Jake sebenernya cuma telat lima menit lima menit doang, tapi cukup bikin suasana kelas berubah total.
Begitu dia buka pintu ruang 3.12 dengan napas masih agak ngos-ngosan, semua mata langsung nengok ke arah dia.
Termasuk satu pasang mata yang bikin langkah Jake berhenti setengah detik lebih lama dari seharusnya.
Dosen baru.
Tinggi, posturnya tegap, pakai kemeja putih lengan panjang yang digulung rapi sampai siku. Rambut hitamnya disisir rapi tapi nggak keliatan kaku, malah jatuh natural. Wajahnya… terlalu tenang buat ukuran dosen killer, tapi juga terlalu dingin buat dibilang ramah.
Jake nelen ludah.
“Maaf, Pak,” katanya spontan, suaranya agak pelan. “Saya telat.”
Dosen itu ngelirik jam tangan di pergelangan tangannya, lalu balik menatap Jake.
Tatapannya datar, tapi entah kenapa bikin dada Jake berdebar nggak jelas.
“Nama?” tanyanya singkat.
"Shim jake pak" jawab jake takut takut
“Hm.” Dosen itu mengangguk kecil. “Silakan duduk. Lain kali datang tepat waktu.”
Nggak ada bentakan, nggak ada nada tinggi. Justru itu yang bikin Jake makin gugup.
Dia buru-buru jalan ke bangku kosong di barisan tengah, duduk, dan baru sadar kalau tangannya dingin.
Teman sebangkunya, Sunoo, langsung nyenggol lengan Jake pelan.
“Gila,” bisik Sunoo. “Dosen barunya cakep banget, kan?”
Jake nggak jawab. Fokusnya masih ke depan kelas.
Dosen itu menulis namanya di papan tulis dengan huruf tegas.
"Park Sunghoon"
“Mulai semester ini, saya yang akan mengajar mata kuliah Etika Profesional,” ucap Sunghoon dengan suara tenang.
“Saya nggak suka kelas yang ribut, tapi saya juga nggak suka mahasiswa yang cuma duduk tanpa mikir.”
Beberapa mahasiswa langsung duduk lebih tegak.
Jake? Masih bengong.
Kenapa dosen bisa setampan itu, sih?
Selama kelas berlangsung, Jake berusaha fokus. Beneran. Tapi tiap kali Sunghoon jalan pelan menyusuri kelas sambil ngejelasin materi, perhatian Jake selalu kebalik.
Cara Sunghoon ngomong itu kalem, nggak keburu-buru. Tatapannya tajam tapi nggak mengintimidasi. Sesekali dia berhenti, nanya pendapat mahasiswa, dan nggak segan ngoreksi kalau jawabannya ngawur—tanpa bikin malu.
Sialnya, Jake kena giliran.
“Menurut kamu, Jake,” kata Sunghoon tiba-tiba, menatap lurus ke arahnya, “apa yang paling penting dari etika dalam dunia kerja?”
Jake refleks menegakkan punggung. Otaknya mendadak blank semua mata tertuju padanya.
“E-eh…” Jake mikir keras. “Menurut saya… etika itu soal tanggung jawab. Bukan cuma ke perusahaan, tapi ke diri sendiri juga. Kalau kita nggak jujur sama diri sendiri, kerja seprofesional apa pun rasanya kosong.”
Hening sesaat.
Sunghoon menatap Jake lebih lama dari yang seharusnya.
Jake hampir panik, takut jawabannya salah.
Lalu Sunghoon mengangguk pelan.
“Jawaban yang menarik,” katanya. “Duduk.”
Jake baru sadar dia nahan napas.
Sunoo langsung nyengir. “Fix, lo di-notice.”
Jake nyikut balik. “Diem.”
Tapi jantungnya belum juga tenang.
![Jake harem [ON GOING]](https://img.wattpad.com/cover/336028947-64-k113450.jpg)