melakukan apa saat kalian berdua terlibat konflik. Aku—”
“Dia mendorongku, Taehyung!” potong Irene, suaranya meninggi. “Kalau aku jatuh dan kehilangan bayi ini, kamu pikir kamu masih bisa melihat wajahku lagi?!”
Taehyung memejamkan mata, kepalanya tertunduk. “Kau juga bersalah, Irene. Kau memperlakukannya seperti beban, bukan anak kecil yang sedang sakit. Dia bukan musuhmu.”
“Aku bukan ibunya,” sahut Irene dingin.
Dan untuk pertama kalinya pagi itu, Taehyung membeku.
Kalimat itu begitu sederhana, namun dampaknya menusuk. Ia tahu Irene tidak menyukai Yeonjun, tapi tak pernah membayangkan dia akan sefrontal ini.
“Aku tahu,” Taehyung akhirnya bersuara, lirih. “Tapi kamu tahu... kamu akan jadi ibu dari anakku yang lain. Aku cuma berharap kamu bisa... tidak membuat luka Yeonjun makin parah.”
“Luka?” Irene tertawa miring. “Kamu pikir anak itu cuma terluka? Dia benci kamu. Dan sekarang kamu juga akan kehilangan dia—karena kamu terlalu pengecut untuk memilih siapa yang akan kamu perjuangkan.”
Kalimat itu menghantam kesadaran Taehyung seperti palu godam.
Di kejauhan, di rumah sakit yang sunyi dan hangat oleh aroma antiseptik dan cahaya matahari pagi, Yeonjun memalingkan wajah dari jendela. Ada setitik harapan—samar dan kecil—bahwa mungkin dunia belum sepenuhnya gelap.
Karena hari ini, ibunya ada di sisinya.
Up up ...
Siapa yang masih nunggu 🤗
KAMU SEDANG MEMBACA
Not Alone
Teen FictionTak semudah yang di bayangkan untuk yeonjun kehilangan keluarga utuhnya, tak mudah yang di bayangkan bagi jang yeri harus mengetahui suaminya berselingkuh, kebodohan yang di lakukan taehyung cukup parah namun semua keberuntungan selalu menyertainy...
