15

2.3K 221 33
                                        

~Enjoy it guys~


Garvi dan Jessie tiba di rumah sakit tidak berselang lama setelah Kaivan dipindahkan ke ruang VVIP. Mereka duduk di sofa mendengarkan penjelaskan dari papanya yang bercerita tentang kondisi Kaivan. Keduanya mengangguk paham, cukup mengerti akan apa yang harus ia lakukan ke adiknya.

"Ma, kau harus makan." Jessie beranjak berdiri menghampiri mamanya yang tengah duduk disamping ranjang Kaivan. Sampai saat ini anak itu belum sadar.

"Kai akan sadar sebentar lagi. Jadi, kau harus makan agar tetap sehat untuk menjaganya." Lanjutnya. Elisa mengangkat kepala menatap anak perempuannya.

"Mama khawatir sekali." Ucap Elisa setengah berbisik.

"Kai itu anak yang kuat. Ia tidak semudah itu untuk menyerah." Jessie membalas ucapan mamanya dengan sebuah pelukan menguatkan.

"Aku sudah membelikan makanan Jepang favoritmu. Sekarang giliranmu yang makan, aku akan menjaga Kai." Kata Jessie mengambil alih kursi yang berada disamping ranjang Kaivan.

✨️

Kedua netra itu mengerjap perlahan, membuka lalu menutup kembali beberapa kali. Berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke kornea matanya.

"Kai." Suara itu seolah menuntunnya.

"Hai, kau sadar." Suara itu terdengar lagi.

Setelahnya, kedua mata itu berhasil terbuka. Pandangannya mengarah ke seluruh penjuru ruangan termasuk mengabsen siapa saja yang saat ini berdiri mengelilinginya. Senyum tipis terbit di bibir laki-laki itu.

Elisa mengusap rambut Kaivan perlahan. Senyumnya merekah karena Kaivan sudah sadar. Ia lega.

"Kau haus, ingin minum?" Elisa menawarkan yang dibalas anggukan oleh anaknya.

Setelah menegak beberapa teguk air, tenggorokannya sudah terasa basah.

"Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir ma." Suara itu keluar pertama kali dari mulut Kaivan. Kedua mata anak bungsu itu menatap lurus kearah sang mama.

Elisa mengangguk beberapa kali." Ya, kau anak hebat." Ia mengelus pelan surai anak bungsunya.

Kaivan kembali mengedarkan pandangan kearah papa dan kedua kakaknya.

"Maaf karena aku sudah mengkhawatirkan kalian." Ucapnya.

"Yang terpenting sekarang kau sudah baik-baik saja." Garvi membalas ucapan Kaivan. Ia berdiri disamping ranjang ingin memastikan kondisi adiknya.

"Kau harus makan, Kai." Ucap Elisa.

Kaivan menggeleng pelan, "Apa boleh jika nanti saja? Aku tidak nafsu makan." Nada bicaranya setengah memohon.

Elisa menggeleng "Kau tetap harus makan agar bisa minum obat. Mama suapi ya." Wanita itu berusaha membujuk anak bungsunya.

Kaivan menghela napas berat, demi apapun sekarang ia hanya ingin tidur. Entah kenapa dirinya tidak memiliki tenaga lebih sehingga membuatnya mudah lelah.

Tapi perjanjian antara dirinya dan juga kepala keluarga yang tengah duduk di sofa sudut ruangan itu muncul di benaknya. Bahwa ia harus menjadi anak baik yang cukup duduk manis dan patuh.

"Sedikit saja ya ma. Aku merasa mual." Balas Kaivan final.

Elisa mengangguk menuruti, tangannya mengulur mengambil semangkuk bubur yang masih hangat.

Posisi Kaivan diatur setengah duduk, membiarkan punggungnya menyandar pada ranjang. Sekarang tulang belakangnya juga sakit, membuat ia tidak bisa duduk tanpa penyangga.

Dua suapan berhasil ditelan meski beberapa kali tangan Kaivan harus menutup mulut agar makanan itu tidak ia muntahkan. Keningnya menyengit karena pusingnya belum juga hilang, suhu tubuhnya juga masih demam.

"Sudah ma." Ucap Kaivan. Ia memundurkan kepala menjauhi sendok yang dijulurkan mamanya.

"Satu kali lagi ya. Ini terakhir." Elisa kembali membujuk.

Kaivan menggeleng "Aku sudah tidak tahan. Ingin mual, kepalaku pusing." Anak itu memilih mengeluh apa yang tubuhnya rasakan.

Cklek

Suara pintu mengalihkan perhatian semua orang yang berada di dalam ruangan. Dokter Julius datang dengan seorang perawat yang membawa catatan medis.

"Wow, kau hampir menghabiskan buburnya." Puji Dokter Julius.

Tama beranjak berdiri dan bergerak mendekat.

Kaivan mengangguk pelan. Ia meminum air yang diberi mamanya.

"Kai terus mengeluh mual." Ucap Tama.

"Aku akan melakukan pemeriksaan singkat ya Kaivan." Ucap pria berjas putih itu.

Kaivan mengangguk untuk kedua kalinya dengan menyerahkan gelas kearah mamanya. Memberi ruang untuk dokter agar memeriksa kondisinya.

"Apa kau merasa nyeri pada sendi dan ototmu?" Tanya Dokter Julius ditengah pemeriksaan. Ia menatap kearah Kaivan menunggu jawaban. Anak laki-laki itu mengangguk singkat.

"Dok-ter." Panggil Kaivan terbata.

"Ya? Apa yang kau keluhkan selain itu?" Dokter Julius memberi perhatian penuh pada pasiennya.

"Mual." Perkataan singkat itu membuat semua orang siaga.

Hoek

Hoek

Mualnya sudah tidak bisa dikompromi. Ia menyengitkan keningnya saat rasa mual kembali menyerang, perutnya sakit.

Seorang perawat sigap dengan menyerahkan wadah dan menaruhnya dibawah dagu Kaivan.

"Sakit." Keluh Kaivan. Ia meremas selimutnya sebagai pelampiasan. Tangannya beberapa kali menutup mulut. Dirinya tidak mau makanan yang baru saja masuk harus keluar kembali.

"Keluarkan jika memang sudah tidak bisa ditahan." Ucap Dokter Julius. Ia mengurut pelan tengkuk anak itu.

Kaivan menggeleng pelan, sebisa mungkin ia tidak boleh muntah. Infus di tangan kirinya sudah menjadi tanda buruk, ia tidak mau jika harus disuntik lagi untuk memasukkan nutrisi di tubuhnya.

Keringat kembali mengucur, suhu tubuhnya kembali demam. Mukanya pucat dan bibirnya kering. Ia mencoba mengatur napasnya agar tetap stabil. Tangannya mengulur kearah tulang belakang yang semakin nyeri.

Dokter Julius yang melihat pergerakan Kaivan akhirnya menyandarkan tubuh anak itu. Posisinya dibuat berbaring total.

"Aku akan memberikan obat untuk meredakan mualnya sekaligus pereda nyeri." Dokter Julian membawa suntikan, menembus jarum itu ke telapak kanan Kaivan.

Kaivan meringis pelan saat jarum suntik dicabut. Sudut matanya mengeluarkan air lalu diusap pelan oleh Elisa.

"Istirahatlah." Ucap Dokter Julius dengan merapikan selimut Kaivan. Kedua mata anak itu perlahan menutup disertai ritme napas yang teratur.

Selanjutnya ia membalikkan badan, menatap Tama dan Elisa bergantian.

"Sesuai yang kubilang, untuk beberapa hari kedepan kondisi Kaivan harus tetap berada dalam pantauan dokter."

"Aku akan berkunjung dua kali dalam sehari. Tolong jangan biarkan ia kelelahan. Sebisa mungkin batasi ruang geraknya, boleh berjalan tapi hanya jarak dekat. Jika ia merasa bosan dan ingin berjalan-jalan akan lebih baik menggunakan kursi roda."

"Satu lagi yang perlu diingat, hindarkan Kaivan dari cahaya yang terlalu terang karena itu akan memperburuk selaput otaknya. Saat ini ia cukup peka terhadap cahaya yang berlebihan."

Dokter Julius memberikan penjelasan secara rinci dan jelas. Tama mengangguk paham.

-

Part ini segini dulu ya
Kapan-kapan lagi🖐

Next? Comment and Vote

Salam Rynd🖤

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 02, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

KALOPSIATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang