Sebuah pickup memasuki kawasan jalan pematang, membawa muatan kambing kecil berjumlah tiga ekor. Satu betina berbulu putih, serta dua kambing jantan berwarna coklat tua dan hitam legam. Ketika laju mobil itu menimbulkan decitan dari bebatuan kecil, mereka serempak mengembik—bagai senandung yang dilantunkan sepanjang perjalanan.
Pada samping kiri dan kanan, tumbuh-tumbuhan berdiri angkuh menantang sang surya, bersama dengan lumut hijau yang bersinar. Hari itu sangat cerah bagi ketiganya melalui petualangan serta mendapat rumah baru untuk mereka. “Eh, kalian tahu, gak? Kita bakal dipertemuin sama orang tua kita di sana,” ujar Luna.
“Tahu dari mana?” sahut Rimba. Berbanding terbalik dengan Luna, kambing berbulu coklat itu tampak bermalas-malasan menyambut kepindahan mereka. Ia sudah nyaman dengan kediaman lama. Banyak anak sebaya dan begitu akrab dengannya.
“Aku dengar bisik-bisik mereka.” Luna begitu semangat saat bercerita, “Katanya, tempat itu surga mamalia. Gak cuma ras kita, sapi dan domba juga ada di sana.”
Mendengar itu, Rimba kembali bersemangat. Menyorot langit bersih, ia seolah melihat harapan mulai terpancar, secerah mocil kuning yang terus membawanya melanju. Senyum kecil tercipta di wajahnya. “Bolehlah kalau banyak teman. Aku gak sabar buat kenalan.”
Luna mengangguk. Menoleh sejenak ke arah Lintang sambil menyikutnya menggunakan kaki depan. “Gimana, Tang. Senang, gak?”
Lintang yang sedari tadi tidak merespon hanya membalas dengan tak acuh, “Biasa aja. Toh, aku yatim piatu.”
Setelah itu, suasana mendadak canggung. Luna tidak lagi berani bicara, sementara Rimba pura-pura tidak mendengar dan fokus menyaksikan pemandangan sekitar. Ia sudah kepalang bersemangat menemui teman-teman baru.
Benar saja, suasana di Sada Fauna sangat ramai. Mereka tidak pernah membayangkan sebelumnya ada kandang megah menjulang tinggi serta terdiri dari beberapa tingkat, seperti gedung-gedung pencakar langit bagi para manusia. Pekarangannya juga seluas Lapangan Golf. Sekitar 60 hektare dipenuhi area hijau.
Hari-hari terasa sangat menyenangkan. Mereka tidur di tumpukan jerami hangat. Bulu putih Luna mendapat perawatan dari para peternak. Rimba banyak mendapat kenalan baru, dan Lintang jadi idola para betina di sini. Rumornya, ia akan dijadikan pejantan premium di Sada Fauna.
Sepanjang pagi dan sore hari mereka akan digiring oleh para peternak menuju lapangan hijau. Tempat favorit Luna adalah bukit kecil dekat danau, sebab di sana silaturahmi antar ras cenderung terjadi. Di bawah payung teduh pepohonan, beberapa orang tua menyusui anaknya.
Di sinilah Luna berhasil bertemu dengan orang tuanya setelah sekian lama berpisah. Demikian, ketika anak-anak selesai pada fase menyusui, mereka akan dipindahkan ke peternakan cabang untuk dirawat bersama secara intensif. Setelah cukup usia, barulah dipindahkan kembali ke peternakan utama.
Kini, Luna sudah punya adik. Ibu telah melahirkan dua anak kembar dengan warna yang sama dengannya. Namun, bulu adik-adiknya lebih lebat. Rumornya, Ibu mengawini kambing tampan peranakan Australia.
Di sela-sela santapan manis rumput perbukitan segar, Luna bertanya pada Ibu, “Hei, Bu, gimana caranya dapat pejantan tampan idaman?”
Sang Ibu terkekeh. “Kenapa nanya gitu, kamu lagi jatuh cinta, ya?”
Luna hanya tersenyum. Melirik sekilas ke arah Rimba yang sedang bermain kejar-kejaran bersama para domba dan sapi. “Entahlah. Tapi aku punya banyak plan buat masa depan. Pasti enak banget hidup damai bareng keluarga di tempat seindah ini,” sahutnya kemudian.
Akan tetapi, alih-alih senang mendengar penuturan anaknya, Ibu menatap Luna dengan pandangan teduh. “Sebaiknya jangan terlalu menatap jauh ke masa depan. Buat rencana boleh, tapi sekadarnya. Soalnya bisa jadi banyak daftar yang belum terwujud, sementara kita gak tahu umur. Enaknya ya jalanin aja hari ini.”
Luna yang masih labil, tidak begitu mengerti perkataan ibunya. Ia pikir Ibu terlalu serius menanggapi obrolan ringan sore itu. Namun, ketika senja menyingsing, dan lantunan takbir terdengar di penjuru Sada Fauna, Luna ‘mendapat jawabannya’.
Danau jernih tempat biasa mereka dimandikan, kini berubah menjadi merah kepekatan. Lintang sudah berada di sana lebih awal, ia menghampiri Luna seraya bertanya dengan raut khawatir, “Kamu baik-baik aja?”
Luna tentu tidak baik-baik saja ketika melihat tubuh Ibu yang baru saja kemarin berbicara panjang dengannya kini diikat pada pasak. Banyak para manusia datang menonton eksekusi ibunya, yang tidak tanggung-tanggung menggunakan bilah parang tajam dan pisau potong.
Luna jelas menggeleng keras. “Memangnya ibuku ngelakuin dosa apa? Kenapa dia harus dibunuh?”
Kaki Luna hendak melangkah merusuhi kerumunan para manusia itu, tetapi celaka … Lintang yang biasa tampak tak acuh kini mencegatnya. “Jangan,” katanya tegas. “Itu yang juga dilakukan mereka ke orang tuaku.”
Luna keheranan. “Jadi kenapa kamu melarangku?” Suaranya meninggi, “Manusia-manusia itu yang juga bikin kamu yatim piatu!”
“Semacam mutualisme.” Lintang menjelaskan, “Mereka ngerawat kita, dan sebagai gantinya kita juga harus pasrah disembelih kapan pun.”
“Bukan itu intinya.” Rimba tiba-tiba datang entah dari mana. Belakangan, si jantan ini sibuk dengan teman barunya. Namun, kali ini ia datang dengan sebuah jawaban, “Kurban itu bentuk syukur dari apa yang manusia punya. Sebagai bentuk keikhlasan setelah dirawat sepenuh hati. Jadi kamu juga harus bersyukur, karena dikurbankan artinya ibumu dicintai.”
Hari itu, Luna kembali mendapat pencerahan. Ternyata dunia yang terlalu menyenangkan kadang-kadang butuh penebusan. Luna belajar banyak hal di Sada Fauna; dari Ibu, Lintang, Rimba, dan juga para manusia yang mau berkurban.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bibliosmia
Short Story'Bibliosmia', aroma khas kertas. Aroma buku baru pada kumpulan cerita, kisah, dan legenda yang belum pernah kalian baca sebelumnya. Maka, jangan ragu untuk membuka lembarannya. Karena jika kalian sudah menaruh kecintaan dan membacanya, kalian akan...
