Mingyu Scoups

222 16 7
                                        

Kalau ada satu hal yang paling dibenci Seungcheol—atau yang biasa dipanggil Scoups—itu adalah hari Senin.

Terlebih lagi Senin pagi, jam delapan kurang lima, saat lift kantor penuh manusia setengah sadar dan aroma kopi sachet murahan bercampur parfum mahal.

Scoups berdiri di pojokan lift, tas selempang digenggam kuat, mata setengah tertutup. Rambut hitamnya masih sedikit berantakan karena ia lupa menyisirnya pagi ini. Bukan karena malas, tapi karena semalam lembur ngerjain laporan yang katanya harus dikumpulin hari ini.

“Pagi, Cheol.”

Scoups melirik ke samping. Jeonghan, rekan satu divisinya, senyum sok cerah seperti biasa.

Jeonghan terkekeh. “Katanya hari ini kita dapet direktur baru loh.”

Scoups mendengus. “Direktur lama aja belum hafal muka gue.”

Lift berhenti di lantai 15. Divisi Marketing.

Begitu pintu terbuka, aura chaos langsung terasa.

Beberapa karyawan berlarian, ada yang ngerapihin meja, ada yang bisik-bisik.

“Beneran hari ini datang?”
“Katanya masih muda tapi galak.”
“Katanya tinggi banget.”

Scoups langsung pasang mode tidak peduli. Ia duduk di kursinya, menyalakan laptop, dan membuka file presentasi. Fokus.

Sampai suara langkah kaki terdengar.
Bukan langkah biasa. Berat. Tegap. Berwibawa.

“Selamat pagi.”

Suara bariton itu sukses bikin satu ruangan hening seketika.
Scoups refleks mendongak.

Dan di detik itu juga, pikirannya blank.

Pria itu tinggi. Sangat tinggi. Bahu lebar dibalut setelan hitam rapi, rambut hitam disisir sedikit ke belakang. Rahangnya tegas, matanya tajam tapi… entah kenapa hangat.

“Nama saya Kim Mingyu,” katanya tenang. “Mulai hari ini, saya direktur baru di divisi ini.”

Beberapa orang langsung tepuk tangan kecil. Scoups? Masih bengong.

Mingyu mengedarkan pandangan, lalu matanya berhenti tepat ke arah Scoups.

Tatapan mereka bertemu.

Dan entah kenapa, dada Scoups berdegup lebih cepat.

“Baik,” lanjut Mingyu. “Saya tidak suka basa-basi. Kita kerja profesional. Tapi saya terbuka untuk diskusi.”

Ia melirik Scoups lagi.

Sedetik. Dua detik.

Scoups buru-buru menunduk.
Sial.

Kenapa bos baru seganteng itu?

Siangnya, Scoups dipanggil ke ruang direktur.

“Scoups, ya?”

“I—iya, Pak.” Scoups duduk kaku di kursi seberang meja Mingyu.

“Presentasi kamu pagi ini bagus,” kata Mingyu sambil membaca berkas.

“Analisis pasarnya detail.”

Scoups terdiam. “Terima kasih, Pak.”
Mingyu menatapnya. Kali ini lebih lama.

“Kamu sudah berapa lama kerja di sini?”

“Tiga tahun.”
“Pantas.”
Scoups bingung. “Maksudnya?”

“Kamu punya potensi. Mulai minggu ini, kamu jadi PIC proyek klien besar kita.”

Mata Scoups membesar. “Saya?”

“Iya.”

“Tapi… saya masih staff biasa.”
Mingyu tersenyum tipis. “Sekarang nggak lagi.”
Jantung Scoups rasanya mau copot.

Jake harem [ON GOING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang