Narasinya dibaca yaa, aku gak mau jawab komen yang jawabannya udah ada di alur cerita.
~Enjoy it guys~
Pagi ini waktu menunjukkan angka delapan. Kaivan bergerak keluar dari kamar mandi dengan mengusak rambut basahnya dengan handuk kecil. Tungkainya ia bawa ke sudut ruangan, mengambil segelas air dan meminumnya hingga tersisa setengah. Sebentar lagi sarapan akan diantar ke kamarnya.
Ya, kalian tidak salah baca. Terhitung sudah tiga hari sejak kejadian dimana Garvi mengakui semua perbuatannya kepada Miss Viola sekaligus kejadian di mana mereka bertengkar hebat waktu itu. Sudah tiga hari pula anggota keluarganya termasuk papa, Garvi, dan Jessie tidak ada yang menemuinya ke kamar.
Sedangkan Kaivan tidak bisa keluar kamar, memang apa yang ia harapkan? Masih beruntung mamanya mau melepaskan ikatan di tangannya. Dirinya berani bertaruh, tanpa ia membuka pintu kamarpun papanya sudah memerintahkan Feri atau Geo untuk menguncinya dari luar. Selalu seperti itu. Akses tertutup dengan sempurna. Interaksi dengan orang lain dibatasi. Pintu kamar hanya dibuka di jam tertentu seperti saat ia makan atau saat mereka hanya ingin mengecek dirinya sudah tidur.
Liburan hanya sebuah omong kosong. Bualan yang tidak lebih dari penjara yang keluarganya ciptakan. Kaivan bergerak mengambil kamera melihat beberapa hasil bidikannya saat mengunjungi Palazzo Grassi. Hari di mana papanya menemukan luka sayatan dipergelangan tangannya. Kejadian yang lebih dulu membuat hubungan mereka meregang sebelum berita kematian Miss Viola.
Kaivan menghembuskan napas berat, memorinya berkilas balik ke waktu kejadian. Tapi apa boleh buat, semua sudah terjadi. Ia tertangkap basah karena sudah melukai dirinya sendiri dan berakhir dengan mayat Miss Viola yang harus menjadi korban.
Cklek
Mendengar suara pintu dibuka, Kaivan segera meletakkan kameranya ke tempat semula. Ia menegakkan punggungnya menunggu siapa yang akan datang. Untuk beberapa detik, napasnya tertahan saat sosok Tama melangkah masuk. Matanya bergerak gusar dan tanpa sadar tubuhnya juga bergerak menjauh.
"Makan." Ucap Tama. Meletakkan sebuah nampan dihadapan anak bungsunya sedangkan ia memilih duduk di tepi ranjang.
Tanpa diperintah dua kali, Kaivan segera menarik nampan untuk mendekat kearahnya, menyantap sarapannya dalam diam. Beberapa kali ia harus mengunyah kasar dan menelan makanannya dengan cepat. Dirinya benar-benar tidak siap jika harus berhadapan dengan papanya saat ini. Rasanya ingin cepat mengakhiri.
Menu sarapan yang berisi sayur dan sup daging sudah ia habiskan. Matanya melirik kearah buah alpukat yang seharusnya juga ia makan, tetapi saat ini perutnya sudah penuh. Tangannya bergerak mengambil air lalu meminum obatnya.
"Kenapa tidak dihabiskan?" Tanya Tama.
Tubuh Kaivan menegang mendengar suara papanya. Ia mengangkat kepalanya perlahan, memenuhi kontak mata dengan sang kepala keluarga.
"Nanti akan kuhabiskan. Saat ini perutku sudah kenyang." Jawab Kaivan hati-hati.
"Tiga jam lagi, jadwalmu untuk menemui Dokter Julius." Ucap Tama yang dibalas anggukan oleh Kaivan.
Setelah berucap, Tama bergerak berdiri. Mata Kaivan mengikuti gerakan papanya.
"Pa." Panggilan itu terdengar pelan tapi cukup terdengar oleh Tama. Pria itu hanya mengangkat sebelah alisnya sebagai respon.
"Aku minta maaf." Ucapan itu lolos dari mulut Kaivan. Laki-laki itu menundukkan kepala saat lawan bicaranya tidak kunjung menjawab lalu memilin ujung baju yang ia pakai.
"Tidak perlu minta maaf jika kesalahan yang sama akan terus kau lakukan berulang-ulang." Tama menjawab dengan nada datar.
Mendengar jawaban itu membuat Kaivan semakin merasa menciut dan takut.
"Papa sudah lelah dengan sikapmu Kai. Tidak bisakah kau menjadi anak baik yang hanya cukup duduk manis?" Ucapan Tama membuat Kaivan mengangkat kepalanya.
"Apa selama ini aku tidak menjadi anak baik?" Tanya Kaivan.
"Apa seorang anak yang sudah membuat kekacauan bisa disebut sebagai anak baik? Kau sudah menghancurkan banyak hal. Jika saja waktu itu luka sayatmu tidak ketahuan, maka kau akan terus bersandiwara. Berpura-pura baik hingga pembuluh nadimu terputus dan besoknya kami akan datang ke pemakamanmu. Begitu?" Tama menjawab dengan serentetan kalimat yang tidak mampu Kaivan balas.
Tama melangkah dua kali mendekat kearah Kaivan. Tangannya ia bawa untuk memegang dagu si anak. Kedua pasang mata itu bertemu. Kaivan sedikit meringis karena cengkraman di dagunya menguat.
"Aku hanya ingin kau menjadi anak baik yang duduk manis. Tidak ada bantahan, kau hanya cukup patuh dengan semua peraturan dariku. Kalau kau melakukannya lagi, bukan hanya Viola yang akan membayar hasil dari semua leluconmu itu. Jika kau melakukan kesalahan lagi atau melanggar satu saja perintah, peluru di pistolku tidak akan segan untuk melukai seseorang yang telah membantumu." Perkataan Tama itu terlontar dengan suara datar tetapi mengancam. Kaivan berkedip dua kali lebih cepat, dadanya terasa sesak. Tidak, tidak boleh ada lagi nyawa yang melayang hanya karena dirinya. Tidak boleh ada lagi korban.
"Kau mengerti?" Tama berbicara dengan menguatkan cengkraman di dagu anaknya. Bentuk peringatan terakhir sebagai pelampiasan amarahnya.
Kaivan mengangguk pelan dua kali, tanda bahwa dirinya cukup mengerti dengan ancaman itu. Tiba-tiba matanya memanas, air mata mulai jatuh membasahi celananya.
"Kau tak punya mulut? Hanya bisa menangis?" Tama melepaskan tangannya dari dagu si bungsu. Memasukkan kedua tangan di saku celana, menunggu jawaban.
"Aku mengerti." Kaivan menjawab di tengah isak tangisnya.
"Mengerti apa?" Tama menuntut jawaban lebih.
"Aku akan menjadi anak baik." Kaivan menjawab. Ia mengusap air mata yang akan keluar dan berusaha untuk menghentikan tangisnya lalu menatap kearah papanya.
"Anak baik yang apa?" Tama kembali meminta jawaban.
"Anak baik yang cukup duduk manis dan patuh dengan peraturan yang sudah diberikan papa." Jawab Kaivan pelan. Dirinya sudah tidak punya cukup tenaga.
"Good. Kau memang harus seperti itu." Tama mengakhiri pembicaraan lalu pergi keluar kamar.
Setelah terdengar suara pintu ditutup, Kaivan menundukkan kepala. Ia memeluk lututnya sendiri lalu kembali menangis. Punggungnya bergetar hebat tanda bahwa isak tangisnya semakin keras.
Jauh di lubuk hatinya ia ingin memberontak, ingin protes, ingin melawan tapi tidak tahu caranya. Karena sedari awal, ia hanya diajari untuk patuh.
-
Guys, penyakitnya Kai jadinya aku up di next part. Soalnya kalau disini, nanti feelnya jadi beda. So, ditunggu aja ya✨️
Spoiler buat next part👀
"Jangan biarkan ia terluka ataupun terbentur. Awasi setiap pergerakannya."
"Aku berpesan kepada kalian untuk jangan biarkan ia terkena sinar matahari langsung atau cahaya yang terlalu terang."
Makin penasaran? Makanya vote. Komen juga yang banyak. Mumpung aku sekarang lagi rajin update loh👍
Next? Comment and Vote
Salam Rynd🖤
KAMU SEDANG MEMBACA
KALOPSIA
Fiksi RemajaBersembunyi dibalik puluhan bidikan kamera dan menjadi bayangan ditengah gemerlapnya kepamoran yang membuat banyak orang terkesima. Dia Kaivan, sosok yang disembunyikan. ❌Dilarang keras menjiplak dan meniru isi cerita dan alur. Karya ini memiliki ha...
