niki jake

719 30 2
                                        


Suara pintu dibanting keras menggema di dalam rumah reyot itu. Jake, pemuda berusia sembilan belas tahun, otomatis meringkuk di pojokan kamar. Nafasnya tercekat, tangannya gemetar. Ia sudah hafal—kalau ayahnya pulang dalam keadaan mabuk, itu berarti malam panjang penuh teriakan dan rasa sakit.

“JAKE!!!” suara berat dan serak itu menggema, diikuti langkah kaki yang berat menghantam lantai kayu.
Jake menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Tapi tubuhnya sudah otomatis gemetar. “I-ya, Yah…” suaranya kecil, hampir tak terdengar.

Pintu kamarnya ditendang terbuka. Sosok ayahnya, dengan mata merah dan botol kosong di tangan, berdiri di ambang pintu. “Kenapa rumah berantakan gini? Dasar anak nggak berguna!”

Jake buru-buru bangkit, menunduk. “Maaf, Yah… tadi aku habis bersih-bersih. Aku—”

“ALASAN!” bentakan itu diikuti tamparan keras yang membuat pipi Jake perih. Ia hampir jatuh, tapi buru-buru menahan tubuhnya agar tetap berdiri.

“A-aku janji besok aku lebih rajin, Yah,” gumamnya terbata-bata.

Tapi ayahnya tidak peduli. Tangan kasar itu menarik kerah bajunya, menyeretnya keluar kamar. Jake terantuk ke dinding, kepalanya sedikit pening. “Denger ya, Jake. Kamu tuh cuma anak beban! Sejak ibu kamu mati, hidup saya makin susah saya nggak butuh kamu lagi!”

Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari pukulan apa pun. Jake terdiam, menahan tangis. Ingatannya melayang pada wajah ibunya—senyum lembut yang sudah lama hilang dari hidupnya. Ia baru berusia empat tahun saat ibunya pergi, tapi rasa hangat itu masih ia rindukan setiap hari.

“Besok saya udah nggak mau liat muka kamu di sini lagi.” Ayahnya mendengus, lalu melempar botol kosong ke arah tembok. Kaca pecah berhamburan di lantai. “saya  sudah dapet orang yang mau beli kamu akhirnya kamu ada gunanya juga ya"

Jake menoleh kaget. “B-beli aku?”

“Ya kamu pikir saya mau pelihara anak yang nyusahin saya terus?saya butuh duit ada orang Korea kaya, dia mau beli kamu ntah buat apa saya nggak peduli.”

Jantung Jake berhenti sejenak. Dijual? Oleh ayahnya sendiri? Ia menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca. “Tapi Yah… aku kan anakmu…”

“ANAK? Jangan ngaco! Anak harusnya bikin hidup orang tua enak, bukan nyusahin!” Ayahnya mendorong Jake hingga terjatuh ke lantai. “Besok siap-siap kamu bakal saya kirim. Udah, diam!”

Jake menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan tangis. Ia hanya bisa menatap lantai kotor rumah itu, hatinya hancur. Malam itu, ia terbaring di ranjang tipis, memandangi langit-langit retak. Perasaan takut bercampur putus asa. Apa aku beneran nggak berguna? Apa Mama kalau masih ada, juga bakal buang aku?

Keesokan paginya, suara klakson mobil mewah terdengar di luar rumah. Jake keluar dengan langkah gontai, diiringi dorongan kasar dari ayahnya. Di depan rumah, sebuah mobil hitam mengilap terparkir. Seorang pria tinggi dengan jas rapi berdiri menunggu. Wajahnya dingin, penuh wibawa.

“Ini anaknya?” tanya pria itu singkat. Bahasa Indonesianya patah-patah, jelas bukan orang sini.

Ayah Jake mengangguk cepat. “Iya. Ini Jake. Ambil aja, saya nggak butuh lagi.”

Jake menunduk, hatinya berdebar kencang. Ia tak berani menatap orang asing itu. Tangannya gemetar saat pria itu membuka pintu mobil dan menyuruhnya masuk.

“Cepat.” Suaranya dalam, tapi tidak sekeras ayahnya.

Jake ragu, tapi ia menurut. Ia masuk ke dalam mobil, duduk diam di kursi belakang. Dari kaca jendela, ia masih bisa melihat ayahnya melambaikan tangan—bukan lambaian perpisahan penuh kasih, melainkan senyum puas karena mendapat uang.

Jake harem [ON GOING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang