NOSUNG

177 11 0
                                        

Jisung tuh sebenernya nggak berharap apa-apa dari hari itu.

Hari Senin, hujan gerimis, mood minus, saldo rekening juga ikut-ikutan tipis. Dia cuma pengen duduk tenang di kafe langganan, pesen kopi dingin, terus pura-pura sibuk sama hidupnya sendiri. Headphone nempel di telinga, playlist random, dan hoodie abu-abu andalan yang udah mulai berbulu dikit.

Kafe itu rame tapi nggak berisik. Suara mesin kopi, orang ngobrol pelan, sama hujan yang mukul kaca bikin suasananya pas buat ngilang sebentar dari dunia.

Jisung baru duduk sekitar lima menit waktu ada sesuatu yang narik perhatiannya.

Bukan suara keras.

Bukan juga orang jatoh.

Tapi suara kecil, jelas, dan… salah alamat.

“Momy?”

Jisung otomatis nengok.

Kosong.

Dia mikir, ah mungkin salah denger. Lagu di headset lagi play, mungkin ada lirik yang mirip. Dia balik fokus ke HP, baru mau buka Twitter, pas ada bayangan kecil berdiri di samping mejanya.

“Momy.”

Kali ini lebih jelas.

Jisung kaku.

Pelan-pelan dia nurunin headset, terus ngeliat ke bawah. Seorang anak kecil berdiri di situ. Tingginya nggak nyampe meja, pipinya chubby, rambutnya agak berantakan, dan dia megang cup cokelat panas pake dua tangan.

Anak itu lagi natap Jisung… serius banget.

“Eh… adek?” Jisung nunjuk dirinya sendiri, ragu. “Kamu ngomong sama aku?”

Anak itu langsung senyum lebar. Senyum yang terlalu polos buat situasi seseram ini.

“Iya, Momy.”

Oke. Nggak. Ini jelas salah.

Jisung reflek berdiri setengah. “Bukan, bukan. Kamu salah orang. Aku bukan—”

“Momy Jisung,” potong anak itu enteng.

Jisung beku.

“Ha?”

Otaknya langsung muter ke mana-mana. Ini anak siapa? Kok tau nama dia? Apa dia kenal? Apa dia pernah ketemu sebelumnya? Atau ini prank? Tapi ekspresi anak itu terlalu tulus buat dibilang bercanda.

“Kamu tau namaku dari mana?” tanya Jisung, nadanya pelan tapi waspada.

Anak itu belum sempet jawab, karena ada suara cowok dari belakang yang langsung bikin suasana berubah.

“Lee Keonho.”

Nada suaranya tegas, rendah, tapi nggak bentak.

Anak itu langsung noleh. “Daddy!”

Seorang cowok tinggi berdiri di belakang Keonho. Badannya tegap, bahunya lebar, pake coat hitam panjang yang keliatan mahal tapi dipake santai. Rambutnya rapi, wajahnya dingin, tapi matanya… capek.

Bukan capek fisik. Lebih ke capek hidup.

Cowok itu langsung narik Keonho dikit ke samping, tapi anak itu malah nempel ke Jisung, megang ujung hoodie-nya.

Jisung makin panik.

“Maaf,” kata cowok itu sambil ngeliat Jisung. Suaranya datar tapi sopan. “Anak saya ganggu kamu?”

Jisung buru-buru geleng. “Nggak, nggak. Cuma… dia manggil aku momy.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Cowok itu kelihatan kaget dikit, tapi cepet nutupin. Dia ngeliat Keonho, terus ngusap keningnya.

“Keonho,” katanya pelan. “Jangan manggil orang sembarangan.”

"Tapi ini momy keonho momy jisung"

Jisung dan jeno saling pandang dengan raut kaget

"Kamu tau nama kaka ini dari mana keonho" tanya jeno pada anak semata wayang nya ini.

"Tadi pas kita pesan minuman dady dan keonho nda sengaja dengar nama nya momy" jawab jujur keonho dengan mata bebinar nya.

Jisung hampir ketawa saking absurd-nya situasi ini, tapi lebih ke ketawa stres.

“Adek, kamu salah,” Jisung jongkok biar sejajar sama Keonho. “Aku bukan momy kamu.”

Keonho ngeliat dia lama. Terus manggut kecil. “Iya.”

“Oh syuk—”

“Tapi kakak cantik cocok jadi momy keonho”

Jisung pengen nangis.

Cowok itu ngeluarin napas panjang, terus ngulurin tangan ke Jisung. “Lee Jeno.”

Jisung berdiri dan jabat tangan itu. Tangannya hangat, genggamannya tegas tapi nggak maksa.

“Park Jisung,” jawabnya.

Ada hening canggung beberapa detik. Jeno ngeliatin Keonho yang masih nempel di Jisung.

“Dia jarang suka orang asing,” kata Jeno akhirnya. “Kalau udah nempel gini… susah.”

Seakan ngebuktiin ucapannya, Keonho makin meluk pinggang Jisung.

Jisung cuma bisa senyum kaku. “Dia… lucu.”

Keonho langsung nyengir bangga.

Jeno duduk di kursi seberang Jisung tanpa nanya. Keonho otomatis naik ke kursi sebelah Jisung.

“Daddy, momy duduk sini,” katanya sambil nepuk kursi.

Jeno diem sebentar, lalu duduk juga. “Keonho.”

“Kenapa?”

“Pelan-pelan.”

Keonho nggak peduli. Dia sibuk nyeruput cokelat panasnya sambil sesekali nyenggol tangan Jisung.

Jisung nggak tau harus ngapain. Tapi entah kenapa… dia nggak ngerasa pengen pergi.

“Momy kerja apa?” tanya Keonho tiba-tiba.

“Eh… aku bukan—”

“Kerja apa?” ulang Keonho, serius.

Jisung nyerah. “kakak freelancer.”

“Di rumah?” mata Keonho berbinar.

“Iya.”

“Berarti bisa ikut Keonho.”

Jeno nutup mata sebentar. “Keonho, jangan maksa.”

“Aku nggak maksa dady,” bantahnya. “Aku mau momy tinggal sama keonho.”

Jisung ketawa kecil tanpa sadar. Ada sesuatu dari cara anak ini ngomong yang bikin hati dia anget.

“Maaf,” kata Jeno ke Jisung, nadanya lebih lembut sekarang. “Kalau dia udah pengen sesuatu dia sangat keras kepala.”

“Kelihatan,” jawab Jisung sambil senyum.

Mata mereka ketemu.

Nggak lama. Tapi cukup bikin Jisung ngerasa ada sesuatu yang… aneh. Bukan negatif. Cuma beda.

Keonho berdiri di kursinya. “Momy nanti balik lagi ke sini?”

Jisung refleks jawab, “Mungkin.”

“Janji?”

Jisung nengok Jeno. Cowok itu ngangguk kecil, seolah bilang nggak apa-apa.

“Iya,” kata Jisung. “Janji.”

Keonho senyum puas, lalu duduk lagi.

Saat hujan di luar makin deras, Jisung baru sadar satu hal.

Dia cuma niat ngopi.

Tapi pulang hari itu, hidupnya kayak baru aja belok arah.

Dan entah kenapa… dia nggak keberatan.













Tbc~~
Jangan lupa vote ama komen ya man teman

Jake harem [ON GOING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang