14

1.9K 231 22
                                        

~ Enjoy it guys~

Entah berapa lama waktu yang Kaivan habiskan untuk menangis, tapi yang jelas sekarang kondisi tubuhnya tidak baik-baik saja. Dirinya terserang demam yang cukup parah hingga kepalanya terasa sakit. Bukan hanya pusing, tapi sudah ditahap sakit. Beberapa kali ia pergi ke kamar mandi karena merasa mual tapi tidak ada yang dikeluarkan. Ditambah juga sendi dan ototnya yang terasa nyeri. Kondisi ini semakin membuatnya buruk.

Sesaat setelah merasa suhu tubuhnya mulai memanas, ia segera memanggil Feri dengan mengetok pintu kamarnya. Berusaha agar siapapun yang berjaga diluar mau membukakan pintu untuknya.

"Tuan Muda, apa yang terjadi?" Feri berucap dengan nada panik. Bagaimana tidak, muka Kaivan sudah pucat pasi. Keringat sebutir jagung membasahi dahinya. Bahkan rambutnya sudah setengah basah oleh keringat.

"Sa-kit." Kaivan berucap dengan tersekat. Ia mengigit bibirnya dengan kuat guna melampiaskan rasa sakit.

Feri menoleh kearah Geo memberikan perintah "Panggil Tuan Tama dan Nyonya Elisa. Suruh cepat kemari."

Tanpa pikir panjang, Feri mengangkat Kaivan keatas ranjang. Menyelimuti anak itu karena terus saja mengeluh kedinginan. Padahal demi apapun, suhu tubuh anak itu terasa panas.

"Mama." Panggil Kaivan yang meracau. Sesekali ia meringis karena seluruh tubuhnya mendadak sakit dan nyeri.

"Nyonya Elisa sedang kemari. Sabar ya." Ucap Feri. Ia sadar tidak bisa berbuat banyak untuk meringankan rasa sakit Tuan Mudanya itu.

"Ada apa?" Suara bariton itu memenuhi ruangan. Tama berjalan dengan langkah tegas, rahangnya mengeras.  Elisa menyusul dibelakang.

"Tiba-tiba kondisi Tuan Muda Kaivan seperti ini, Tuan." Feri memberikan penjelasan.

"Siapkan mobil, kita ke rumah sakit sekarang juga." Tama memberikan perintah. Raut wajah pria itu begitu serius, tapi meski begitu ada sirat kekhawatiran yang terselip di nada bicaranya.

"Mama." Kaivan kembali buka suara.

"Ya sayang, mama ada disini. Mama menemani Kaivan." Ucap Elisa menenangkan. Ia mengusap kepala anaknya dengan lembut.

Tama menyibak selimut Kaivan lalu dengan gerakan pasti ia mengendong anaknya yang sudah terkulai lemas.

✨️

Pemeriksaan berlangsung selama satu jam. Tama merangkul Elisa berusaha memberikan kekuatan untuk istrinya.

"Kai akan baik-baik saja." Entah kalimat itu sudah terlontar berapa kali dari mulut Tama. Kalimat yang seperti ramalan doa yang diucap berulang tanpa henti.

Cklek

Pintu ruang inap darurat terbuka, Tama dan Elisa sontak berdiri menemui Dokter Julius.

Pria itu melepas sejenak kacamatanya, memijit pangkal hidung lalu menatap sepasang suami istri yang berdiri di hadapannya.

"Tam, ikut aku ke ruangan." Ucap Dokter Julius lalu beranjak pergi memimpin jalan.

Tama menoleh kearah Elisa lalu mengangguk sekilas tanda bahwa mereka harus mengikuti perintah dokter yang menangani anaknya.

Map berwarna putih diletakkan ke hadapan Tama dan Elisa. Tama memutuskan untuk yang pertama membuka map itu dengan menahan napas. Di dalam hatinya ia berharap banyak hal baik.

"Meningitis bukan penyakit biasa. Selain itu sindrom Ehlers-Danlos Klasik juga penyakit yang sampai saat ini tidak ada obat penawarnya. Kami selaku dokter hanya bisa memberikan obat dan serangkaian tes untuk meringankan gejala dan mencegah komplikasi, bukan mengobati atau menyembuhkan." Dokter Julius menjelaskan.

"Maaf karena aku harus memberikan kabar ini, tapi kondisi Kaivan saat ini memburuk." Pria itu menahan kalimatnya tetap mengantung.

"Untuk kondisi meningitisnya bisa dibilang cukup parah. Demamnya sulit sekali menurun, lehernya juga kaku yang menandakan jika infeksi yang terjadi padanya semakin memburuk."

"Jika nanti ia sudah sadar dan Kaivan mengalami mual atau muntah, maka dirinya harus dirawat untuk beberapa hari kedepan. Aku berpesan kepada kalian untuk jangan biarkan ia terkena sinar matahari langsung atau cahaya yang terlalu terang, karena setelah sadar nanti bisa jadi ia cukup sensitif terhadap itu." Dokter Julius menjelaskan.

"Setelah ini, aku akan meminta staf rumah sakit untuk menyiapkan ruang inap dengan cahaya yang redup dan minim dari sinar matahari langsung. Hal ini berlaku juga saat Kaivan sudah keluar dari rumah sakit. Tolong diperhatikan ya." Lanjut Dokter Julius.

Elisa mendengarkan semua ucapan itu dengan tangan yang teremat kuat. Hati seorang ibu tidak pernah berdusta. Ia sangat khawatir dengan kondisi anaknya.

"Untuk terapi fisik seperti melakukan aktivitas di luar ruangan sebaiknya sementara waktu harus dihentikan hingga kondisi Kaivan membaik. Jangan biarkan ia terluka ataupun terbentur. Awasi setiap pergerakannya karena kulitnya lebih halus dari terakhir kali aku memeriksanya. Selain itu, ditemukan bekas memar di beberapa bagian tubuhnya yang menjadi ciri penderita sindrom Ehlers-Danlos Klasik."

"Lima belas menit lagi, Kaivan akan dipindahkan. Kalian dapat menemuinya." Ucap Dokter Julius sebagai penutup.

"Terima kasih banyak, kau banyak membantuku." Kata Tama.

"Sudah seharusnya begitu. Kaivan sudah aku anggap sebagai anakku sendiri. Maka aku juga harus berjuang untuknya." Dokter Julius menjawab dengan senyum tipis yang sudut bibirnya.

-

Untuk informasi mengenai penyakit, aku sudah riset di Google. Jadi, kurang lebih seharusnya akurat. Meski begitu, maaf jika mungkin saja ada informasi yang terlewat.

Untuk part ini, cukup sampai sini dulu yaa🤸‍♀️

Next? Comment and Vote

Salam Rynd🖤

KALOPSIATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang