11

2.4K 264 44
                                        

Dianjurkan untuk baca ulang part pertama. Barangkali lupa sama alurnya. Karena aku selaku penulis pun lupa✌️

~Enjoy it guys~

Kedua netra itu mengerjap perlahan. Setelah merasa sudah cukup sadar, ia menyadarkan punggungnya di kepala ranjang. Tatapannya kosong, helaan napasnya lemah.

"Kai." Panggil Jessie pelan. Ia menutup kembali pintu kamar. Tungkai kakinya ia bawa mendekati ranjang.

"Kau ingin makan?" Lanjut perempuan itu. Berusaha membangun komunikasi dengan adiknya.

"Kau sudah lebih dulu mengetahui jika Miss Viola meninggal kan?" Tanya Kaivan mengalihkan topik. Menghiraukan tawaran makan kakaknya tadi.

Ada jeda sejenak sebelum Jessi menjawab.

"Aku baru mendengar kabar itu tadi pagi, sama sepertimu."

"Kau bohong kak." Kaivan menolak mentah argumen Jessie.

"Apa untungnya aku bohong? Wanita itu tidak berarti apa-apa di hidupku." Jessie menjawab dengan tenang. Ia duduk di tepi ranjang berhadapan dengan Kai.

"Kalian membunuhnya kan?" Kaivan menyerbu banyak pertanyaan.

Jessie menarik ujung bibirnya lalu menghela napas.

"Pikiranmu dangkal sekali, Kai. Kami tidak mungkin mengotori tangan hanya karena psikolog pribadimu." Balas Jessie.

"Berhenti berbohong kak!" Seru Kaivan. Ia sudah kehabisan rasa sabar.

"Kalian yang membunuhnya! Bisa saja ia mati bukan karena bunuh diri, tapi kalian yang membunuhnya!" Seru Kaivan. Suaranya lebih keras disertai nada tinggi.

Jessie berdiri dari duduknya. Raut wajahnya berubah serius dari yang semulanya tenang. Kaivan, adiknya itu tidak cukup jika diberi kelembutan.

"Kau punya bukti?" Tanya Jessie. Ia menyengkram dagu adiknya dengan kuat. Kaivan meringis kesakitan.

Sorot mata kakaknya benar-benar menakutkan. Intonasi bicaranya tenang tapi menghayutkan.

"Kumpulkan bukti jika kau benar-benar ingin menyimpulkan jika kami pelakunya." Lanjut Jessie.

BRAK

Suara pintu terbuka dengan kasar. Jessie menoleh kearah sumber suara, ada Tama dan Garvi disana.

Ia melepas cengkraman tangan di dagu adiknya. Lalu melangkah mundur, memberi ruang untuk kedua laki-laki yang baru saja masuk.

"Kenapa berteriak?" Tanya Tama. Ia melangkahkan kaki mendekat kearah si bungsu.

Kaivan memilih diam, ia mengontrol napasnya yang terengah.

"Pa, anak bungsumu itu menuduh kami sebagai pembunuh Miss Viola." Jessie membuka suara. Ia duduk di sofa dekat jendela.

Tama menatap Jessie dan Kaivan bergantian. Jadi alasan kenapa suara Kaivan menembus hingga luar kamar  karena tuduhan tak berdasar yang dilayangkan Kaivan pada Jessie. Itu tidak masuk akal.

Garvi memasukkan kedua tangannya di saku celana.

"Mana bukti yang bisa kau berikan jika kami adalah pembunuh?" Tanyanya.

Kaivan diam. Menutup mulutnya dengan rapat.

"Kau tak punya mulut? Tadi saja kau bisa berteriak pada Jessie. Tapi, kenapa sekarang kau menciut kepada kami?" Cecar Garvi.

"Kalian memang pembunuh." Desis Kaivan. Ia mengangkat kepala, menatap papa dan kakak tertuanya.

PLAK

Suara tamparan menggema memenuhi ruangan. Tama mengeraskan rahang, Kaivan benar-benar kurang ajar.

KALOPSIATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang