Bab 17

610 105 5
                                        

Chika dan shani yang kini sudah berada di kamar chika untuk membersihkan badannya yang di temani oleh shani, yap shani dan chika meninggakan para sahabat chika dengan friska yang tengah menonton film di ruang tv. jadi shani mengajak chika untuk membersihkan di kamar mandi dan chika pun mengiyakan lagi pula ia merasa bahwa dirinya itu sangat lengket, sedangkan shani sedang menyiapkan baju yang akan di pakai chika.

"Duhhh kayaknya adek bajunnya pada kecil apa badan dia ya yang udah gede?" gumam shani tak terasa dirinya sudah merawat chika sudah sejauh ini dari yang baru bisa merangkak sampai bisa berlari dan sudah sekolah menengah atas.

"Adekkk cepetan mandinya udah mau malem" ucap shani dari depan pintu kamar mandi.

"Bentar cici adek masih menjalankan ritual" teriak chika dari dalam kamar mandi.

"Jangan lama lama dek, takutnya masuk angin nanti" timbal shani.

"Tenang aja ci adek kan ultramen"

Shani yang mendengar jawaban dari chika pun hanya bisa menggelengkan kepalanya benar benar jiplakan almarhum sang ayah yang sangat keras kepala, tak bisa di biarkan jika seperti ini bisa bisa chika akan keluar 2 jam lagi dengan cepat shani pun membuka pintu kamar mandi.

Dan benar saja kini chika yang sedang anteng berendam dengan beberapa mainan yang penuh dengan busah sabun mandi yang sering ia gunakan. Shani? ia sedikit kaget ini kah yang dinamakan ritual harian yang di lakukan sang adik? ritual berendam dengan air sabun ditambah dengan mainan kecil, seketika kepala shani begitu sakit dan hanya bisa memijat pangkal hidungnya yang sedikit terasa sakit saat melihat kelakuan chika yang di bilang sudah masuk usia remaja tapi? ini benar benar anak yang baru saja berumur 5 tahun.

"Astagaa adekkk kenapa malah berendam ya tuhan!!!!" tegur shani kepada chika, sedangkan yang di tegurnya terkejut lalu tersenyum polosnya menatap shani yang tengah memijat pelipisnya.

"Kenapa cici?" tanya chika dengan polosnya.

'kenapa? seriusly dia nanya kenapa? ohh Omg salah apa saya tuhan' batin shani.

"Adek kenapa malah berendam bukannya mandi hmm?" tanya shani dengan lembut dan ekstra kesabaran tanpa batas.

"kan adek gerah cici jadinya adek berendem" jawab chika membuat shani semakin mengelus dadanya untuk tetap waras dan juga sabar.

"Tapi jangan berendam juga sayang, kan di bawah ada temen adek lagi pada main nanti malah nungguin adek terus pada pulang gimana?" ucap shani sambil mendekatkan dirinya ke bathtub.

"Ndak akan cici kan mereka mau nginep" timbal chika yang masih tetap memainkan busah sabun.

"Nggak.. Nggak adek harus mandi sekarang, ayok cici mandiiin" ucap tegas shani membuat chika cemberut sebisa mungkin dirinya harus mandi sendiri karena malu jika shani yang memandikan dirinya yang sudah masuk usia remaja.

"Ndakk mau cici, adek mandi sendiri aja cici tunggu di luar" bujuk chika.

"Bener ya mandi cici tungguin diluar kalo adek nggak keluar keluar cici mandiin adek" ancam shani kali ini benar benar membuat chika harus menahan malunya.

"Iya cici, huss huss sana adek malu"ujar chika dengan halus mengusir shani.

Mau tak mau shani harus keluar dari kamar mandi dan membiarkan sang adiknya mandi dengan sendiri. Tak menyangka ternyata sang adiknya itu sudah mulai beranjak dewasa tapi di hati dan mata shani chika masih anak kecil yang masih membutuhkan dirinya tapi rasanya shani tak merelakan banhwa adiknya itu sudah masuk ke fase dimana usia remajanya masuk ke dalam hidup adiknya itu, tapi mau gimana lagi walau hatinya tak bisa merelakan itu tapi shani harus bisa menerima kenyataannya.

dedek chikaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang