Chika dengan sepenuh tenaganya untuk membujuk shani agar tidak marah kepada dirinya kini sudah luluh dengan berbagai jurus andalannya. Dan sekarang chika sedang menyusu kepada shani, sebenarnya shani tak tega untuk tidak memberi sang adik asi tapi dirinya ingin membuat sang adik jera tapi itu tak berlaku lama untuk shani memang sedari dulu shani memang sudah memiliki hati yang lembut.
Tangan shani tak tinggal diam menyingkirkan beberapa helaian rambut chika yang hampir menutupi muka chika. Sedangkan sang empu sedang asik menyedot sumber asi yang dimiliki shani jangan lupa lengan chika yang tak bisa diam kini sudah merayap kebagian wajah shani dengan mata yang masih terjaga.
"Adek tangannya no no ke hidung sayang" tegur shani dengan lembut.
"Eummmm"
"Adek jangan kayak tadi lagi ya masih mending oma gak narik adek ke jepang, kenapa sih nakal banget hmm? izin ke toilet tapi malah jajan junkfood tadinya cici gak mau kasih adek nen lagi"
Plop
"Sowwy cici, jangan salahin adek salahinnya gorengan kenapa ngegoda adek terus"ucap chika dengan pelan tapi masih bisa terdengar oleh shani.
"Gak boleh salahin orang lain karena nutupin kesalahan adek sendiri. Dari awal cici udah ngomong dan larang adek terus adek iyain terus adek langgar cici daftarin adek ke asrama aja ya"
"Ndwaa cwicwi"timbal chika dengan mulut yang sudah tersumpal oleh nippel shani.
"Adek cici omongin baik baik udah, dengan lembut juga udah apa harus pake ketegasan baru adek nurut sama cici?" tanya shani kepada chika dengan cepat chika pun menggelengkan kepalanya sebagai jawabannya.
Chika kali ini takut dengan ancaman dari sang cici karena shani jika sudah memakai cara yang ia ucapkan itu sangat nmengerikan apalagi jika sudah masuk ke mode silent treatment itu sangat mengerikan bagi chika sendiri. Menurut sang oma jika shani sudah masuk ke mode silent treatment itu sangat mirip dengan sang bunda, Karena jika sudah marah memilih mendiamkan orang itu dan mengeluarkan aura dinginnya itu sangat dominan bunda dan kini ia rasakan itu saat shani sedang marah dengannya.
"Tenggorokkannya gatel ndak?" tanya shani sambil mengusap punggung chika dengan lembut.
"Ndwa" timbal chika memang benar untuk saat ini dirinya tak merasakan gatal di tenggorokkanya itu tapi tidak tau nanti, dirinya sudah berdoa didalam hatinya agar tidak sakit untuk saat ini dan seterusnya apalagi seminggu kedepan itu sang oma menginap dirumah mewahnya itu.
"Bener nggak bohongkan sama cici?" tanya shani kali ini untuk memastikan takutnya sang adik menyimpan rasa sakit sendiri tapi sepertinya sang adik tidak berbohonhg karena suhu tubuhnya masih dibilang normal, tidak ada panas di nafas dan badan sang adik.
Plopp
"Cici diem adek mau nen jadi ke ganggu cici ngajak ngobrol mulu ishh" kesal chika.
Chika sangat tidak suka jika sedang menyusu dengan shani diajak mengobrol itu sangat mengganggu menurut dirinya, tapi mau gimana lagi ini kesempatan besar untuk shani untuk bertanya. Karena jika di tanya saat sedang menyusu dengan cepat chika menjawab dengan jujur tanpa ngeles setetes air pun, Walau chika tidak bisa berbohong kepada shani tapi sebelum jujur ia akan memberikan alasan atau pertanyaan untuk mengalihkan pembicaraan.
"Mukanya biasa aja dong, yaudah deh nen lagi langsung bobo ya udah malem" ujar shani, chika pun langsung melahap nippel shani kembali.
Shani yang melihat chika yang sudah mulai mengantuk dengan mata yang sudah terlihat sangat sayu, dengan ke pekaan shani langsung meng pukpuk pelan punggung chika agar sang adik cepat tertidur dan dirinya bisa menyusul chika ke alam bawah sadar.
10 menit telah berlalu kini chika dan shani sudah tertidur lelap dengan mulut chika yang masih aktif menyedot sumber susu langsung dari pabriknya dan shani yang masih setia memeluk chika. Hari ini sangat melelahkan bagi chika katena aktivitasnya yang dibillang padat dengan jadwal sekolah ehh ralat lebih tepatnya bolos, menjemput oma di bandara dan beberapa drama spesial yang di adakan oleh chika sebagai peran utamanya.
Kini aya pun sama ia setelah bersih bersih lalu skincare malam agar wajahnya terawat dan terlihat seperti masih remaja walau umur lansia tapi badan dan jiwa tak boleh lansia. Setelah selesai memakai skincare aya pun pergi dari meja rias dan menuju ke kasur untuk merebahkan badannya tapi sebelum itu aya mengchek hp nya takutnya ada data atau chat dari sang sahabatnya yang berada di jakarta, habis itu ia mematikan hp lalu mengistirahatkan badan dan juga otak aya pun tertidur.
Berbeda dengan friska ia harus kembali ke rumah sakit karena ada pasien tabrak lari padahal dirinya ingin sekali merebahkan dirinya di kasur tapi takdir tak berpihak padanya, tapi saat pagi harinya ia bisa pulang dan merajut matanya ke pulau kapuk untuk seharian tak ada satu pun yang boleh mengganggu waktu tidurnya. Jika berani maka siap siap ATM pelaku akan terkuras dengan cepat untuk membelikan baju, tas, sepatu, lipstik dari brand Channel, Dior, YSL.
Semua orang itu pasti punya rasa capek dari faktor aktivitas sehari hari, pikiran yang terberjalan, belum lagi ada masalah yang harus mereka jalani. Jadi wajar jika mereka mengeluh karena mereka manusia bukan robot. Semua pekerjaan itu mulia di mata tuhan asal itu halal dan juga ridho dari tuhan jadi jangan meremehkan pekerjaan orang lain, jabatan itu hanya sesaat suatu saat bisa turun tapi dimata tuhan itu sama saja hanya manusia biasa yang tercipta dari tanah dan tak luput dari kekurangan atau kelebihan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kini matahari sudah siap untuk menjalankan tugasnya yang memberikan sinar cahaya yang ia punya untuk menyinari dunia untuk permudah manusia melakukan aktivitas seperti biasanya. Sinar matahari itu secara tak sopan masuk tanpa permisi tapi ia memiliki niat yang baik untuk membangunkan pemilik kamar yang masih terbaring dengan tubuh yang terbaluti selimut tebal, sinar itu mengenai manik mata shani membuat ia terbangun dengan badan yang segar.
Ia menundukkan kepalanya dan berpaspasan dengan wajah chika yang terlihat lebih tenang dan juga sendu kenapa saat melihat wajah sang adik hati shani menjadi tenang dan tentram rasanya, dan kenapa shani baru menyadari saat sang adik tertidur mukanya sangat polos tapi saat terbangun ada saja tingkah lakunya yang bikin orang geleng geleng kepala. Tangan panjangnya itu mencari handphonenya yang ia simpan di atas nakas setelah mendapatkan dengan cepat ia menyalakan untuk melihat jam, dan ternyata jam sudah menunjukkan pukul 5.30 wib setelah itu langsung menyimpan kembali hp nya di atas nakas.
Shani pun duduk dan menyandarkan badannya ditumpukan bantal tidurnya merasa nyawanya sudah terkumpul kini shani beranjak dari duduknya lalu ke kamar mandi untuk mandi dan meninggalkan chika yang masih tertidur sambil memeluk guling yang di ganti oleh shani sebagai pengganti badannya. Sedangkan chika masih nyaman dengan mimpinya ntah apa yang ia mimpikan sehingga sinar matahari yang masuk dan menerobos lewat jendala tak terasa oleh mata coklat chika.
Berbeda dengan aya yang membantu bi sum untuk menyiapkan sarapan walaupun sederhana hanya nasi goreng dengan lauknya yaitu ayam goreng dan juga nugget berbentuk dinosaurus milik sang cucu bungsunya, walau sederhana tapi bagi aya ini momen yang sangat berarti baginya menemani kedua cucunya dan juga anak bungsungnya sarapan dipagi hari dan juga menikmati masa masa pensiunnya dari dunia bisnis setelah 15 tahun lamanya untuk menggantikan mendiang almarhum sang suami. Walau sudah digantikan oleh menantunya tapi aya tak lepas tanggung jawab mau gimana pun menantunya itu memiliki perusahaan sendiri yang di bangun dengan jerih payahnya dan itu membuat aya tak mau membebani sang menantunya itu.
Tapi naas takdir tidak ada yang tau sang anak sulung dan juga menantunya itu meninggal dunia saat pergi ke luar kota untuk meting bersama klain aya yang tak bisa aya hadiri. Kita punya ekspetasi tapi tuhan punya skenarionya tak ada yang bisa menghindar dari takdir.
"Bi tumben ya shani belum turun" tanya aya kepada bi sum
"Non shani teh suka turun bareng sama non chika bu" timbal bi sum sambil menyiapkan tiga cangkir teh dan juga segelas susu asi yang sudah di hangatkan.
"Ohhh gitu ya bi, ini nasi gorengnya udah tolong siapin di meja makan ya bi, saya mau bangunin chika adek dulu kayaknya belum bangun deh tuh anak takutnya kesiangan lagi nanti berangkat sekolahnya" ujar aya
"Siap bu, mau sekalian buah potongnya gak bu?" tanya bi sum karena biasanya jika ada aya selalu ada buah potong sebagai makanan penutupnya.
"Boleh deh bi, ada apa aja buahnya di kulkas?"
"Ada blueberry, stowberry, anggur, mangga, alpukat, melon, semangka sama pepaya. soalnya non shani kalo belanja buah gimana non chika mau buah apa" timbal bi sum.
"Untuk adek sama shani buah mangga sama pepaya, kalo buat saya melon aja terus kalo buat mpris anggur sama alpukat aja ya bi"
"Siap bu"
"Maaf ya bi ngerepotin" ucap aya karena tak enak terhadap bi sum.
"Ahh gapapa atuh bu ini teh pan kerjaaan bibi"
"Sekali lagi tolong ya bi, yaudah saya ke atas dulu ya mau bangunin si bontot dulu"
"Iya bu"
Setelah itu aya pun langsung pergi meninggalkan dapur dan berjalan menuju lantai dua untuk membangunkan chika di kamar shani. Kenapa aya tau jika chika tidur dengan shani karena filing saja apalagi chika jika tidur harus menyedot susu dri sumbernya langsung walau punya kamar sendiri tapi tetap saja jika tidur pasti ngintil shani, dimana ada shani disitu ada chika.
