jungwon jake

491 36 6
                                        

“Hyung, kalau aku sudah besar... aku akan menikahi hyung.”

Jake tertawa pelan, tak tahu kalau kata-kata itu akan menghantui hatinya bertahun-tahun kemudian.


---

Hujan baru saja berhenti. Udara sore masih lembap dan bau tanah basah menyeruak ke hidung. Di halaman rumah keluarga Jung, seorang bocah lelaki berusia delapan tahun tengah duduk bersila di rumput. Namanya Yang Jungwon.

Di depannya berdiri seorang pemuda berusia delapan belas tahun yang baru saja pulang kuliah, mengenakan hoodie abu-abu yang sudah agak pudar warnanya. Jake — tetangga sebelah rumah, yang bagi Jungwon lebih mirip pahlawan daripada sekadar kakak tetangga.

Jake menunduk, menatap Jungwon yang pipinya masih kemerahan karena berlari-lari di taman. “Kenapa manggil hyung sore-sore begini?” tanyanya, senyum tipis tergantung di sudut bibir.

Jungwon menggigit bibir bawahnya, sedikit gugup. Tapi akhirnya ia mengangkat kepala, menatap Jake dengan mata bundarnya yang polos, dan berkata dengan suara setengah bergetar, “Hyung… kalau aku sudah besar… aku mau menikahi hyung.”

Jake terkejut. Beberapa detik ia hanya terdiam sebelum tawa ringan lolos dari bibirnya. “Aigoo, Jungwon-ah… Kenapa tiba-tiba bilang begitu? Kau masih kecil sekali, tahu?”

“Tapi aku serius!” sahut Jungwon cepat, pipinya memerah semakin dalam. “Aku mau nikah sama hyung. Hyung baik, selalu jagain aku, selalu beliin aku es krim…”

Jake tersenyum, hati kecilnya hangat — dan juga sedikit nyeri, entah kenapa. Ia berjongkok, menyamakan tinggi matanya dengan Jungwon. “Kau tahu, jarak umur kita sepuluh tahun. Hyung sudah besar sekali kalau kau sudah besar nanti.”

Jungwon mengerucutkan bibirnya. “Nggak apa-apa. Aku tetap akan nikahin hyung.”

Jake menepuk pelan kepala Jungwon, mengacak-acak rambut hitamnya yang halus. “Kalau begitu… janji ya. Tapi hanya kalau kau masih ingat saat sudah besar nanti.”

“Tapi aku serius!” sahut Jungwon cepat, pipinya memerah semakin dalam. “Aku mau nikah sama hyung. Hyung baik, selalu jagain aku, selalu beliin aku es krim…”

Jake tersenyum, hati kecilnya hangat — dan juga sedikit nyeri, entah kenapa. Ia berjongkok, menyamakan tinggi matanya dengan Jungwon. “Kau tahu, jarak umur kita sepuluh tahun. Hyung sudah besar sekali kalau kau sudah besar nanti.”

Jungwon mengerucutkan bibirnya. “Nggak apa-apa. Aku tetap akan nikahin hyung.”

Dan di situlah janji kecil itu dibuat. Tanpa ada yang tahu, bahwa janji itu akan mengikat mereka sampai sepuluh tahun kemudian.

---

Malam harinya, Jake pulang ke rumahnya sendiri, masih memikirkan kata-kata Jungwon. Di matanya, Jungwon hanyalah anak kecil yang polos dan manis. Jake sendiri tidak pernah terpikir akan benar-benar… menanggapi janji itu. Apalagi ia merasa seperti kakak bagi Jungwon, bukan calon pasangan.

Tapi jauh di lubuk hatinya, Jake merasa hangat. Mungkin, hanya mungkin, ia terlalu kesepian, dan perhatian tulus Jungwon membuatnya merasa berarti.

Di kamarnya, Jake menghela napas. “Ah, pasti dia akan lupa nanti. Anak kecil selalu banyak mau,” gumamnya sambil mematikan lampu dan merebahkan tubuh di kasur.

Ia tak tahu, bahwa di kamar seberang, Jungwon tertidur sambil memeluk boneka kelincinya erat-erat, hatinya penuh keyakinan: “Aku pasti akan menepati janji ini.”

Tahun-tahun berjalan cepat.
Jungwon tumbuh, bukan lagi bocah yang selalu merengek minta es krim, melainkan menjadi remaja SMP yang semakin tinggi, semakin tampan. Sementara Jake sudah mulai bekerja di kantor arsitek kecil di pusat kota, sering pulang larut malam dengan wajah lelah.

Jake harem [ON GOING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang