Bab 16

792 88 8
                                        

Waktu terus berjalan dengan cepat dentingan jam terus saja berputar seperti bumi yang terus berputar tak ada hentinya walau terlihat begitu capek tapi tetap berjalan semestinya. Jam yang tadinya menunjukkan jam 7.00 wib kini waktu sudah menunjukan pukul 14.30 wib dimana chika sudah pulang sekolah, tapi saat shani mau menjemput sang adik tapi tadi chika menelpon dirinya untuk tidak menjemputnya karena para sahabatnya akan berkunjung ke rumahnya. Jadi shani mengurungkan niatnya dan berganti niatnya menjadi ke dapur untuk membuatkan cemilan seperti brownis dan juga puding buah untuk para sahabat chika.

Shani tidak sendiri ia di bantu oleh sang oma yang kebetulan ingin ke dapur untuk membuat teh untuk dirinya sendiri, tapi saat melihat shani sedang sibuk dengan peralatan dapur aya pun menawarkan bantuan kepada shani.

"Lohh shan nggak jemput adek?" tanya aya.

"Ehhh oma, nggak oma tadi adek telpon shani katanya gak usah jemput dia mau bareng temennya sekalian pada main katanya"jawab shani yang sedang menakar tepung terigu.

"Ohh pada mau main, bagus deh oma juga kangen sama sahabatnya adek"

"Oma juga kangen sama sahabat sahabat kamu shan, sini oma bantu bikin brownisnya" lanjut aya.

"Iya nanti shani suruh ke sini deh kalo pada nggak sibuk, ehh gapapa oma shani aja mending oma istirahat aja" tolak shani secara harus.

"Udah gapapa oma bantu lagian juga oma bosen kalo cuman diem di kamar doang"ucap aya sambil memecahkan beberapa butir telur ke dalam tempat yang sudah di sediakan oleh shani.

Shani yang mendengar itu pun hanya bisa pasrah saja oma nya ini sangat amat keras kepala apa yang di ucap maka itu harus di lakukan, tapi walau pun begitu aya sangat mendukung apa keputusan anak dan cucunya saja karena yang menjalankan kehidupannya itu mereka bukan dirinya. Dirinya hanya bisa berdoa yang terbaik untuk anak dan cucu nya saja. Seperti shani setelah lulus S2 aya menawarkan shani untuk melanjutkan mimpinya tapi shani menolak dengan keras dia sudah bertekad untuk melanjutkan perusahaan sang aya dan sekarang shani sudah menjadi CEO dan memiliki beberapa anak perusahaan.

Yang shani lakukan itu untuk masa depan sang adik jika sewaktu saat chika bingung akan menjadi apa di masa depannya shani tinggal memberikan yang sudah ia tabung. Bohong jika shani tak memikirkan masa depannya dia sudah menyiapkan segala sesuatu untuk dirinya dan juga sang adik, karena gimana pun shani adalah pengganti ayah dan bundanya di keluarga kecilnya sekali pun dirinya menikah disuatu saat nanti shani tak akan meninggalkan dan membiarkan chika sendirian tapi untuk saat ini shani tak memikirkan untuk menikah yang ia pikirkan saat ini adalah chika.

"Shan" panggil aya memecahkan keheningan.

"Iya oma"

"Kamu belum mau punya pacar kah?" tanya aya secara pelan pelan agar shani tak tersinggung.

"Belum oma, shani belum ke pikiran untuk itu lagi pula shani masih mau sendiri sama adek, menghabiskan waktu shani sama adek, mau nikmatin kehidupan shani yang sangat amat tenang ini oma" jawab shani sambil tersenyum.

"Maafin oma ya shan seharusnya di umur kamu yang baru saja beranjak remaja menghabiskan waktu bersama teman temanmu bukannya mengurusi chika yang masih dibilang balita, sehingga kamu menyusui chika" ucap aya yang masih dalam rasa bersalahnya atas apa yang terjadi.

 "Gapapa oma shani udah mengikhlaskan apa yang terjadi di kehidupan shani... Oma jangan merasa bersalah atas kecelakaan itu, karena itu udah takdir yang tuhan tentuin dan untuk adek shani malahan seneng bisa melihat pertumbuhan adek dengan tangan, tenaga dan mata shani. Shani gak pernah merasa terbebani sedikit pun bahkan shani bersyukur banget dan terima kasih karena oma, tante, adek, nenek dan kakek selalu ada untuk shani, DIsaat shani sedang rapuh, kehilangan arah, butuh sandaran kalian selalu ada untuk shani" ucap shani sambil mengelus lengan aya dengan tulus.

Aya yang mendengar semua ucapan shani yang terdengar tulus dan sangat menyentuh hati gimana bisa disaat umurnya yang masih baru remaja saat itu harus belajar dewasa padahal belum waktunya ia dewasakan. Jujur saja aya sangat tersentuh dengan ucapan dari shani, tapi dirinya itu percaya yang berbicara itu bukn dari fikiran shani melainkan dari lubuk hati yang terdalam.

"Oma bangga nak sama kamu shani, saat itu umur mu belum dewasa tapi hati dan fikiranmu sudah sangat dewasa tak memikirkan ego mu sendiri" ucap aya sambil memeluk shani, shani pun membalas pelukan tersebut.

"Terima kasih ya shani kamu selalu kuat dan belajar tegar untuk menjalani kehidupan yang bisa dibilang kejam ini"

"Iya oma sama sama, shani juga terima kasih sama oma karena selalu ada untuk shani" ucap shani lalu melepaskan pelukan itu.

"Jujur pelukan sama oma bisa mengobati rasa rindu akan pelukan bunda dan ayah, bunda ayah shani kangen"batin shani.

dedek chikaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang