33

0 1 0
                                        


Jangan pernah mengeluh tentang hidup mu, tidak akan ada orang yang mengerti dan memahami isi hati mu. Jalani saja dengan ikhlas dan sabar, selagi Allah SWT masih ada disisi mu, semua akan baik-baik saja.

__________________
_____________
________

Setelah sidang perceraian itu selesai, bunda Aira selama seminggu penuh berada di kamar dan tidak pernah keluar. Makanan sering datang kekamar, tapi jarang sekali di makan.

Baiti hanya bisa menghela nafas, melihat ibunya seperti ini. Tidak ada sesiapa pun boleh masuk kamar itu.

"Maaf bunda, bunda jadi seperti ini karena aku. Jika memang bunda masih mencintai nya kenapa bunda gak bilang aja? Aku masih bisa membunuh hama di keluarga bunda, aku bisa menghilang selama nya demi kebaikan bunda. Jika bunda seperti ini, aku merasa seperti penjahat yang menghancurkan hati bunda." Batin Baiti sambil menatap pintu kamar bunda Aira.

Tok tok

Baiti mengetuk pintu kamar, berharap sang bunda mau membukakan nya. Dia membawa nampan berisi makanan untuk sang bunda. Sedari pagi, bunda Aira tidak mau makan hingga sore ini Baiti berinisiatif untuk membawakan bunda nya makanan.

Lama sudah Baiti berdiri di situ tapi tidak ada pintu terbuka.

"Haruskah aku mengambil kunci cadangan? "

Saat hendak berbalik, pintu kamar terbuka menampilkan bunda Aira yang sudah segar karena sehabis mandi.

"Ngapain kamu antar makanan ke kamar bunda? Bunda masih bisa ke dapur hanya untuk makan Baiti" ucap bunda Aira yang melihat Baiti membawa nampan makanan.

"Aku pikir bunda gak mau kebawah untuk makan, jadi aku bawakan makanan untuk bunda."

"Bunda gak lapar Bai...bunda mau kebelakang rumah" tolak bunda Aira kala Baiti menyodorkan nampan itu.

"Bunda makan ya...dari tadi pagi bunda gak makan, nanti bunda sakit gimana? Aku gak mau bunda sakit...makan ya bun.." ujar Baiti pelan tapi masih bisa di dengar.

"Bunda gak lapar Baiti..."

"Makan ya bun, apa mau aku suapin?" tanya Baiti dengan wajah memelas nya.

Bunda Aira tak mengindahkan nya, ia melewati Baiti begitu saja. Baiti menggenggam erat sisi pinggir nampan itu hingga kuku nya memutih.

"Hah..." Baiti kembali membawa nampan itu kedapur. Ia pergi ke ruang tamu yang sudah ramai.

"Bagaimana apakah bunda mau makan?" Tanya Annisa yang melihat Baiti duduk di sebelah gus Alvian

"Tidak, bunda pergi ke belakang rumah" jawab Baiti sambil memijat pelipisnya.

"Apa yang harus kita lakukan? Bunda udah gak mau makan, tubuh bunda juga semakin kurus" Annisa sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

"Gue juga bingung kak, sakit lama-lama liat bunda begini" ujar Baiti sambil memukul-mukul dadanya.

"Mungkin di hati bunda masih ada ayah, bunda sangat mencintai ayah kak" ucap Hani

Terlihat rahang Baiti mengeras, ia bangkit dari duduknya dan pergi keluar. Mendatangi bunda nya yang duduk berada di tepi kolam.

Al Dan Bai Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang