Tok. Tok.
Suara ketukan pelan menggema, memecah lamunan Claudine yang masih terbuai dalam sisa-sisa mimpi tentang kehidupan yang terasa begitu asing… namun entah mengapa, terasa lebih nyata dari kenyataan itu sendiri.
Tak lama, suara lembut ibunya terdengar dari balik pintu.
“Claudine… kau baik-baik saja? Duke berencana berkunjung hari ini.”
Kening Claudine berkerut.
'Duke?'
'Ah, tentu saja… Duke Herhardt. Tentu, aku tunangannya.
Lucu… mengapa aku hampir melupakannya?'
Ia menghela napas perlahan, tatapannya jatuh ke jendela yang memantulkan cahaya pagi. Suasana di luar begitu tenang—jauh berbeda dari dunia yang selama ini ia jalani.
Haruskah aku kembali ke kehidupan penuh kepalsuan itu?
Rasanya… seminggu rehat tidak akan mengubah dunia.
Senyum tipis terbit di wajahnya. Sebuah rencana muncul dalam benaknya. Ia melangkah ke pintu, namun tak membukanya.
“Ibu… sepertinya aku sedikit tidak enak badan… setelah insiden penyerangan itu. Mungkin… aku perlu istirahat,” ujarnya pelan, suaranya dibuat lemah. Sedikit canggung… berbohong memang bukan kebiasaannya. Tapi bukankah sesekali, seseorang harus melawan?
Di seberang pintu, ibunya terdiam. Ia tahu, putrinya mengalami banyak hal akhir-akhir ini. Dan selama ini, Claudine selalu menjadi putri yang baik.
“Oh, sayang… ibu mengerti. Ibu akan memberitahu Duke. Makanan akan dikirimkan ke kamarmu. Beristirahatlah sesukamu…”
Claudine tersenyum kecil saat mendengar suara langkah ibunya yang menjauh, perlahan menghilang di ujung koridor.
Ia segera berjalan ke balkon, membuka pintunya lebar-lebar. Cahaya matahari yang hangat langsung menyambutnya, disertai kicauan burung yang ramai di kejauhan. Entah mengapa, pagi ini terasa lebih hidup—lebih ramah dari biasanya.
“Pagi ini… terasa jauh lebih cerah,” gumamnya pelan sambil menyipitkan mata ke arah langit. “Padahal aku baru tidur jam dua tadi malam…”
Ia mendongak, membiarkan sinar matahari menyapu wajahnya.
Mungkinkah karena semalam mereka ramai?
Atau karena pikiranku masih tertinggal di tempat itu...?
Diam-diam, rasa ingin tahu itu belum padam. Ia menunduk, memandangi pintu kamarnya. Lalu, seperti cahaya yang menembus awan, sebuah ide menyelinap ke benaknya.
Tanpa menunggu lebih lama, Claudine membunyikan lonceng di samping tempat tidurnya. Seorang pelayan segera datang dan membungkuk sopan. “Ada yang bisa saya bantu, nona?”
“…Bawakan aku banyak bunga mawar,” ucapnya tenang, tersenyum ringan. “Aku bosan di dalam kamar. Aku ingin merangkai bunga hari ini.”
-----------------♦
Pintu kayu tua itu berderit pelan saat Claudine mendorongnya terbuka, kedua tangannya memegang erat sebuah ember besar yang dipenuhi bunga mawar segar.
Di sisi lain ruangan, Riette yang sedang membaca koran langsung menoleh. Matanya membelalak, dan rahangnya hampir terjatuh.
“A–apa yang…?” katanya tertegun. Ia nyaris tak percaya melihat seorang Claudine memikul ember penuh bunga seperti pelayan desa.
“Kenapa tidak memberitahuku lebih dulu? Aku bisa saja membantumu,” ucap Riette, masih terpaku.
Claudine hanya tersenyum kecil sambil meletakkan ember di atas meja. Ia membuka tudung kepala yang sejak tadi menutupi sebagian wajahnya.
“Supaya tidak ada yang curiga,” ujarnya santai.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐇𝐨𝐰 𝐭𝐨 𝐋𝐢𝐯𝐞 𝐚𝐬 𝘊𝘭𝘢𝘶𝘥𝘪𝘯𝘦
Fiksi Penggemar(Name) dan Lisa adalah sepasang saudara tiri yang selalu bersaing dalam segala hal. Keberuntungan dan kemudahan selalu berada pada pihak Lisa, saat (Name) lah yang harus menanggung bagian berjerih lelah. Namun, semua berubah sejak (Name) terbangun...
