Aroma mesiu membuka jangkar fajar jingga. Kendati kemerdekaan telah diproklamasikan sejak 17 Agustus 1945, hari-hari setelahnya tidak cukup menenangkan. Suasana terasa seperti jeda sebelum badai berikutnya. Di tiap pelabuhan, kapal-kapal bersandar membawa serdadu asing. Sementara di kampung halaman, para pemuda mengasah bambu runcing. Mereka belum punya banyak persediaan senjata modern, tetapi semangatnya menyala.
Pemerintahan pun belum stabil. Istana, serta rumah-rumah rakyat menjadi saksi rapat panjang, diskusi strategi, dan perundingan melelahkan. Pada meja kayu sederhana, para pemimpin bangsa memikirkan bagaimana mempertahankan kemerdekaan.
Berita simpang siur beredar cepat. Berangkat menuju 1946 menjadi Masa Bersiap, di mana bangsa muda berdiri di antara dua pilihan; mempertahankan diplomasi atau melakukan perlawanan bersenjata terhadap bangsa asing. Indonesia yang masih sangat muda saat itu sedang belajar menjadi sebuah ‘negara’.
Akan tetapi, untuk menuju hal itu banyak pihak harus mengotori tangannya. Untunglah ada beberapa Belanda mendapat perlindungan dari pribumi, salah satunya keluarga de Hoeder. Ia bertugas sebagai pengawas perkebunan nan andal. Mengolah hasil panen agar tidak terjadi sabotase atau pembakaran lahan.
Ketika Hoeder muda itu selesai membuat kompos, ia bertanya kepada ayahnya, “Ayah yakin kita akan dilindungi?”
Ayahnya tersenyum. “Jangan khawatir. Kita berdiri di antara amanah rakyat dan aset kolonial. Kedua belah pihak tidak mungkin membunuh kita.”
Pernyataan itu tidak cukup bagi Hoeder. Alisnya bertaut curiga. “Bagaimana kaubisa seyakin itu?”
“Ibumu pribumi.”
Sebuah kalimat yang membuat Hoeder kembali yakin. Sebagai pribumi terpelajar, ibunya pun menjadi tabib berbakat. Banyak kabar burung beredar bahwa Retno Ayu tidak hanya mengandalkan ramuan obat-obatan, melainkan juga kekuatan. Sebab sekali diobati, luka parah sekali pun cepat sembuh. Sayang, Retno harus tinggal berjauhan dengan suami dan anak, karena masih banyak orang yang butuh bantuannya.
Suatu hari, Retno gagal menyelamatkan seseorang dalam aksi Masa Bersiap. Orang itu tidak bisa berbicara. Ia hanya berbaring di ranjang dengan tatapan kosong dan pupil melebar. Seiring waktu, penyakit tersebut berkembang di kalangan pribumi. Para Belanda pun menganggapnya karma balas dendam atas pelenyapan etnis mereka. Belanda menyebut orang-orang sakit itu sebagai wraith atau roh bayangan.
“Saya pikir mereka mengalami gangguan syaraf serta trauma saat masa transisi,” kata Retno ketika sekian kali mendapati pasien dengan keluhan serupa.
Sayang sekali, Laskar Pemuda menganggap wanita itu sengaja tidak mau mengobati. “Takperlu beralibi. Kaupasti menantang diam-diam gerakan kami,” tuding Ginanjar—salah satu laskar yang cukup berpengaruh. Ia menggebrak meja hingga botol-botol ramuan bertumpah ruah. Para pribumi yang tidak bisa membayar upeti pun mengambil ramuan diam-diam.
Retno sadar ia sedang dipermainkan. “Apa maksudmu?” Suaranya ikut meninggi.
“Nama belakang Anda, Nona,” sahutnya rendah, kontras sekali dengan tatapannya yang nyalang.
“S-saya Retno Ayu!”
“Retno Ayu de Hoeder,” ralat Ginanjar. “Kau menikah dengan pemuda londo yang tinggal di pedalaman bernama Joris de Hoeder, benar?”
Retno menggeleng. “Tidak. Itu tidak benar!”
“Kalian tinggal berjauhan untuk menyembunyikan identitas sah tersebut.”
Lagi-lagi Retno hanya bisa menggeleng. Tangannya mulai gemetar memegang kompres dalam cawan air dingin yang semakin membekukan kulit.
Sementara Ginanjar terus melanjutkan. “Dia mengolah lahan perkebunan.” Jemarinya mulai menghitung. “Teh, sawit, dan apel?” tanyanya berusaha mencari validasi. Namun, karena Retno hanya terdiam, ia kembali angkat suara. “Ada kontrak gelap antara pribumi dan londo untuk menyembunyikan identitas suami dan anakmu, di luar pengetahuan warga sipil.”
Retno tertegun. Terlebih ketika dua Laskar Pemuda lainnya mulai memiting pergelangan tangannya. Ia meronta. “Apa lagi yang kautahu?!”
Sejenak, Ginanjar terkekeh puas. “Anakmu memiliki nama yang mirip dengan suamimu, untuk melindungi identitasnya dari publik.”
