bangchan jungwon

399 19 3
                                        

HANYA CERITA SELINGAN YA


SELAMAT MEMBACA GUYS










Langit sore Kota Seoul berwarna jingga keemasan, memantul di kaca jendela setinggi dua puluh lantai milik salah satu gedung mewah di kawasan bisnis Gangnam. Dari balik kaca itu, seorang pria duduk bersandar di kursi kulit hitam, menatap kosong ke arah jalanan yang dipenuhi mobil-mobil mahal.

Bang Chan.
Nama yang hampir semua orang di kalangan bisnis kenal. Putra sulung dari pemilik Bang Group, konglomerasi yang memiliki belasan anak perusahaan, terutama di bidang properti. Hotel-hotel berbintang, apartemen premium, pusat perbelanjaan megah—semuanya berdiri megah di bawah nama keluarganya.

Namun Chan menatap semua itu dengan mata yang… hampa.

Di luar gedung, papan reklame raksasa memajang wajah cantik seorang wanita paruh baya dengan senyum percaya diri: “Bang Beauty Salon – Tempat Rahasia Kecantikan Para Bintang”. Itu ibunya, Yoon Mira, pemilik salon paling populer di Seoul yang selalu ramai oleh selebritas dan sosialita.

Chan seharusnya bangga.
Seharusnya…

Namun bagi pria berusia 27 tahun itu, semua kemewahan ini hanyalah dinding tinggi yang memisahkannya dari rasa yang paling manusiawi: cinta.

Sejak kecil, Chan sudah terbiasa mendengar kata-kata seperti ‘warisan’, ‘saham’, ‘kontrak’, dan ‘ekspansi’ daripada ‘bahagia’, ‘teman’, atau ‘cinta’.

Setiap pagi, ia bangun bukan karena ingin, tapi karena harus. Bertemu klien, rapat direksi, menghadiri pesta bisnis. Semua langkahnya selalu diawasi oleh sang ayah, Bang Hyunsuk—pria berwajah tegas, yang hanya tahu dua hal dalam hidup: kerja keras dan hasil.

Cinta?
Bagi Hyunsuk, itu hanya kelemahan yang bisa menghancurkan fokus.

Chan pernah jatuh cinta sekali, saat masih kuliah di luar negeri. Namun kisah itu berakhir pahit: dia disakiti, dikhianati, dan akhirnya membangun dinding setinggi langit di dalam hatinya. Sejak saat itu, Chan menutup rapat-rapat pintu untuk siapa pun.

Petang itu, setelah rapat panjang dan menegangkan, Chan memutuskan untuk pergi tanpa supir. Hanya ditemani setelan jas hitamnya, ia berjalan kaki di trotoar yang basah oleh hujan gerimis.

Langkahnya lambat, seolah tak ada tujuan.
Gedung-gedung kaca menjulang, lampu-lampu mobil berkilau. Dunia seolah penuh warna—tapi bagi Chan, semua hanya tampak abu-abu.

“Apa yang sebenarnya kucari?” pikirnya.
Karier? Sudah punya.
Harta? Sudah melimpah.
Nama besar? Sudah terukir.

Tapi hatinya tetap kosong.
Seperti ruang gelap yang tak pernah ia izinkan untuk diterangi siapa pun.

Langkah Chan terhenti di depan sebuah kafe kecil, berdinding bata merah dengan papan kayu yang bertuliskan “Moonlight Cafe”. Tidak mewah. Tidak modern. Hanya terlihat hangat.

Ia menoleh, ragu. Tapi hujan semakin deras. Tanpa banyak pikir, Chan mendorong pintu kaca itu dan masuk.

Suasana di dalam sungguh berbeda dari restoran mahal yang biasa ia datangi. Lampu kuning remang, aroma kopi segar, dan beberapa meja kayu dengan kursi sederhana.

Dan di sana, berdiri seorang pemuda berkulit putih pucat, memakai celemek hitam. Wajahnya manis, rambut hitamnya sedikit basah, mungkin karena baru saja keluar membuang sampah. Mata cokelatnya yang besar langsung mengarah pada Chan, dan ia tersenyum lembut.

Deg.

Chan tertegun.
Hanya sepersekian detik, tapi cukup untuk membuat dadanya terasa aneh. Seperti ada yang mengetuk pintu hatinya yang lama terkunci.

Jake harem [ON GOING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang