Riette mengendap pelan ke balkon, menggenggam tangan Claudine erat-erat.
Claudine hanya terdiam, matanya awas menyapu sekitar, memastikan tak ada satu pun yang mengintip langkah mereka.
Rasanya... berdosa.
Melarikan diri dari rumah sendiri lewat balkon, seperti pencuri yang takut ketahuan. Lebih parahnya lagi—ia kabur bersama seseorang yang bukan tunangannya.
"Kita berhasil," bisik Riette sambil menatapnya. "Maaf membuat Lady harus terlibat sampai jam dua malam."
Ia kemudian berdehem dan memalingkan wajah, gugup. "Dan... uhm, simpan saja sweater-nya. Aku ambil nanti."
Claudine tertawa kecil. "Haha... tidak, kamu bawa saja. Di luar dingin, dan sweater ini sudah kupakai sejak tadi."
Riette menggeleng cepat. "Oh tidak. Akan jadi kehormatan kalau Lady mau menyimpannya."
Claudine menghela napas kecil. "Riette, aku tinggal di rumah ibuku. Di mana aku bisa menyembunyikan benda ini tanpa ia menemukannya dan membuat masalah baru?"
Riette menunduk, kecewa.
Ia hanya ingin Claudine menyimpan sesuatu darinya—sekadar bukti kecil bahwa momen ini nyata.
Claudine menghela napas, sedikit bersalah.“Sweater pria terlalu berisiko… Berikan aku benda lain saja. Yang tak terlalu mencolok,” ujarnya, agak canggung.
Riette mengangguk pelan. “Yah... Saya mengerti. Selamat beristirahat, Lady.”
Claudine hanya membalas dengan anggukan kecil.
Riette baru melangkah ke balkon, namun sebelum benar-benar pergi, ia menoleh.
Di bawah sinar rembulan, ia tersenyum—hangat, nakal, dan... berbahaya.
Bukan karena ketampanannya, tapi karena senyum itu tahu persis cara membuat jantung lupa bagaimana seharusnya berdetak.
Claudine terpaku.Rasanya seperti melakukan sesuatu yang hanya ia dan malam ini yang tahu.Tak ada sorotan sosialita. Tak ada tekanan keluarga. Hanya dirinya dan Riette... sebuah rahasia kecil mereka.
Pintu perlahan tertutup. Riette menghilang.Claudine masih berdiri, memandangi bulan dari balik jendela.
“…Kuharap bulan tidak akan menertawakan kebodohanku.”
-----------------♦
Malam semakin larut saat aku menyelesaikan sisiran terakhir pada rambutku. Naik ke kasur, aku meregangkan tubuh sejenak sebelum membiarkan diriku tenggelam di atas permukaan yang empuk dan hangat.
Kelopak mataku mulai berat—nyaris tertidur.
Namun bayangan senyumnya kembali hadir.
Senyum itu, di bawah cahaya bulan... hangat, jahil, dan sama tak terduganya seperti dirinya.
Entah mengapa, senyum itu membekas. Menenangkan sekaligus mengacaukan.
Dan dengan napas yang terasa ringan, aku pun tertidur—dengan senyum itu masih menetap di sudut pikiranku.
Lalu semuanya gelap.
Tak ada suara, tak ada bentuk. Hanya keheningan yang pekat dan tanpa ujung.
Hingga perlahan, sebuah penglihatan muncul...
bagaikan mimpi yang terlalu nyata untuk disebut ilusi.
Sebuah ruangan muncul. Megah, hangat—diterangi lampu gantung kristal yang memantulkan cahaya lembut ke dinding-dinding krem berhias ornamen emas.
Jendela tinggi dengan tirai beludru terbuka sebagian, membiarkan sinar malam menyusup masuk.
Aroma bunga segar dari vas-vas porselen melayang di udara, mengukuhkan kesan anggun dan mewah.
Di tengah pesta yang ramai, berdirilah seorang wanita berambut hitam pekat.
Anggun, memesona—mata cokelat mudanya berkilau, senyumnya tipis namun tak terabaikan.
Gaun biru dan kalung mutiara membingkai pesona yang tampak dilahirkan untuk menjadi sorotan.
Dia—(Name)—berdiri di sana, dikelilingi cahayanya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐇𝐨𝐰 𝐭𝐨 𝐋𝐢𝐯𝐞 𝐚𝐬 𝘊𝘭𝘢𝘶𝘥𝘪𝘯𝘦
Fiksi Penggemar(Name) dan Lisa adalah sepasang saudara tiri yang selalu bersaing dalam segala hal. Keberuntungan dan kemudahan selalu berada pada pihak Lisa, saat (Name) lah yang harus menanggung bagian berjerih lelah. Namun, semua berubah sejak (Name) terbangun...