Gelagapan. Retno berusaha melakukan perlawanan, hingga berhasil lepas dari tahanan kedua anak buah pria itu. Ia mengambil sisa-sisa ramuan dari botol yang pecah di lantai. Mencampurkan alkaloid, spora jamur mikroskopis, serta beberapa senyawa lain. Hasil racikan tersebut ia condongkan ke mulut salah satu pemuda yang tergeletak sekarat. “Jangan macam-macam jika tidak mau nyawa dia terancam.”
“Kau bercanda?” Ginanjar tertawa diikuti yang lain. “Nyawa dia sudah terancam.” Ia tampak takpeduli nasib orang-orang yang sedang diobati itu akan mati atau tidak di tangan Retno. Sebaliknya, Retno tidak habis pikir dengan kebengisan mereka. “Tenang saja, sebentar lagi kautidak akan berjauhan dengan keluarga kecilmu itu.”
Siapa yang menduga, di tengah perdebatan panas, sebuah monster baru saja tercipta. Beberapa pasang mata kosong itu mulai menyalak ketika senja berganti petang. Perlahan, tubuh lemahnya kian bangkit dari tempat pembaringan seraya mencekik para Laskar Pemuda, bahkan beberapa menggigitnya. Tak luput pula Retno menjadi korban para wraith itu.
Hoeder yang baru saja berduka sepeninggal ayahnya, tidak punya tempat lain, selain pergi ke klinik milik ibunya. Ia ingin sekali menangis dalam dekapan lembut itu bahwa mereka semua berbohong, mereka tetap membunuh ayahnya ketika beralibi mengadakan rapat di gudang panen, dan Hoeder diam-diam menyelinap di antara setumpuk karung buah itu.
Sekarang, ia juga melihat anomali serupa. Orang-orang dari catatan arsip Belanda yang dinyatakan menjadi wraith benar-benar berbahaya. Mereka melakukan kanibalisme kepada sang ibu. Saat tubuh Retno menyerah dan tergeletak penuh darah, ia hanya bisa mengatakan satu kalimat, “Lari!”
Hoeder hanya bisa menggeram frustrasi, sambil terkenang dengan raut pilu kematian dua orang yang dicintai dalam waktu singkat ini. Sekarang usianya sudah 17 tahun, tetapi ia laiknya pecundang yang hanya menjadi beban bagi keluarga. Baginya, lahir dari keturunan Indonesia-Belanda juga berarti bahwa bukan milik siapa pun. Sepanjang hidup ia selalu bersembunyi, tinggal di pedalaman dan memakai identitas ayahnya.
Rambutnya pirang, seperti sang ayah. Tubuhnya ramping dan tinggi, seperti sang ayah. Juga nama mereka mirip. Satu-satunya yang berbeda hanyalah usia dan garis keturunan. Ia memiliki nama pribumi—Joris Aditya de Hoeder. Namun, dibanding Joris maupun Aditya, ia lebih suka dipanggil secara akrab dengan nama Hoeder.
Sebab mitra Ayah yang tahu tentang keberadaannya pernah bilang, “Kautidak pantas memakai nama Belanda.” Namun, ada juga yang bilang, “Kautidak pantas memakai nama pribumi.”
“Tunggu dulu—” Hoeder seketika bergumam sembari menghentikan langkahnya. Ia mengubah arah pelarian menuju makam. Ketika sampai di sana, Hoeder berlutut di nisan yang masih basah itu dan kembali bergumam lirih, “Teman Ayah yang tidak pernah tahu keberadaanku selalu mengira aku adalah kau. Kau juga sangat awet muda, Yah, sampai kita sangat mirip.” pemuda malang itu hanya memikirkan satu kemungkinan, “Apa kau orang pertama yang menjadi wraith?”
Hoeder menyeka kasar air matanya, ia mulai beranjak menggali ilang. Benar saja, tidak ada mayat sang ayah yang berbaring di sana. Hoeder kembali bertaut curiga dan terus melakukan penggalian. Rupanya, makam tersebut berdiri di atas makam milik seseorang. Ia menyeka tanah dan membaca perlahan ukiran nama pada nisan pertama itu, di sana tertulis; J. A de Hoeder. Lahir, 1904. Wafat, 1921.
Bila diperhitungkan antara rentang kelahiran dan kematiannya, maka pemilik makam ini meninggal di usia yang sama dengannya, 17 tahun. Hal lain yang aneh adalah nama makamnya sengaja ditulis menggunakan inisial ‘J. A’, itu terdengar seperti nama panjangnya. Pemuda itu hanya bisa tertunduk kaku ketika mengetahui faktu tersebut. “Pantas saja selama ini aku selalu kesepian, sendirian ….”
KAMU SEDANG MEMBACA
Bibliosmia
Short Story'Bibliosmia', aroma khas kertas. Aroma buku baru pada kumpulan cerita, kisah, dan legenda yang belum pernah kalian baca sebelumnya. Maka, jangan ragu untuk membuka lembarannya. Karena jika kalian sudah menaruh kecintaan dan membacanya, kalian akan...
