Hari pertama masuk sekolah setelah liburan panjang harusnya jadi momen yang menyenangkan. Tapi bagi Jake, setiap langkah menuju gerbang sekolah justru terasa seperti berjalan ke tempat penyiksaan.
Langkah kakinya lambat. Napasnya tak beraturan. Tangan kirinya mencengkeram erat tali ransel seolah itu satu-satunya yang bisa ia andalkan untuk tetap berdiri.
"Jake!!" seru seorang guru piket.
Jake menunduk cepat dan mempercepat langkah.
"Ya, Bu..."
"Kancing bajumu... rapiin tuh rambut juga. Masa masuk sekolah kayak orang baru bangun tidur?"
"Maaf, Bu..." jawab Jake lirih.
Padahal ia sudah menyisir rambutnya berkali-kali pagi tadi. Tapi rambut ikalnya memang susah diatur. Dia juga telat karena malamnya susah tidur-susah tidur karena mimpi buruk, atau mungkin kenyataan yang menakutkan di sekolah ini.
Jake berjalan di lorong sekolah. Beberapa murid menatap, sebagian bisik-bisik.
"Itu anak pindahan yang aneh itu ya?"
"Iya... yang katanya pernah pingsan di WC gara-gara nangis sendirian..."
"Kasian sih... tapi kok makin lemah gitu ya?"
Jake pura-pura nggak dengar.
Sampai akhirnya dia masuk ke kelas. Suasana langsung berubah.
Senyap.
Jake menunduk dan cepat-cepat duduk di pojok dekat jendela, tempat yang biasanya kosong. Tapi hari ini, tempat itu sudah diisi. Dan sialnya, yang duduk di situ adalah cowok jangkung berambut gelap dengan tatapan datar: Haruto.
Jake menahan napas.
Haruto menatap Jake tanpa senyum, tapi juga tanpa kata-kata. Ada aura dingin dari tatapannya. Jake bisa merasakan sorot itu sampai menusuk ke tulang.
"Gue duduk di sini," kata Haruto pendek, tapi tegas.
Jake menelan ludah. "I-Iya, maaf..."
Jake mundur dan pindah ke bangku belakang. Haruto tetap diam. Tapi saat Jake berjalan lewat, lutut cowok itu sengaja menonjol, bikin Jake hampir tersandung.
Beberapa siswa di belakang tertawa pelan. Salah satunya Kenta, salah satu dari "gerombolan Haruto".
"Woi Jake, nunduk dong. Lu kira lu siapa jalan depan Haruto?"
Jake menggigit bibir bawah. Dia nggak membalas.
Sudah terbiasa.
Sudah biasa dianggap nggak penting.
Sudah biasa dipojokkan.
Hari berjalan seperti neraka kecil bagi Jake. Buku catatannya disembunyiin, sepatu kirinya basah karena dilempar ke wastafel toilet, bahkan bekalnya dibuang dengan alasan "nggak sehat bau amis".
Jake selalu diam. Nggak pernah ngadu. Nggak pernah balas.
Karena semua yang dia lakukan pasti berujung makin parah.
Satu-satunya yang membuat dia tetap bertahan cuma satu: ibunya. Setiap malam, ibunya akan menyentuh rambutnya dan bilang, "Mama tahu kamu kuat, Nak. Kamu itu cahaya buat mama."
Cahaya? Rasanya Jake malah tenggelam dalam kegelapan.
Waktu istirahat, Jake menyendiri di lorong belakang perpustakaan. Tempat itu sepi, jarang dilewatin orang. Di situlah ia membuka kotak bekal kecil berisi nasi kepal buatan ibunya. Tapi saat ia baru membuka, suara langkah kaki membuatnya menegang.
![Jake harem [ON GOING]](https://img.wattpad.com/cover/336028947-64-k113450.jpg)