~Enjoy it guys~
Entah berapa waktu yang Kaivan habiskan untuk mencoba melepas simpul ikatan tali yang mengikat pergelangan tangannya. Alih-alih ikatan itu menjadi longgar, rasa perih semakin terasa karena gesekan tali ke kulitnya.
Ia menghembuskan napas kasar. Merasa sia-sia dengan usahanya sejak tadi. Ia menyerah. Matanya menatap kearah langit-langit kamar.
Masih terasa hangat di ingatan, bagaimana obrolan dirinya dengan Miss Viola tentang ia akan pergi ke Selandia Baru dengan suaminya untuk bulan madu. Binar mata wanita itu menyalurkan antusias saat menceritakan rencananya. Tapi apa boleh buat, karena akibat kelakuannya wanita itu pergi dan tak pernah kembali.
Dalam hati ia berdoa untuk kepulangan psikolog pribadinya itu. Memohon agar ditempatkan di tempat terbaik. Serta meminta maaf karena sudah melibatkan wanita itu ke dalam keluarganya.
Cklek
Suara pintu terdengar. Kepala Kaivan ia arahkan ke sumber suara. Disana ada Elisa, sang mama berjalan kearah ranjangnya.
Kaivan membasahi bibirnya yang entah kenapa tiba-tiba terasa kering. Suasana canggung memenuhi ruangan kamar itu.
"Maaf ma." Kaivan membuka suara. Dia ingat jika dirinya belum sempat meminta maaf pada ibunya.
Elisa duduk di kursi sebelah ranjang, mengamati kedua tangan anaknya yang terikat. Sejak tadi mulut wanita itu tertutup rapat.
"Aku minta maaf karena sudah membuat mama kecewa." Ucap Kai. Matanya bergerak gusar, tak tahu harus berbuat apa dengan ruang geraknya yang terbatas.
"Kau ingin meninggalkan mama?" Elisa akhirnya buka suara.
Kaivan menggeleng beberapa kali. "Tidak, bukan itu maksudku. Niatku tidak begitu. Tolong jangan salah mengartikan." Ia berusaha menjelaskan.
"Lalu?" Elisa membalikkan pertanyaan.
"Sayatan di tanganmu sudah cukup menjelaskan bahwa bukan sekali atau dua kali kau melakukannya." Lanjut Elisa.
Sekarang gantian Kaivan yang terdiam. Ia berusaha mencari jawaban.
"Aku putus asa. Tidak tahu harus bagaimana." Perkataan itu lolos begitu saja keluar dari mulut Kaivan.
"Kau tidak bahagia lahir di keluarga ini?" Pertanyaan Elisa cukup membuat Kaivan termenung sejenak.
Kaivan menahan napasnya. "Aku bahagia."
"Tapi?" Elisa menuntut lebih banyak jawaban dari Kaivan.
"Bahagia tapi terkadang membuatku sesak. Sangkar ini membuatku kesulitan bergerak bahkan untuk bernapas sekalipun." Jawab Kaivan menjelaskan.
"Lalu apa maumu?" Elisa memandang lurus kearah anaknya.
Kaivan terdiam beberapa detik. Ia bingung harus menjawab apa.
"Dunia luar tidak baik untukmu Kai. Kami berusaha keras agar kau tetap terjaga, terhindar dari bidikan kamera, dan tidak dikenal oleh orang-orang bermuka dua di media."
"Kami berusaha agar kau tetap menjadi Kaivan sebagai anak bungsu kami. Bukan Kaivan sebagai anak bungsu dari pengusaha bernama Tama yang menjadi buruan para wartawan yang haus akan berita." Elisa menjelaskan panjang lebar.
Kini, Kaivan benar-benar diam. Ia tidak bisa mengelak, karena semua ucapan mamanya sepenuhnya fakta.
"Aku akan tetap menjadi Kaivan seperti yang kalian kenal. Tidak ada yang berubah dari itu." Kaivan mencoba menjelaskan.
"Maaf jika perbuatanku ini membuatmu sedih, aku tak ada niat untuk meninggalkanmu. Ataupun meninggalkan kalian." Kaivan menahan napas ditengah ucapannya.
"Aku hanya merasa, putus asa."
✨️
Goresan senja begitu cantik di langit Venesia. Kaivan menatap pemandangan itu dari jendela kamar hotelnya. Ikatan di tangan sudah dilepas mamanya setelah percakapan tadi pagi.
Sejujurnya ada banyak yang ingin ia keluhkan, tapi dirinya tidak tahu bagaimana caranya bercerita. Sejak kecil ia hanya diajari untuk menerima, mematuhi tanpa membantah, menyetujui tanpa adanya negosiasi, dan hanya bisa mengatakan iya. Tidak ada ruang baginya untuk menyuarakan pendapat yang bersarang dikepalanya.
"Patuhi saja, semua demi kebaikanmu Kai."
"Kau tak boleh membantah atau mendapat akibatnya."
"Pergi ke kamar dan jangan berani keluar tanpa perintah."
Semua ucapan dari keluarganya adalah mutlak. Semua berisi kalimat perintah yang menekan. Intonasinya jelas dan mengancam. Tidak banyak yang bisa ia lakukan selain diam, menurut, menutup mulutnya dengan rapat, menundukkan kepala, memilin ujung bajunya hingga kusut sebagai pelarian rasa takutnya.
Lalu, paman Geo akan mengajaknya ke kamar. Ia akan duduk di tepi ranjang dengan bahu yang merosot turun. Tidak ada tenaga untuk melawan. Atau lebih tepatnya tidak ada kuasa bahkan untuk dirinya sendiri. Tanpa bicara, paman Geo akan beranjak keluar meninggalkan dirinya di kamar sendirian. Pintu ditutup rapat lalu dikunci dari luar. Akses tertutup sempurna.
Cklek
Suara pintu menyadarkan Kaivan dari lamunannya, ia menoleh. Feri melangkah masuk dengan nampan berisi makanan lalu menaruhnya di meja bundar yang terletak di sudut ruangan.
"Paman, aku minta maaf." Ucap Kaivan. Baru sekarang ia bertemu dengan pria itu.
"Tidak perlu meminta maaf Tuan Muda, saya mengerti perasaan anda. Silahkan dinikmati untuk makan malamnya." Jawab Feri. Ia melangkah mundur. Menunggu pergerakan Kaivan mendekati meja dan duduk untuk menyantap makanan yang sudah disiapkan.
"Saya akan menunggu diluar." Ucap Feri lalu beranjak pergi.
"Tidak bisakah paman menemaniku disini? Aku kesepian." Ucapan Kaivan berhasil menghentikan langkah kaki Feri. Pria itu menoleh kebelakang melihat Kaivan yang menundukkan kepala.
Kaivan mengangkat kepala berusaha melanggar satu peraturan papanya yang semakin membuatnya tersiksa. Ia menatap Feri dengan tatapan memohon.
"Maaf Tuan Muda, anda dilarang terlalu banyak berinteraksi dengan saya." Ucap Feri dengan membungkukkan badannya sekilas sebagai permintaan maaf lalu beranjak pergi.
Ya, papanya melarang dirinya untuk berteman dekat dengan siapapun. Semua pekerja di rumah hanya boleh berinteraksi seadanya. Ia hanya boleh dekat dengan keluarganya. Tidak ada bantahan, tidak ada negosiasi. Hanya kepatuhan.
Kaivan menghela napas berat, ia sudah memprediksi jawaban itu. Seseorang yang bisa ia ajak bicara hanya Miss Viola tapi bahkan saat ini wanita itu sudah pergi ke surga.
Dirinya tetap sendirian entah dari dulu hingga sekarang. Tidak ada teman untuk bercerita, mengobrol, atau tertawa. Tidak ada dan tidak punya. Hanya ada kesepian dan keheningan.
-
Jangan samain Kai sama Zafran ya guys. Karena karakter Kai ini aku buat dengan sifat yang lebih tenang dan kalem gitu. Beda dari Zafran yang agak bar-bar.
Di next part, penyakit Kai aku up.
So stay tune♥️
Aku baru notice kalau part 11 update tanggal 1 Maret, terus sekarang part 12 update tanggal 1 Juli😂 Jadi, part 13 sampai ketemu di 1 November ya🙏
Hahahah. Becandaaa
Next? Comment and Vote
Salam Rynd🖤
KAMU SEDANG MEMBACA
KALOPSIA
Ficção AdolescenteBersembunyi dibalik puluhan bidikan kamera dan menjadi bayangan ditengah gemerlapnya kepamoran yang membuat banyak orang terkesima. Dia Kaivan, sosok yang disembunyikan. ❌Dilarang keras menjiplak dan meniru isi cerita dan alur. Karya ini memiliki ha...
