Rumah keluarga Park terletak di pinggir kota, dua lantai dengan halaman belakang kecil tempat Jake sering menghabiskan sore. Di sana, pada ayunan kayu yang sudah mulai berderit, Jake duduk sambil memeluk buku sketsa di pangkuannya.
Langit sore menjingga. Daun-daun kering beterbangan tertiup angin musim gugur yang lembut. Dan dari jendela lantai dua, seseorang memperhatikannya dalam diam.
Jisung.
Dia berdiri diam di balik tirai kamarnya, menatap adik tirinya dengan mata kosong atau mungkin, terlalu penuh sampai tak sanggup memperlihatkan perasaan apa pun. Jake tidak pernah berubah: polos, hangat, ceria. Dan itu membuat Jisung semakin sulit melepaskan perasaan yang tak pernah ia izinkan tumbuh.
Bukan karena ia tidak ingin. Tapi karena ia tidak boleh.
Sejak Jake masuk ke keluarga mereka di usia 6 tahun, Jisung menolaknya. Bukan karena iri, bukan karena benci. Tapi karena saat itu, Jisung tahu satu hal yang tidak pernah diberitahukan siapa pun pada Jake ia bukan anak kandung Park Jin dan Park Jisoo.
Satu-satunya yang tahu kebenaran itu hanyalah Jisung.
Dan sejak saat itu, ia menyimpan dendam... yang perlahan berubah bentuk jadi sesuatu yang lebih rumit. Lebih gelap. Lebih dalam.
“Aku dapet email dari profesor Jepang itu, Ma!” kata Jake semangat sambil menyendok sup rumput laut ke mangkuknya. “Kalau nilai semester ini oke, aku bisa daftar summer course musim panas depan.”
“Oh, sayang! Itu luar biasa!” seru mama jisoo sambil tersenyum bangga.
Papa jin menepuk punggung Jake. “Kamu udah kerja keras. Kamu pantas dapet itu.”
Jisung hanya mengangguk kecil, wajahnya datar, suaranya tenggelam dalam tawa ringan keluarganya.
Jake menatap kakaknya sebentar. “Hyung... kamu nggak bilang apa-apa?”
Jisung menatap balik, matanya kosong sesaat. “Selamat.”
Hanya satu kata. Datar. Tapi cukup membuat Jake menggigit bibirnya ia masih tak bisa membaca Jisung. Kakaknya itu selalu terasa jauh, bahkan saat duduk hanya dua kursi darinya.
mama jisoo mencoba mencairkan suasana. “Kamu bisa beli kamera baru buat ke Jepang nanti, Jake. Kamera kamu udah butut.”
Jake tertawa. “Aku pengen banget bawa kamera mirrorless yang bisa rekam video juga.”
“Kalau kamu dapet beasiswa, Ibu beliin.”
Jisung bangkit dari kursinya sebelum mereka selesai makan. “Aku udah kenyang.”
“Jisung,” tegur papa jin. “Belum ada setengah jam kamu duduk.”
“Aku capek,” sahutnya, dan berlalu ke atas tanpa menoleh.
Jake menunduk.
Cahaya kamar redup. Jisung duduk di tepi ranjang, matanya memandangi layar ponselnya yang kosong.
Tak ada pesan dari Jake. Tentu saja. Mereka tak pernah benar-benar dekat. Tapi sejak dua tahun terakhir, jarak itu justru membuat Jisung semakin terikat. Setiap senyum, setiap tawa Jake... menghantui Jisung hingga malam.
“Aku kakaknya,” ia bergumam sendiri.
“Tapi dia bukan adikku. Dia bukan darahku. Jadi kenapa aku gak bisa berhenti mikirin dia?”
Tatapannya jatuh pada sketsa kecil yang ia curi diam-diam dari buku Jake beberapa bulan lalu. Gambar dirinya—dengan coretan tinta berjudul “Hyung yang selalu diam.”
Dia menyimpan itu dalam laci meja belajarnya. Tapi malam ini, ia keluarkan dan tatap lama-lama.
Perasaan ini... bukan benci. Bukan sekadar sayang.
![Jake harem [ON GOING]](https://img.wattpad.com/cover/336028947-64-k113450.jpg)