mingyu jake

425 27 1
                                        

"HANEUL, kamu mau kaus kaki warna apa, sayang?"
Jake berseru dari dapur sambil memegang dua pasang kaus kaki mungil biru polos dan kuning bergambar dinosaurus. Di meja makan, bekal makan siang sedang ia susun: nasi onigiri berbentuk beruang, telur dadar gulung, dan irisan apel berbentuk bintang.

"Aku mau yang dinosaurus, Momy!" jawab Haneul dari ruang tengah. Bocah enam tahun itu sedang sibuk menata ranselnya, celoteh kecilnya memenuhi udara pagi.

Jake tertawa kecil. “Kalau gitu, kamu harus janji sama Momy nggak lepas-lepasin kaus kaki di sekolah, ya.”

“Janjiiii!” seru Haneul, lalu lari-lari kecil ke dapur.

Momen itu makin hangat saat sepasang tangan besar memeluk Jake dari belakang. Aromanya langsung dikenali—parfum khas Mingyu yang lembut dan sabar. Jake tersenyum, masih memegang kotak bekal di tangan.

“Pagi,” bisik Mingyu pelan di telinganya, lalu mengecup pipi Jake.

Jake menoleh dan memberi senyum manis. “Udah bangun? Katanya tadi mau tidur lagi karena syuting baru selesai jam dua pagi?”

“Aku bisa tidur nanti, tapi aku nggak mau melewatkan pagi bareng kamu dan Haneul.”

Haneul yang melihat mereka berpelukan langsung memekik, “Ayah peluk Momy lagi! Peluk tight! Tight banget!”

Mingyu terkekeh. “Ayo, peluk grup!” Dan mereka bertiga pun memeluk bersama-sama di dapur, seperti ritual pagi mereka setiap hari.

Setelah sarapan cepat, Mingyu menggandeng tangan Haneul, mengenakan topi dan masker. Ia memang publik figur, jadi kadang harus menyamar. Jake hanya mengingatkan, “Jangan lupa simpan bekalnya, ya, Neul. Dan jangan berantem sama Haru lagi.”

“Aku nggak berantem, kok,” kata Haneul dengan bangga. “Cuma bilangin Haru kalau nasi goreng Momy lebih enak dari nasi goreng ibunya!”

Jake menghela napas. “Itu namanya nyindir, sayang.”

_flasback on_

Lima tahun lalu, Jake hanyalah mahasiswa seni rupa yang sedang jadi panitia pameran di kampus. Hari itu ia tidak sengaja menyenggol bahu seseorang tinggi besar yang sedang melihat lukisan cat air di galeri.

“Maaf! Aku nggak lihat,” Jake buru-buru membungkuk.

“Gak apa-apa. Kamu yang gambar ini?” tanya pria itu menunjuk salah satu lukisan bunga matahari di tengah hujan.

Jake mengangguk pelan. “Iya… kenapa?”

“Ini indah banget. Aku bisa ngerasain sedih, tapi hangat. Kayak… rindu yang dijaga baik-baik.”

Jake terdiam. Biasanya orang cuma bilang “bagus”, tapi komentar pria ini dalam banget.

“Aku Kim Mingyu,” ucapnya lalu mengulurkan tangan.

“Jake,” balasnya sambil berjabat tangan.

Sejak itu, mereka sering ngobrol, ngopi bareng, dan akhirnya pacaran diam-diam. Mingyu sudah jadi aktor baru saat itu, jadi hubungan mereka harus hati-hati. Tapi rasa sayang mereka terlalu kuat untuk disembunyikan selamanya. Setelah dua tahun, mereka mengadopsi Haneul, bayi laki-laki yang ditinggalkan di panti asuhan oleh orang tuanya.

Jake langsung jatuh cinta pada bayi itu. “Namanya Haneul ya?” bisiknya waktu pertama kali menggendong. “Langit. Nama yang luas banget.”

_flasback off_

Sore hari, Jake menjemput Haneul dari sekolah. Mereka mampir sebentar ke taman dekat rumah. Haneul bercerita tanpa henti soal kelasnya, main kelereng, dan cerita tentang temannya yang membawa hamster ke sekolah.

Jake harem [ON GOING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang