Ruang sidang siang itu seperti ruang bernafas dengan udara yang berat. Langit mendung di luar jendela menambah suasana muram. Derap langkah hakim yang memasuki ruangan terdengar seperti dentang palu perang yang akan menentukan nasib satu anak.
Yeri duduk di sisi kiri bersama pengacaranya, jemari dingin tapi tatapannya lurus penuh keyakinan. Di seberang, Taehyung tampak kaku dengan jas hitamnya. Wajahnya datar, namun matanya menyimpan kegelisahan yang jelas terbaca. Irene duduk di samping, menyilangkan tangan dengan tatapan penuh kemenangan, seolah yakin mereka akan menang hanya dengan modal uang dan status.
Di kursi belakang, Soobin menggenggam tangan Yeonjun erat-erat. Anak itu berusaha menahan tangis, meski dadanya naik turun tidak stabil.
Hakim membuka berkas. Suaranya berat dan berwibawa.
“Sidang hari ini membahas hak asuh anak bernama Kim Yeonjun. Kedua pihak dipersilakan menyampaikan pernyataan.”
Pengacara Yeri berdiri pertama. Nada bicaranya tegas, tapi tetap penuh hormat.
“Yang Mulia, klien kami adalah ibu kandung Yeonjun. Ia telah merawat, mendidik, dan mendampingi anak ini sejak lahir. Kami membawa bukti—catatan medis, keterangan dokter, dan kesaksian yang menunjukkan bahwa Yeonjun memerlukan lingkungan stabil, penuh kasih, bukan sekadar kemewahan. Anak ini butuh ibunya.”
Beberapa orang di ruang sidang mengangguk pelan. Yeri menunduk, berusaha menahan air mata.
Giliran pengacara Taehyung berdiri. Suaranya lantang.
“Yang Mulia, klien kami adalah ayah kandung Yeonjun. Ia mampu memberikan fasilitas terbaik, pendidikan yang layak, dan masa depan yang lebih terjamin. Anak ini butuh keamanan dan disiplin, dan Tuan Taehyung siap memastikan itu. Sementara klien lawan terbukti pernah meninggalkan rumah tangga.”
“Keberatan!” sergah pengacara Yeri.
“Keberatan diterima. Fokus pada hak asuh anak, bukan pernikahan,” hakim menegur tajam.
Ruangan kembali hening.
Hakim lalu menatap Yeonjun.
“Nak, kamu sudah cukup besar. Apakah kamu ingin bicara?”
Yeonjun menelan ludah. Tangannya gemetar, tapi Soobin menepuk bahunya pelan, memberi keberanian. Anak itu berdiri, langkahnya kecil namun terasa berat. Semua mata menatapnya.
“Saya… saya mau tinggal sama Eomma.” Suaranya bergetar, tapi jelas. “Di rumah Eomma saya merasa aman. Di rumah Ayah… saya merasa takut. Saya… tidak bisa menjamin dia tidak memukul saya lagi.”
Ruangan seketika hening.
Yeri menunduk, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Soobin meremas tangannya, menahan emosi.
Taehyung menegang, rahangnya mengeras. Wajahnya pucat, campuran marah, kecewa, dan hancur. Sebagian dirinya ingin berteriak menyangkal, tapi kata-kata Yeonjun menusuk terlalu dalam. Irene memutar bola mata, jelas tidak senang situasi berbalik.
Hakim menatap tajam ke arah Taehyung.
“Apakah ini benar, Tuan Taehyung?”
Taehyung terdiam. Bibirnya bergerak, tapi tak ada kata keluar. Semua orang tahu diamnya adalah jawaban.
Hakim mengetukkan palu sekali.
“Sidang ditunda sementara. Pernyataan anak akan dijadikan pertimbangan bersama bukti-bukti yang ada. Keputusan akan dibacakan pada persidangan berikutnya.”
Suasana di ruangan tetap mencekam, tapi untuk pertama kalinya Yeri merasa sedikit lega. Suara Yeonjun akhirnya terdengar. Kebenaran, meski menyakitkan, sudah keluar ke permukaan.
______
Di luar gedung pengadilan, langit yang mendung akhirnya menurunkan hujan. Rintiknya membasahi anak tangga marmer, menimbulkan pantulan lampu-lampu jalan yang mulai menyala.
Yeri berdiri di bawah payung hitam, memeluk Yeonjun erat-erat. Soobin berdiri di samping, tangannya memegang bahu adiknya.
“Kamu hebat tadi,” bisik Yeri, suaranya serak. “Mama bangga banget sama kamu.”
Yeonjun menggeleng. “Aku cuma ngomong jujur."
Soobin tersenyum tipis, lalu menatap ke arah pintu gedung. “Mereka keluar…”
Taehyung melangkah menuruni tangga dengan langkah cepat. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras. Irene mengikuti di belakang, tumit sepatunya berdetak cepat di lantai basah.
“Kamu puas?” suara Irene terdengar dingin begitu mereka mencapai mobil. “Anak itu udah jelas nggak mau sama kamu. Dan kamu cuma diem?”
Taehyung menghentikan langkahnya. “Cukup, Irene. Ini bukan tentang kamu.”
“Oh, tentu saja bukan,” Irene menyeringai tipis, “Tapi lucu aja… kamu berjuang mati-matian buat anak yang bahkan lebih memilih ibunya.”
Tatapan tajam Taehyung membuat Irene terdiam sejenak, Irene jelas takut jika Yeonjun benar benar jatuh ke tangan Yeri karena sejak awal Taehyung mau menikahinya adalah agar Yeonjun tidak kehilangan sosok Ibu disisinya.
Tatapan tajam Taehyung membuat Irene terdiam sejenak. Ada ketakutan nyata di matanya—takut jika Yeonjun benar-benar jatuh ke tangan Yeri. Ia tahu betul, alasan utama Taehyung menikahinya dulu bukan cinta, melainkan agar Yeonjun tidak kehilangan sosok ibu di sisinya.
Hubungan gelapnya dengan Taehyung di masa lalu tidak serta merta memutuskan ikatan antara Taehyung dan Yeri. Irene sangat sadar, keberadaan Yeonjun adalah pengikat paling kuat antara mereka. Itulah kebenaran yang membuat Irene rela berbuat apa saja—bahkan melukai Yeonjun diam-diam di belakang Taehyung—demi memastikan anak itu tidak menjadi alasan Taehyung kembali pada Yeri.
Sementara itu, Yeri, Yeonjun, dan Soobin berjalan menjauh dari gedung pengadilan. Suara hujan yang jatuh deras menelan sisa ketegangan sidang barusan. Ketiga bayangan itu menyatu di bawah payung hitam, melangkah di jalanan yang licin dan becek.
“Bagaimana? Apa kamu bisa mengungkap hal lain lagi di persidangan berikutnya?” tanya Soobin, suaranya hati-hati.
Yeonjun menunduk, matanya menatap genangan air di jalan. “Entahlah… semuanya terlalu menakutkan buatku.” Jawabannya lirih, seakan takut kalimatnya didengar langit yang sedang menangis.
Yeri menoleh, memandang anaknya. Napasnya terhela panjang, lega karena Yeonjun berani bersuara tadi, tapi cemas sekaligus. Ia tahu Irene bukan orang yang mudah menyerah, dan Taehyung—meski keras kepala—masih punya celah untuk dipermainkan wanita itu. Masa lalu Yeri pun menghantuinya: ia pernah meninggalkan Yeonjun, dan itu bukan waktu yang singkat. Apakah Yeonjun benar-benar bisa memaafkannya sekaligus menerima dirinya kembali sebagai rumah?
“Ayo…” Yeri membuka pintu mobil dengan gerakan pelan, mencoba memecah suasana. Senyum kecil dipaksakan di wajahnya. “Kita lupakan sidang hari ini. Bagaimana kalau kita cari sesuatu yang hangat?”
Yeonjun dan Soobin saling pandang sebentar, lalu mengangguk bersamaan. Jujur saja, dinginnya hujan membuat tubuh mereka menggigil, dan tawaran sederhana itu terdengar seperti penyelamat.
Payung hitam terlipat, mobil mengaum pelan meninggalkan halaman pengadilan. Di dalam, kehangatan mulai menggantikan rasa takut, meski bayangan sidang berikutnya tetap membayangi hati masing-masing.
TBC ....
KAMU SEDANG MEMBACA
Not Alone
Roman pour AdolescentsTak semudah yang di bayangkan untuk yeonjun kehilangan keluarga utuhnya, tak mudah yang di bayangkan bagi jang yeri harus mengetahui suaminya berselingkuh, kebodohan yang di lakukan taehyung cukup parah namun semua keberuntungan selalu menyertainy...
