Hi, Saya balik lagi 👋
Terimakasih kepada pembaca yang selalu setia nungguin kelanjutan cerita ini dan selalu pantau di komen 😺
Semoga kalian belum lupa sama alurnya ya hehe..
Ngomong ngomong saya udah mikirin beberapa plot lanjutan sampai pertengahan cerita yang pastinya intens dan penuh kegilaan dari Tuan Duke yang akan memancing emosi 🤭
Tapi untuk beberapa chapter selanjutnya saya kasih yang adem ayem dulu yak..
Mengingat chapter 24 dan 25 sebelumnya sepertinya bikin pembaca ketar ketir.. Jdi untuk sekarang saya kasih yang manis manis dulu biar imbang juga.
Tar setelah manis manis baru siap deh buat konflik membuncah yang membahana🤭
Selamat membaca~
-----------------♦
"Masih dingin?" tanya Riette, menatap wanita di sebelahnya.
Claudine duduk diam, membalas tatapan Riette yang kini menyampirkan sweater jasnya di bahu Claudine. Hangatnya tak seberapa, tapi perhatiannya terasa.
"...Sepertinya Ibu sedang mencariku," gumam Claudine, mengingat kembali betapa nyaris mereka tertangkap ketika ia kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian.
"Yah..." Riette mengusap tengkuknya, sedikit canggung. "Kita benar-benar kabur dengan cara yang dramatis, ya."
Claudine terkekeh pelan, lalu memalingkan pandangannya ke depan. Anak-anak kecil berlarian ke sana kemari, suara mereka memenuhi ruangan. Tempat ini—penitipan anak yang menjadi tempat persembunyian Riette—jauh dari bayangan mewah kehidupan mereka.
"Maaf kalau mereka berisik. Saya tahu Lady tidak begitu suka anak kecil," ujar Riette setengah hati.
"Tidak, mereka... cukup lucu," jawab Claudine, pandangannya mengikuti langkah-langkah kecil yang berlarian itu. "Saya ingin tahu lebih banyak. Tentang mereka. Orang tua mereka, misalnya?"
Riette mengangguk pelan. "Tidak semuanya yatim piatu," ucapnya sambil menunjuk seorang anak perempuan kecil dengan rambut dikepang dua. "Tapi semuanya dititipkan di sini karena alasan yang... tak mudah mereka pahami."
"Yang itu Mira. Paling cerewet," katanya, tersenyum saat gadis kecil itu bersembunyi di balik selimut. "Yang itu Hale. Dia hanya bicara kalau merasa aman."
Sejenak, ekspresi Riette berubah. "Ayah Hale... salah satu prajurit yang dibunuh Matthias di balai kota waktu itu."
Claudine menegang. Matanya membesar, wajahnya seketika pucat.
'Di balai kota... Jadi yang kulihat dengan mata kepala sendiri waktu itu...?'
Sementara Claudine membeku dalam pikirannya, Riette terus memperkenalkan satu per satu anak-anak itu, menyebutkan nama, wajah, dan kisah di balik mata mereka. Seolah setiap anak adalah halaman kosong yang belum selesai ditulis.
Claudine menyimak dengan saksama, sebelum akhirnya bertanya, "Apa mereka... percaya padamu?"
Riette menoleh, dan untuk sesaat, tatapan teduhnya berubah—lebih dalam, lebih jujur.
"Butuh waktu," katanya. "Tapi sekarang, mereka percaya padaku. Seperti aku percaya padamu."
Tatapan Claudine terhenti pada seorang anak perempuan yang duduk di jendela. Ia tak bermain, tak bicara. Hanya menatap ke arah langit dengan mata kosong dan dalam.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐇𝐨𝐰 𝐭𝐨 𝐋𝐢𝐯𝐞 𝐚𝐬 𝘊𝘭𝘢𝘶𝘥𝘪𝘯𝘦
Fanfiction(Name) dan Lisa adalah sepasang saudara tiri yang selalu bersaing dalam segala hal. Keberuntungan dan kemudahan selalu berada pada pihak Lisa, saat (Name) lah yang harus menanggung bagian berjerih lelah. Namun, semua berubah sejak (Name) terbangun...
