heejake

560 36 3
                                        

Jake gak pernah nyangka hidupnya yang lurus-lurus aja bakal belok cuma karena satu event kampus.

Dia waktu itu cuma ikut bantu jadi tim dokumentasi buat acara sosial gabungan fakultas. Tugasnya: moto, edit video, kirim laporan. Udah gitu aja. Tapi sore itu, waktu dia lagi ngerapihin tripod sambil nyuap bakso tusuk, ada satu suara yang bikin dia nengok.

"Eh, boleh pinjem kursi gak?"

Jake noleh. Cowok tinggi dengan kaus putih polos dan celana jeans santai berdiri depan dia, senyum ramah. Ganteng, jujur aja. Tapi kelihatan banget anak orang berada dari gaya dan cara ngomongnya.

Jake buru-buru ngangguk. "Oh, silakan."

Si cowok itu duduk, lalu buka laptop. Jake awalnya mau cabut, tapi karena satu dan lain hal, si cowok malah ngajak ngobrol duluan.

"Nama lo siapa?" tanyanya sambil nyalain bluetooth speaker kecil.

"Jake," jawabnya singkat, agak kikuk.

"Heeseung."

Mereka salaman.

Dari situ obrolan ngalir. Gak tau kenapa, padahal mereka beda dunia banget. Jake anak biasa, tinggal sama ibu dan adiknya di rumah kecil pinggir kota, kerja serabutan buat bayar kuliah sendiri. Sementara Heeseung… dari caranya nyebut "gue disuruh nyokap bantu acara ini", jelas banget dia bukan orang sembarangan.

Tapi Heeseung gak nunjukin sikap sok. Dia justru nanya banyak soal kerjaan Jake, bahkan bantu angkat-angkat barang dokumentasi. Dan malam itu, setelah acara selesai dan semua orang bubar, mereka duduk berdua di tangga aula kampus.

"Cape juga ya," kata Heeseung sambil minum air mineral.

Jake ngangguk. "Tapi seneng sih. Gue suka kalau event gini lancar."

Heeseung melirik. "Lo kelihatan kayak orang yang suka kerja keras."

"Gak ada pilihan lain," jawab Jake, senyum miris.

Heeseung diem sebentar, lalu bilang pelan. "Gue suka sama orang yang kayak lo."

Jake sempet kaget. “Hah?”

Heeseung cuma senyum. “Santai. Gak harus jawab sekarang.”

Dan sejak malam itu... semua mulai berubah.

Mereka mulai sering chat. Awalnya ngebahas tugas kampus, terus lama-lama beralih ke hal pribadi. Jake pelan-pelan nyaman. Meskipun dia selalu ngerasa kecil tiap ngeliat IG Heeseung yang isinya mobil bagus, restoran mahal, dan acara keluarga elite, Heeseung gak pernah bikin dia ngerasa direndahin.

Sebaliknya, Heeseung yang makin nempel. Sering ngajak ketemu, nganterin pulang, bahkan dateng ke kos Jake cuma buat makan gorengan bareng.

“Gue suka lo,” kata Heeseung suatu malam sambil duduk di motor, helm masih nempel.

Jake kaget. “Hee, jangan becanda. Lo tau kan, kita beda…”

“Gue gak peduli lo anak siapa, kerja apa, tinggal di mana. Yang gue tau... tiap gue bareng lo, hati gue tenang.”

Jake diem.

Bibirnya pengen bilang iya.

Tapi pikirannya takut.

Takut disakiti. Takut dijadiin mainan. Takut gak bisa diterima dunia tempat Heeseung berasal.

Tapi... Heeseung tetap sabar. Gak maksa. Gak ninggalin.

Akhirnya, setelah tiga bulan, mereka resmiin hubungan. Gak umum, gak diumumin, tapi cukup buat bikin Jake bahagia.

Heeseung bilang suatu hari, “Gue pengen lo ketemu keluarga gue.”

Jake harem [ON GOING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang