"Hanya sedikit uang sebagai harga untuk meramal nasibmu," kata seorang anak perempuan sambil bersorak-sorai di antara suasana Pasar Gelap nan ramai.
Ia duduk menepi pada lantai dekat toko antik. Di sampingnya, reklame 'ramalan tarot' tertulis besar-besar dengan tipografi yang sangat tidak menarik. Semua orang terlihat menilai ... bahkan mereka tahu, bukan baju cokelat muda membaluti tubuhnya, melainkan warna putih kumal bernoda lekat.
Ketika anak itu kembali menawarkan bisnis kecilnya kepada seorang gadis dengan sedikit memohon, ia justru mendepak meja tarot dengan sepatu chopine-nya yang bersol tebal nan tinggi. Hingga satu kaki meja itu patah, dan kartu-kartu menggelepar. "Siapa juga mau memakai jasamu, dasar Tukang Sihir!"
Pada setapak penuh jejal hilir mudik pengunjung, si bocah laki-laki yang berjalan di sana merasakan pemandangan itu sungguh tidak mengenakkan untuk kunjungan pertama kali. Apalah daya ia tidak bisa menolong, sebab dirinya sendiri berada dalam genggaman tangan Rajeev---bedebah yang sialnya berjasa mengasuhnya selama ini, meski dalam rantai kapitalis.
Tak beberapa langkah dari sana, papan bulletin penjualan dokumen palsu terpajang, dan orang-orang ramai berkerubung. Giambattista bertanya polos, "Kenapa penjualan palsu ini lebih mendapat atensi daripada prediksi ramalan?"
Rajeev tersenyum dari balik topi jerami. "Tidak ada yang salah dengan ramalan. Tapi dunia sudah berbeda. Terlebih di generasimu nanti, orang-orang akan memprioritaskan uang dan pangkat, daripada sebatas bocoran masa depan yang belum tentu bisa kauhadapi."
"Sekali pun dokumen itu hanyalah sebuah kertas rekayasa, ya ...," imbuh Giambattista.
"Bingo."
Keduanya kemudian berjalan di tengah-tengah Bar Pastis---salah satu minuman keras bernuansa herbal nan populer di Prancis. Ketika sampai di sana, Rajeev hanya menilik sekilas botol-botol pastis yang terpajang, malah memilih mengunjungi seorang bartender dan berkata, "Ricard ada di mana? Aku ingin membelinya."
Giambattista mencuri dengar, dan langsung mencerna konteks pembicaraan. Jika memang Ricard akan dibeli dari pengasuh sebelumnya, maka ia tidak akan sendirian lagi. Bocah lelaki itu sedikit senang, meski dalam satu waktu merasa kesal mengetahui bagaimana ia dan teman-teman terdahulu menjadi korban transaksi manusia yang dikelola bedebah itu.
"Tersedia, tapi harganya lebih mahal. Kautahu? Belakangan ini perasa liquorice cukup sulit diekstrak." Giambattista seketika melongo mendengar penjelasan si bartender. Seperti pedagang-pedagang lain, ia mempromosi dengan mengemas manis kata-katanya. "Tapi tenang saja, kami memberikan kualitas terbaik. Menjamin pahit dan manis liquorice seimbang untuk ricard ini."
Rajeev bahkan tak menunggu si bartender menyelesaikan ucapannya tentang harga jual baru, ia langsung menenggak botol minuman itu cepat-cepat. Di sana, Giambattista hanya mematung, mengetahui terkaannya salah tentang 'ricard'.
"H-hei, kenapa kau meminumnya? Kausudah berutang tiga botol pastis! Tempo hari Pastis de Marseille, kemarin jenis pernod, dan---"
"Ambil saja anak ini sebagai bayarannya," tukas Rajeev kesekian seraya mendorong punggung mungil itu ke depan meja bar.
"Tidak mau!" Giambattista menggertak. "Aku ingin dijual ke saudagar kaya seperti teman-temanku yang lain," katanya sambil memukul-mukul kaki jenjang pria itu.
Sayangnya, otak kapitalis Rajeev tidak peduli dengan celotehan anak kecil. Ia memutar kasar kepala Giambattista ke arah si bartender yang kini diketahui bernama Antoine. "Membungkuklah. Dia tuan barumu."
"Tapi ...," ucapan Antoine menggantung di udara ketika melihat pandangan dengki yang terpancar dari gelagat mata Giambattista.
"Aku sudah tidak membutuhkannya. Dia yang paling tidak berguna. Suruh apa pun, bocah ini lebih cocok menjadi budak," pungkas Rajeev seraya berlalu. Meski jauh dalam benak Antoine, harga seorang manusia lebih mahal dibanding empat botol pastis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bibliosmia
Short Story'Bibliosmia', aroma khas kertas. Aroma buku baru pada kumpulan cerita, kisah, dan legenda yang belum pernah kalian baca sebelumnya. Maka, jangan ragu untuk membuka lembarannya. Karena jika kalian sudah menaruh kecintaan dan membacanya, kalian akan...
