#roman---spin off Dwika
Prompt: Apa kabarmu, wahai cinta pertama?
***
Masa remaja cenderung terkait dengan cinta. Seperti halnya gadis kebanyakan, Abel juga pernah mengalami hal itu. Walau sedikit lama untuk menafsirkan perasaannya.
Abel memang lebih fokus pada diri sendiri dibandingkan orang lain, sehingga membuat teman sekelas penasaran bagaimana cara ia menjalani hubungan asmara, atau setidaknya memiliki seseorang yang dikagumi.
Abel tertawa kecil saat mengingatnya. Kini, ia tengah berada di taman. Tepat di sebuah petak bunga, ia berjongkok seraya memetik setangkai mawar merah. "Kupikir, aku gak bakal pernah jatuh cinta," gumamnya.
Sambil menghirup dalam aroma bunga, Abel kembali bernostalgia. Kala itu, ia masih Kelas IX SMP Semester II, masa yang cukup terlambat untuk mengenal cinta monyet. Terlebih dirinya mencintai siswa Kelas VII. Beruntung umur mereka berpaut cukup dekat, karena Abel cepat masuk sekolah, sedangkan ia justru sebaliknya.
Selama sekolah, Abel dikenal sebagai orang yang tertutup. Namun, ia selalu berterus-terang dan tak suka basa-basi entah dalam hal apa pun. Meski demikian, ia tak pernah secara langsung menyatakan bahwa dirinya mencintai Nadeem.
Hanya saja, lelaki itu memang cukup peka dan terlalu percaya diri. Tatkala berkumpul dengan teman-teman, ia menatap Abel dari kejauhan sembari berkata, "Kalian tahu? Kakak Kelas itu suka sama aku."
"Jangan bercanda," sahut salah satu temannya. Pasalnya, jarak kelas mereka cukup berjauhan. Terlebih Nadeem tidak pernah terlihat berkontakan langsung dengan gadis itu. Lagi pula, keberadaan Abel terlalu tipis untuk dikenal Nadeem yang notabene siswa ekstrovert.
Nadeem berdehem pelan. Ia menyelisik lebih jauh gadis itu. "Akhir-akhir ini aku selalu berpapasan sama dia." Ia mengangkat bahu. "Gerak-gerik dia waktu ketemu aku juga kayak gak biasa. Kelihatan bangetlah intinya ."
Bodohnya, Abel pernah mencoba mencuri kesempatan hanya untuk berkenalan dengan Nadeem, berhubung mereka memang asing satu sama lain. Abel memang tak memiliki harapan lebih dengannya, karena Nadeem sudah punya pacar.
Saat kegiatan Pawai Budaya, Abel pernah memanggilnya meski tak digubris. Bahkan, ia sempat meraih tangan lelaki itu hanya untuk menanyai keadaan, karena Nadeem pasti lelah berjalan mengelilingi kota saat pawai.
Itu adalah cinta pertama, sekaligus patah hati untuk Abel. Bukan karena Nadeem sudah punya pacar, dan memiliki banyak selingkuhan pada masa yang masih cukup belia. Hanya saja, ia merasa dikecewakan saat mencoba terbuka dengan seseorang.
"Gak mungkin banget Nadeem melupakan kejadian yang cukup menyita perhatian kayak gitu." Itu benar-benar pengalaman cinta terburuk. Sekarang, Abel justru kembali seperti waktu sebelum mengenal cinta.
Ia mengembuskan napas kasar. "Aku cuma bisa berharap, dia menganggap itu sebatas fase labil waktu remaja." Sambil memandangi para muda-mudi di taman yang saling memadu kasih, Abel memberikan argumen, "Menurutku cinta itu lebay."
***
Bayangin kalau kalian jadi Abel. Malu-maluin banget gak, sih:)
KAMU SEDANG MEMBACA
Bibliosmia
Historia Corta'Bibliosmia', aroma khas kertas. Aroma buku baru pada kumpulan cerita, kisah, dan legenda yang belum pernah kalian baca sebelumnya. Maka, jangan ragu untuk membuka lembarannya. Karena jika kalian sudah menaruh kecintaan dan membacanya, kalian akan...
