wonbin jake

204 18 2
                                        

Langit Istana Elion hari itu cerah banget. Matahari bersinar pas, langit biru bersih kayak habis dicuci, dan burung-burung berkicau ceria seolah nggak sadar kalau ada satu orang di istana ini yang sedang stres tingkat dewa.

Orangnya? Jake.
Masalahnya? Dia baru aja numpahin teh khusus Pangeran Wonbin. Teh yang katanya cuma boleh diseduh pakai daun teh dari pegunungan utara, disajikan hangat pas suhu 60 derajat, di cangkir keramik biru langka dari Tanah Arkan.

Dan sekarang... cangkirnya udah pecah di lantai.

“YA! Itu teh buat Pangeran!”

Jake cuma bisa menatap pecahan keramik di lantai sambil nahan napas. Tangannya masih gemetar. Dia pelayan baru, baru dua hari kerja, dan ini bisa jadi hari terakhirnya.

“Saya aduh, maaf saya tidak—”

Semua pelayan di lorong itu langsung minggir. Dari ujung lorong, langkah kaki terdengar pelan tapi tegas. Hening.

Jake tahu siapa yang datang bahkan sebelum dia lihat wajahnya.

Pangeran Wonbin.

Pria berumur 21 tahun, pewaris tunggal Kerajaan Elion. Rambut hitam berkilau, kulit putih pucat yang nyaris seperti marmer, dan sorot mata dingin yang bisa bikin siapa pun pengen sembunyi di kolong meja.

Jake menunduk. Keringat dingin turun di pelipisnya.

Wonbin berdiri diam di depannya. Pandangannya jatuh ke pecahan teh, lalu ke wajah Jake. Nggak ada emosi. Datar. Dinginnya kebangetan.

Semua orang nunggu dia ngomong. Dan akhirnya, dengan suara pelan tapi tajam, dia bilang

“Bersihkan. Sekarang.”

Jake langsung jongkok, ambil kain, dan mulai bersihin lantai. Dia bisa ngerasain mata semua orang nancep ke punggungnya.

‘Nice, Jake. Hari kedua kerja dan udah hampir dipecat,’ pikirnya sambil ngelap lantai.

Setelah kekacauan itu, Jake dipanggil ke dapur.

“KAMU TUH YA!” seru Bibi Hana, kepala pelayan yang galak tapi baik hati. “Baru dua hari, udah bikin heboh! Itu teh langka! Teh langka, Jake!”

“Saya tau, saya beneran nggak sengaja, Bi. Saya cuma kepleset!”

“Kamu tuh harus belajar jalan kayak pelayan istana beneran! Bukan kayak anak kampung baru masuk kota!”

Jake meringis. “Emang saya anak kampung, Bi…”

Bibi Hana langsung melempar sendok kayu ke arahnya. Tapi dengan reflek cepat, Jake nangkep.

“See? Refleks saya bagus! Harusnya dapet nilai plus dong!”

“Diam, kamu. Pergi bawa buah ini ke taman, buat Yang Mulia.”

Jake mengangguk. “Siap, Komandan!”

Di taman istana, bunga-bunga mekar rapi kayak diatur satu-satu. Angin semilir sejuk. Di bangku marmer panjang, duduk seseorang pakai jubah emas elegan, baca buku tebal.

Wonbin.

Jake mau mundur. Dia baru aja bikin masalah sama pangeran itu. Tapi... udah terlanjur.

“Pelayan,” suara Wonbin terdengar, pelan tapi jelas.

Jake membeku. “Saya?”

“Kesini.”

Jake jalan pelan-pelan, nunduk. Nggak berani kontak mata. Dia taruh nampan buah di meja kecil di samping bangku sang pangeran.

Wonbin menutup bukunya. “Kamu bukan dari sini, kan?”

Jake kaget. “Eh… maksudnya bukan dari istana?”

Jake harem [ON GOING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang