Hari-hari berlalu, dan Claudine dengan lihai terus membohongi ibunya. Kepada sang Countess, ia mengatakan bahwa dirinya hanya beristirahat di kamar, menjauh sejenak dari hiruk-pikuk dunia sosialita.
Sementara itu, Matthias tak henti mengirim bunga dan surat—namun tak satu pun disentuh oleh Claudine. Bunga-bunga itu hanya menjadi penghias meja, layaknya simbol kasih yang tak bersambut. Menyadari putrinya tak menunjukkan itikad untuk membalas sepucuk pun surat sang Duke, sang Countess akhirnya mengambil alih. Ia menuliskan balasan dengan halus, menyampaikan bahwa Claudine menghabiskan harinya dengan melukis, membaca buku, dan sesekali merangkai bunga di dalam kamarnya.
Tak seorang pun dari mereka curiga. Tidak Matthias, tidak pelayan, bahkan tidak sang ibu. Mereka tidak pernah menyangka bahwa Lady Claudine Von Brandt—tuan putri kalangan atas—justru menghabiskan waktunya di tempat penitipan anak, jauh dari istana megah, jauh dari dunia yang mengikatnya.
Seperti hari ini.
Di bawah langit siang yang hangat dan lembut, sinar matahari menari di sela-sela dedaunan yang bergoyang pelan. Pekarangan luas itu dipenuhi aroma tanah segar dan tawa anak-anak yang membaur dengan semilir angin. Di sudut halaman, Claudine berlutut di tanah bersama Riette. Gaun sederhana berwarna pastel membalut tubuhnya, dan meski jemarinya ternoda tanah, cahaya dalam senyumnya tak berkurang sedikit pun.
Dengan hati-hati, ia menyerahkan bibit mawar merah yang ia bawa sendiri—bibit langka dari kebun miliknya. Gerak-geriknya tetap anggun, bahkan dalam kesederhanaan.
Beberapa anak sibuk dengan tanaman mereka sendiri, gelak tawa mereka bergema di udara. Namun di sisi lain halaman, Claudine dan Riette seolah larut dalam dunia mereka sendiri—tenang, hangat, penuh rahasia kecil yang hanya mereka pahami.
Claudine tertawa. Kali ini bukan tawa seorang Lady yang menjaga citranya, melainkan tawa yang lepas, jujur, dan hidup. Ada kehidupan yang memancar dari dirinya—bukan karena kemewahan, bukan karena status, melainkan karena ia benar-benar merasa hidup.
Dan di momen itu, di antara tanah, tawa, dan bunga, Claudine bersinar. Bukan sebagai tunangan seorang Duke, bukan sebagai putri dari kalangan bangsawan—melainkan sebagai dirinya sendiri.
Masih di Hari yang Sama…
Toma—dengan kelakuannya yang tak pernah diam—menyeringai usil, lalu mencolek pipi Mira dengan segenggam tanah.
"Akh! Toma!" serunya, wajahnya memerah kesal.
Toma langsung kabur, tertawa sambil berlari ke seluruh penjuru pekarangan, diikuti Mira yang mengejarnya dengan penuh amarah main-main.
Di sisi lain, Nina memeluk boneka kelincinya erat-erat, duduk tenang di bawah bayangan pohon. Ia memperhatikan Claudine yang tengah menanam bibit bunga dengan khidmat.
“Maaf ya kak… Aku nggak ikut. Aku nggak suka bau tanah…” gumamnya pelan.
Elric, yang berada tak jauh dari sana, menanam bunga dengan serius seperti biasa. “Iya. Makanya kamu mending masuk ke dalam. Bantuin kak Mina masak,” ucapnya tanpa menoleh.
Nina menunduk pelan, tangannya mencengkeram erat telinga boneka kelincinya.
Claudine menoleh dan mengamati mereka semua. Anak-anak itu—satu per satu—memiliki karakter yang berbeda. Ada yang cerewet, ada yang tenang, bahkan ada pula yang belum ia kenal dengan benar.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐇𝐨𝐰 𝐭𝐨 𝐋𝐢𝐯𝐞 𝐚𝐬 𝘊𝘭𝘢𝘶𝘥𝘪𝘯𝘦
Fanfiction(Name) dan Lisa adalah sepasang saudara tiri yang selalu bersaing dalam segala hal. Keberuntungan dan kemudahan selalu berada pada pihak Lisa, saat (Name) lah yang harus menanggung bagian berjerih lelah. Namun, semua berubah sejak (Name) terbangun...
